NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #9

BAB 9 - Rumah yang Dicari Saat Orang Kehilangan Arah

Pukul empat sore. Minggu.

Langit cerah. Tidak ada awan. Tapi angin kencang. Daun mangga rontok lebih banyak dari biasanya. Jatuh di halaman, muter, diam.

Di depan pagar bambu, Murad turun dari motor. Helm di tangan. Kemejanya rapi, tapi kusut di punggung. Tadi dari kos, niatnya cuma lewat. Tidak janjian. Tidak ada WA. Kakinya saja yang belok sendiri.

Dari arah berlawanan, suara langkah. Pelan. Ragu.

Kirana.

Pakai jeans, kaus putih, kardigan biru. Tidak ada blazer. Rambutnya diikat. Di tangan, kantong kertas. Isinya entah.

Mereka ketemu pas di depan pagar. Sama-sama berhenti.

Murad kaget. “Kamu… juga ke sini?”

Kirana senyum. Malu. Matanya ke tanah, terus ke pintu rumah yang dua daunnya terbuka lebar seperti biasa. “Iya…” Katanya. “Entah kenapa.”

Murad nggak jawab. Dia juga nggak tahu kenapa kakinya ke sini.

Dari dalam, suara ulekan. Tek. Tek. Tek.

Naga.

Mereka masuk. Tidak ketuk pintu. Sandal dibuka di anak tangga kedua. Sudah hapal.

Naga di dapur. Lagi ngulek sambal. Sama kayak kemarin. Sama kayak minggu lalu. Sama kayak tahun lalu, mungkin.

Dia nengok. Lihat Murad. Lihat Kirana. Tidak kaget. Tidak tanya “kok bareng”.

Cuma ngangguk. “Sudah makan?”

Murad geleng. Kirana juga.

“Duduk.” Naga nunjuk ke teras pakai ulekan. “Anginnya enak.”

Mereka duduk. Murad di kursi kiri. Kirana di kanan. Kursi selatan kosong. Kayunya hitam.

Lima menit sunyi. Cuma suara ulekan sama daun bergesekan.

Dari gang, suara lari. Cepat. Napas putus-putus.

“Pak Naga! Pak Naga!”

Perempuan. Umur 25-an. Gendong anak. Umur dua tahun. Kain jarik, muka pucat, kaki tanpa sandal.

Anaknya lemas. Kepala di bahu ibunya. Mata merem. Bibir kering.

Ibu itu berhenti di teras. Napasnya satu-dua. “Pak Naga… Naya panas… Puskesmas tutup… Bidan Bu Tini ke kota… Suami belum pulang…”

Naga taruh ulekan. Lap tangan di celemek. Tidak panik.

“Sini.”

Ibu itu naik. Duduk di lantai teras. Kayu dingin.

Naga jongkok. Punggung tangan ke jidat anak itu. Panas.

“Berapa lama?”

“Dari subuh, Pak.” Suara ibu itu pecah. “Udah dikasih obat warung. Nggak turun.”

Naga berdiri. Masuk. Keluar lagi bawa baskom kecil, handuk kecil, air mateng di gelas.

Dia buka lemari di bawah meja teras. Laci bawah.

Di dalam, kotak. Kaleng. Bekas biskuit. Tapi bersih. Catnya biru, gambar kapal.

Dibuka.

Isinya: perban. Betadine. Minyak kayu putih. Termometer raksa. Obat merah. Kapas. Semua rapi. Berbaris. Kayak toko.

Murad berdiri. “Pak, saya ambil—”

“Duduk.” Naga potong. Tidak galak. Tapi tegas. “Ambilkan handuk di jemuran. Yang putih.”

Lihat selengkapnya