Pukul setengah enam pagi, langit masih warna abu-abu tipis. Azan baru selesai. Embun belum turun dari daun mangga.
Naga berdiri di depan cermin retak di kamar. Tangannya merapikan kerah kaus yang sudah pudar. Di atas meja kayu, ada tas kain. Warnanya dulu hijau, sekarang hampir abu-abu. Jahitannya dibetulkan di tiga tempat. Tapi tas itu selalu dicuci, dilipat rapi.
Ia menyampirkan tas itu ke bahu. Langkahnya pelan ke teras. Dua daun pintu dibuka lebar, seperti biasa. Lampu teras masih menyala.
Baru turun satu anak tangga, suara motor terdengar dari ujung gang. Pelan. Kayak takut ganggu orang tidur.
Motor itu berhenti di depan pagar. Murad. Jaketnya tipis, rambutnya belum disisir.
Murad mematikan mesin. “Pak, mau ke mana pagi-pagi?”
Naga menepuk tas kainnya. “Belanja.”
“Naik apa?”
“Kaki.”
Murad tertawa. “Jauh, Pak. Pasar Ujung.” Ia menunjuk jok belakang. “Saya antar pakai motor.”
Naga berpikir sejenak. Matanya ke motor, lalu ke kakinya sendiri, lalu ke langit. “Kalau motornya capek?”
Murad ketawa lagi, lebih lepas. “Motor nggak bisa capek, Pak. Bensinnya aja yang habis.”
“Ya sudah.” Naga mengunci pintu. Padahal tidak pernah dikunci. Tapi hari ini ia putar anak kuncinya sekali. “Kamu yang bawa. Saya nggak bisa.”
Murad mengangguk. Naga naik, duduk menyamping. Tas kain dipeluk di depan.
Motor jalan pelan. Melewati rumah-rumah yang kemarin masih ada pintunya, hari ini tinggal kusen. Melewati tanah lapang yang minggu lalu masih ada warung, sekarang jadi tumpukan bata.
“Pelan-pelan,” kata Naga. “Jalan masih banyak lubang.”
“Sudah hapal, Pak.”
Sampai di Pasar Ujung, jam enam kurang. Pasar sudah rame. Tapi belum padat. Bau ikan, bau sayur, bau kopi, campur jadi satu.
Naga turun. Kakinya langsung nyari tanah, bukan aspal. Ia melipat tas kain, mengecek isinya. Dompet tipis, catatan belanja ditulis pakai pensil di kertas bekas.
Baru dua langkah, suara dari lapak sayur.
“Naga! Tumben pagi-pagi!”
Bu Yuni, penjual bayam. Tangannya lincah ngikat bayam pakai tali rafia. Ia lempar satu ikat ke arah Naga. Naga nangkap, pas.
“Ini masih seger. Metik jam empat.”
Naga ngeluarin dompet. “Berapa, Yun?”
“Udah. Buat kucing kamu.” Bu Yuni nunjuk ke kucing oren yang tidur di bawah meja. “Kemarin kamu kasih ikan. Sekarang giliran aku.”
Naga nggak maksa bayar. Cuma ngangguk. “Makasih.” Dimasukin ke tas kain.
Mereka jalan lagi. Di lapak ikan, Pak Darman udah nyiapin plastik. Isinya ikan kembung kecil-kecil, nggak laku dijual karena kekecilan.
“Ambil, Nag.” Pak Darman nyodorin. “Buat yang di rumah.”
Murad bingung. “Yang di rumah?”
Naga nerima plastik. “Kucing.” Terus ke Pak Darman, “Nanti aku bawain mangga.”
Pak Darman ketawa. “Manggae kamu kecut. Tapi nggak apa-apa.”
Di ujung, ada nenek-nenek jual bunga. Namanya Mbah Siti. Matanya rabun, tapi hapal suara.
“Naga, ya?” Mbah Siti meraba-raba. “Sini.” Dimasukin bibit kenanga ke tangan Naga. “Tanam di depan. Biar wangi.”
Naga genggam tangan Mbah Siti. “Sehat, Mbah?”
“Kalau Naga belum lewat, rasanya pasar belum pagi.”