Pukul delapan pagi.
Lantai kantor Harmony District mengilap. Dingin. AC bunyi pelan, kayak napas orang tidur. Di luar kaca, Jakarta masih abu-abu sisa hujan semalam.
Murad buka pintu kaca. Bel pintu bunyi. Ting.
Resepsionis nengok. “Eh, Pak Murad. Akhirnya nongol.”
Murad senyum. Tipis. “Iya, Mbak.”
“Ke lapangan terus ya?” Mbak Resepsionis kasih kartu absen. “Sampai gosong.”
Murad nggak jawab. Tangannya ambil kartu. Gesek. Bunyi. Bip.
Lift naik ke lantai 12. Di dalam, cermin. Murad lihat dirinya. Kemeja biru. Rapi. Tapi matanya… kayak kurang tidur. Padahal tidur jam sepuluh.
Di meja, sudah ada tumpukan map. Post-it kuning nempel: Update Lapangan Sektor C.
Rekannya, Dito, nongol dari kubikel. “Bro. Akhirnya pulang kandang.”
Murad taruh tas. “Heeh.”
“Gimana? Sektor C udah beres semua?”
Murad buka laptop. Layar nyala. Wallpaper: maket gedung-gedung putih. “Belum.”
Dito duduk di meja Murad. “Yang rumah kayu itu? Bandel juga ya.”
Murad diem. Tangannya buka map. Di dalam ada foto udara. Kotak-kotak tanah. Semua dicentang hijau. Satu kotak di tengah: merah.
“Lu tiap hari ke sana, kan?” Dito nyolek bahu Murad. “Ngopi mulu katanya. Enak dong deket sama Bapak-bapak.”
Murad nutup map. “Kerja, Dit.”
“Yaelah. Bercanda.” Dito berdiri. “Jam sepuluh rapat sama Bu Kirana. Jangan telat. Lu yang megang datanya.”
Jam sepuluh kurang lima.
Ruang rapat kaca. Meja panjang. Kursi item. Di dinding, layar 80 inch.
Kirana masuk. Blazer krem. Sama kayak kemarin. Tapi rambutnya kering. Rapi. Wangi kopi dan parfum tipis.
“Pagi semua.” Suaranya jelas. Tidak keras. Tidak pelan. Pas.
Semua berdiri. Terus duduk.
Kirana colok flashdisk. Di layar muncul Masterplan Harmony District Tahap 2.
Gambar. Taman. Jalur sepeda. Danau buatan. Sekolah. Klinik. Drainase. Semua warna. Semua rapi.
“Kita mulai,” kata Kirana. Ia pegang laser pointer. Titik merah jatuh di layar. “Fokus minggu ini: ruang terbuka hijau.”
Ia jalan pelan. Nunjuk area taman. “Lebar 2 hektar. Ada jogging track. Ada taman bermain. Pohon yang kita tanam bukan sembarang. Tabebuya. Ketapang kencana. Biar teduh, tapi akar tidak rusak drainase.”
Manajer proyek manggut-manggut. “Biaya?”
“Sudah masuk.” Kirana ganti slide. Tabel. “Fasilitas umum 30% dari total lahan. Sesuai komitmen kita ke Pemda.”
Murad lihat Kirana. Tangannya gerak. Matanya fokus. Tidak ada galak. Tidak ada dingin. Tapi semua orang denger.
“Air,” kata Kirana. “Kita pakai sumur resapan. Tiap blok wajib punya. Banjir harus nol.”
Dito bisik ke Murad. “Gila. Detail banget.”
Murad ngangguk.