NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #5

BAB 5 - Perempuan yang Mencari Tempat Berteduh

Pukul setengah empat sore. Langit yang tadi bening mulai ditarik kain abu-abu. Angin naik dari barat, bawa bau tanah yang mau basah.

 

Di halaman, Naga mengangkat jemuran. Kaos. Sarung. Dua handuk. Yang satu warna putih, tebal, lipatannya rapi. Handuk itu tidak pernah dipakai. Tapi selalu dicuci, selalu dijemur. Berdiri di sampingnya.

 

Murad duduk di bangku teras. Kursi kiri. Sudah tiga hari kursinya di situ. Di depannya, gelas kosong bekas kopi kedua.

 

“Lagi enak-enaknya duduk,” kata Murad, lihat awan. “Malah mau hujan.”

 

Naga taruh handuk putih ke tas kain yang disampirkan di bahu. Tasnya hijau pudar, jahitannya tiga tempat. “Mangga yang minta.” Ia senyum. “Katanya haus.”

 

Murad ketawa. “Pohon bisa ngomong?”

 

“Bisa.” Naga tutup pintu belakang, tapi tidak dikunci. “Cuma kita yang nggak denger.”

 

Angin kencang. Daun mangga rontok, muter-muter. Lampu teras yang dari pagi menyala jadi goyang.

 

Tetes pertama jatuh di seng. Tik. Terus dua. Tik. Tik. Terus ribuan.

 

Hujan.

 

Hujan pertama musim ini.

 

Di ujung gang, suara mobil. Ngeden. Kayak orang asma. Terus batuk. Terus mati.

 

Kap mesinnya ngebul tipis. Pintu supir kebuka. Keluar perempuan. Blazer krem. Rok hitam. Sepatu hak tiga senti. Rambut sebahu langsung basah setengah.

 

Dia dorong pintu mobil, biar nggak nutup jalan. Badannya ikut dorong bodi mobil ke pinggir. Pelan. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Karena kaget.

 

Naga lihat dari teras. Tidak teriak “mampus kehujanan”. Tidak lari-lari. Ia masuk ke dalam.

 

Keluar lagi bawa payung. Hitam. Gagang kayu. Payung itu selalu di belakang pintu. Bukan punya Naga. Punya siapa saja yang butuh.

 

Murad berdiri. “Pak, biar saya—”

 

Naga sudah jalan. Lewat halaman. Lewat genangan. Kakinya telanjang.

 

Sampai di pinggir jalan, ia buka payung. Diangkat tinggi. Tidak di atas kepalanya. Di atas kepala perempuan itu.

 

Perempuan itu nengok. Air hujan di bulu matanya.

 

“Mbak…” Kata Naga. Suaranya pelan, tapi sampai. Kalah sama hujan, tapi sampai. “Berteduh dulu.”

 

Perempuan itu pegang gagang pintu mobil. Kuku pinknya putih karena dingin. “Tidak usah, Pak. Saya tidak enak. Mobil saya mogok. Nanti ngerepotin Bapak.”

 

Naga geser payung. Bahu perempuan itu sekarang kering. “Hujan nggak pernah pilih orang.” Ia nunjuk rumahnya pakai dagu. Air netes dari ujung payung. “Rumah juga jangan sungkan.”

 

Perempuan itu lihat ke rumah. Dua daun pintu terbuka lebar. Lampu teras kuning. Di dalamnya hangat.

 

Dia ngangguk. “Terima kasih.”

 

Mereka jalan ke teras. Berdua. Satu payung. Naga yang pegang. Badannya setengah basah.

 

Sampai teras, Naga tutup payung. Disandarkan ke tembok. Air langsung jadi kolam kecil di lantai.

 

“Masuk.”

 

Perempuan itu lepas sepatu. Ragu. Lantainya kayu. Basah nanti.

 

Murad sudah di anak tangga kedua. Di tangannya handuk putih. Yang tadi Naga lipat.

 

“Pakai ini, Mbak.” Murad nyodorin. “Bersih.”

 

“Terima kasih.” Suaranya kecil. Ia ambil. Ngelap rambut. Ngelap muka. Ngelap lengan.

 

Naga sudah di dapur. Suara teko enamel ketemu kompor.

 

Perempuan itu duduk di kursi kanan. Yang kayu gelap. Yang biasanya kosong.

 

Murad duduk di kiri. Di antara mereka ada meja. Di atas meja ada lampu minyak. Belum dinyalakan.

 

“Namanya siapa, Mbak?” Murad tanya. Tangannya dingin. Dia kenal wajah ini. Dari foto di website perusahaan. Dari billboard.

 

“Kirana.” Perempuan itu senyum. Tipis. Masih kaget. “Kirana Dewi.”

 

“Saya Murad.” Murad tidak bilang belakangnya. “Teman Pak Naga.”

Lihat selengkapnya