Jam sebelas siang. Matahari sudah di atas kepala. Tapi bayangan pohon mangga bikin teras rumah Naga tetap teduh.
Dua daun pintu terbuka lebar, seperti biasa. Lampu teras sudah mati. Diganti lampu minyak yang semalam dipakai Kirana, sekarang sudah dipadamkan, disimpan di laci bawah meja.
Di dapur, suara ulekan. Tek. Tek. Tek.
Naga ngulek cabai. Cabai rawit merah, bawang putih, garam, terasi bakar. Tangannya cekatan. Keringat netes dari pelipis, tapi dia tidak lap. Bau sambal naik, pedas, nendang sampai ke teras.
Dari gang, suara motor. Pelan. Kayak takut ganggu.
Motor berhenti di depan pagar. Murad turun. Di belakangnya, Kirana. Hari ini pakai kemeja putih, celana bahan hitam. Tidak ada blazer. Rambutnya dikuncir. Lebih santai. Tapi matanya masih ragu.
Murad garuk kepala. Belum bilang apa-apa ke Kirana. Belum bilang apa-apa juga ke Naga. Tadi di kantor cuma bilang, “Mau ke rumah teman. Mau makan siang?” Kirana ngangguk.
Naga keluar dari dapur. Tangan bau bawang. Di celemeknya ada bekas tepung.
Dia lihat Murad. Lihat Kirana. Tidak kaget. Tidak angkat alis. Kayak sudah tahu dari kemarin.
“Tambah satu?”
Murad senyum. Canggung. Tangannya megang helm. “Iya, Pak.”
Naga ngelap tangan di celemek. “Bagus.” Ia nunjuk ke dapur pakai dagu. “Sayurnya jadi nggak kesepian.”
Kirana yang dari tadi tegang, ketawa kecil. Pertama kali. Bukan senyum sopan. Ketawa beneran. Matanya ikut ketawa.
“Masuk,” kata Naga. “Sendal di anak tangga kedua.”
Kirana nurut. Lepas sepatu. Murad sudah hapal.
Di dapur, panci di kompor sudah ngebul. Isinya sayur lodeh. Santannya belum masuk. Di talenan, bawang merah masih utuh. Di bakul, kemangi belum dipetik.
Naga tidak nawarin duduk. Tidak bilang “silakan”. Dia kasih pisau ke Murad. “Iris bawang.”
Terus ke Kirana. “Di belakang ada kemangi. Ambil yang pucuknya aja. Yang muda.”
Kirana bengong. “Saya?”
“Yang lain lagi sibuk.” Naga nunjuk ke dirinya sendiri, lagi ngulek. “Saya jaga sambal. Nanti gosong.”
Kirana senyum. “Baik.”
Dia ke belakang. Lewat pintu samping. Di sana ada petak kecil. Kemangi. Cabai. Sereh. Tanahnya hitam. Basah. Ada sarung tangan kebun digantung di paku. Ada cangkul tua bersandar di tembok.
Kirana jongkok. Metik pucuk kemangi. Baunya naik. Wangi. Kayak ingatan lama yang tidak tahu dari mana.
Di dapur, Murad ngiris bawang. Matanya perih. “Pak, ini berapa biji?”
“Lima.” Naga cicip sambal pakai ujung jari. “Kurang garam.”
Murad ngelap mata pakai punggung tangan. “Bapak dulu yang masak di rumah?”
“Ibu.” Naga tambah garam. “Saya bagian bakar ikan.”
Kirana balik. Bawa segepok kemangi. “Segini cukup, Pak?”
Naga lihat. “Kebanyakan.” Terus ambil setengah. “Yang ini buat besok.”
Tidak ada “terima kasih”. Tidak ada “wah pinter”. Cuma ambil. Kayak keluarga.
Jam dua belas kurang. Meja makan bundar sudah siap. Tiga piring. Tiga gelas. Teko enamel biru gompel di tengah.
Nasi di bakul. Lodeh di mangkuk besar. Ikan asin di piring kecil. Sambal di cobek, masih di ulekan. Kemangi di piring ceper.
Duduk. Naga di utara. Murad di timur. Kirana di barat. Tidak ada yang di selatan. Kursi itu kosong. Kayu gelap.
“Bismillah,” kata Naga.
Mereka mulai makan.
“Ini resep siapa, Pak?” Murad nanya, sambil ngipas-ngipas mulut. Kepedasan.
“Ibu.” Naga nambah nasi. “Katanya santan nggak boleh pecah. Apinya kecil.”