NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #8

BAB 8 - Halaman yang Dibersihkan Bersama

Sabtu pagi. Jam tujuh lewat sedikit. Langit bersih, biru. Belum ada awan. Tapi udara sudah bau hujan yang kemarin sore.

Di halaman rumah Naga, sapu lidi bergerak. Srek. Srek. Srek.

Naga pakai kaus putih yang sudah tipis di kerah. Sarung dilipat sampai lutut. Kakinya telanjang. Daun mangga semalam banyak jatuh. Hujan bikin rontok.

Dari gang, suara langkah. Dua orang.

Murad datang duluan. Di tangan kanannya, sapu ijuk baru. Masih ada label harganya. Di tangan kiri, kantong plastik isi gorengan.

Di belakangnya, Kirana. Pakai kaus biru, celana jins, sepatu kets. Di tangannya ada kotak mika. Kue bolu pandan. Masih hangat, plastiknya ngembun.

Naga berhenti nyapu. Lihat mereka. Sapu diangkat, disandarkan ke dagu.

“Lho…” katanya. “Rumah ini buka lowongan petugas kebersihan?”

Murad ketawa. “Kami daftar, Pak.”

Naga nunduk, lihat sapu Murad. “Gajinya mahal.”

Murad kaget. “Berapa?”

Naga nunjuk ke dapur pakai jempol. “Segelas kopi.”

Kirana yang dari tadi nahan senyum, akhirnya ketawa juga. Lepas. “Kalau gitu saya bayar duluan.” Dia angkat kotak kue. “DP-nya bolu.”

Naga ambil kotak itu. Dibuka dikit. Diendus. “Masih anget. Diterima.”

Murad taruh gorengan di meja teras. “Kalau saya?”

Naga ambil sapu ijuk dari tangan Murad. Ditimbang. “Kamu bagian berat.”

Sapu lidi dikasih ke Kirana. “Yang ringan.”

Kirana terima. “Saya nggak pernah nyapu halaman.”

“Bagus.” Naga jongkok, pungut daun. “Berarti hari ini pertama kali.”

Mereka mulai. Murad di kiri. Naga di tengah. Kirana di kanan.

Murad nyapu kayak dikejar setan. Cepat. Kuat. Debu naik. Daun yang sudah ngumpul malah terbang lagi, muter, jatuh di tempat Kirana.

Naga berhenti. Lihat ke Murad. Terus ke daun yang terbang.

“Daunnya protes,” katanya.

Murad berhenti nyapu. “Hah?”

Naga nunjuk daun yang muter-muter. “Katanya belum siap pindah.”

Kirana ngakak. Sapunya jatuh. Dia pegang perut. “Pak Naga…”

Murad garuk kepala. Mukanya merah. “Ya maaf. Biasa ngepel kantor. Bukan nyapu.”

“Di sini nggak ada bos.” Naga ngambil sapunya lagi. “Adanya angin. Kalau angin marah, daun balik lagi.”

Kirana ngambil sapunya. Sekarang pelan-pelan. Ikut irama Naga. Srek… srek…

Lima belas menit, halaman bersih. Daun ngumpul di tiga tumpuk.

“Bagus,” kata Naga. “Sekarang pagar.”

Pagar bambu di kiri doyong. Satu bilahnya lepas.

Naga ambil tali ijuk dari dalam. Murad bantu pegang bambu. Kirana ngambilin tali.

“Bapak dulu tukang?” tanya Kirana. Tangannya ngikat simpul. Rapi.

Naga geleng. “Bapak saya.”

“Oh.” Kirana diem. Terus, “Ibu saya juga. Suka benerin sendiri. Nggak mau manggil tukang.”

Naga ikat terakhir. Kencang. “Ibu sekarang di mana?”

Kirana senyum. Kecil. “Di rumah.”

Naga ngangguk. Tidak nanya lagi.

Pagar beres. Jam delapan lebih.

Lihat selengkapnya