NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #10

BAB 10 - Hari Rumah

Pukul empat sore. Minggu.

Langit bersih, tapi angin kencang. Daun mangga yang kemarin sudah disapu, hari ini jatuh lagi. Kayak sengaja. Kayak mau bilang: aku juga ikut acara.

Di teras, Naga tidak nyapu.

Dia masak.

Di dapur, panci paling besar sudah naik kompor. Isinya air, mendidih. Di meja, tumpukan sayur: kacang panjang seikat, labu siam tiga, jagung lima, bayam dua ikat, tempe satu papan, tahu sepuluh. Di lantai, beras 5 liter di ember.

Di halaman belakang, tungku batu bata dinyalain. Asap tipis. Di atasnya, dandang.

Murad datang duluan. Bawa sapu. Sama kayak kemarin. Tapi hari ini sapunya dua. Satu buat dia, satu buat Kirana, katanya.

Dia berhenti di pagar. Lihat dapur ngebul. Lihat halaman.

Naga keluar, bawa baskom. Lihat Murad.

“Pak, ada acara?” Murad tanya. Sapu diangkat.

Naga nuang air ke baskom. “Hari Rumah.”

Murad bingung. “Hari Rumah?”

Naga jongkok, cuci kacang panjang. “Rumah juga capek.” Air dari keran netes ke tangannya. “Sekali setahun harus dibikin senang.”

Murad ketawa. Kecil. Tapi matanya ikut.

Dari ujung gang, suara mobil pelan. Berhenti.

Kirana turun. Hari ini pakai kemeja kotak-kotak, lengan dilipat. Tidak ada blazer. Tidak ada tas kerja. Cuma tas kain. Kayak punya Naga, tapi masih baru.

Dia lihat Murad. Lihat Naga. Lihat dapur ngebul.

“Siang, Pak.”

Naga noleh. “Siang.” Tangannya terus cuci sayur. “Masuk. Sendal di anak tangga kedua.”

Kirana nurut. Lepas sepatu.

Murad bisik ke Kirana, sambil senyum. “Hari ini rumahnya ultah.”

Kirana angkat alis. “Ultah?”

Naga denger. “Bukan ultah.” Dia peras kacang panjang. “Rumah nggak punya tanggal lahir. Punyanya tanggal ditempatin.”

Jam setengah lima.

Orang pertama datang.

Bu Yuni. Bawa tampah. Isinya kerupuk udang. Masih panas. Minyaknya masih bunyi.

“Pak Naga, saya telat?”

Naga terima tampah. “Belum. Baru mulai.”

Bu Yuni duduk di teras. Tidak salaman. Langsung buka cerita.

Lima menit kemudian, Pak Darman. Bawa ember. Isinya ikan lele. Masih hidup.

“Buat digoreng, Nag.” Ditaruh di samping sumur. “Anak saya yang nangkap.”

Terus Pak RT. Bawa pisang goreng satu nampan. “Istri nitip.”

Terus Mbah Siti. Jalan pelan, dituntun cucunya. Bawa sambal buatan rumah, di toples bekas selai. “Cabe dari kebon sendiri, Nag.”

Tidak ada undangan. Tidak ada WA grup.

Jam lima, teras sudah penuh. Sepuluh orang. Dua belas. Lima belas.

Anak-anak lari-lari. Bawa layangan putus. Orang tua duduk di tikar yang digelar Naga dari dalam. Muda-muda bantu ngupas bawang di belakang.

Kirana berdiri di pintu dapur. Bingung.

Naga kasih dia buku. Tua. Sampulnya kulit, sudah lepas di ujung. Kertasnya kuning. Benangnya kelihatan.

“Kalau datang ke sini…” Kata Naga. “Tulis satu harapan.”

Kirana terima. Berat. Bukunya berat.

Dia buka.

Halaman pertama: 2005. Tulisan tangan beda-beda.

Semoga Ibu cepat sembuh. – Tini

Semoga anak saya lulus SMP. – Karso

Semoga tahun depan masih bisa makan di sini. – Udin, 8 tahun

Semoga dagangan rame. – Bu Yuni

Semoga bapak pulang. – Tanpa nama

Kirana baca pelan. Jarinya nyentuh kertas.

Murad di sampingnya, ngiris bawang. Matanya merah. Bukan sedih. Kena bawang.

Kirana ambil pulpen. Yang digantung di buku pakai benang kasur.

Lihat selengkapnya