Pukul delapan pagi. Selasa.
Langit Jakarta putih, bukan biru. AC kantor Harmony District bunyinya lebih kencang dari biasanya. Kayak mesin napas orang asma.
Di ruang rapat lantai 14, layar besar sudah nyala. Peta proyek. Kotak-kotak. Semua hijau.
Kecuali satu.
Di tengah. Merah. Kecil. Tapi paling terang.
Direktur, Pak Hanif, berdiri. Jas abu-abu. Dasi merah. Tangannya di saku.
“Semuanya sudah hijau,” katanya. Laser pointer muter di layar. “Tinggal ini.” Titik merah kena sinar. “Saya ingin minggu ini selesai.”
Ruangan dingin. Tapi kening Dito, manajer proyek, basah.
Kirana duduk di ujung. Kemeja putih. Rambut diikat. Di depannya, buku catatan kosong. Pulpen belum dibuka.
Murad di sebelahnya. Tidak lihat layar. Matanya ke titik merah itu.
“Sektor C,” kata Pak Hanif. “Progress?”
Dito berdiri. “Masih proses pendekatan, Pak. Tim lapangan—”
“Saya tidak tanya proses.” Pak Hanif motong. “Saya tanya hasil.”
Dito duduk lagi. Pelan.
Pak Hanif lihat Kirana. “Desain revisi sudah?”
Kirana angguk. “Sudah, Pak.”
“Bagus.” Pak Hanif duduk. “Kalau bidang ini beres, akses jalan utama kebuka. Tahap 2 bisa ground breaking bulan depan.”
Rapat selesai jam sembilan lewat.
Staf admin, Mbak Wulan, nyamperin Kirana. Bawa map biru. Tebal.
“Bu, ini revisi terakhir.” Disodorin. “Sama lembar persetujuan. Tinggal tanda tangan Ibu.”
Kirana terima. Map itu berat. Padahal cuma kertas.
“Terima kasih, Wulan.”
Di dalam map: gambar site plan baru. Taman lebih lebar. Drainase dobel. Jalan dua arah. Di pojok kanan bawah, kotak kecil. Approval: K. D. Sasmita.
Kosong.
Kirana balik ke ruangannya. Kaca. Sepi. AC 18 derajat.
Duduk. Map dibuka.
Gambar. Garis. Angka.
Tapi yang kebayang: ulekan. Bau sambal. “Sayurnya jadi nggak kesepian.”
Tangan Kirana ambil pulpen. Hitam. Mahal. Dari Jerman.
Dibuka tutupnya. Klik.
Ujungnya nempel kertas. Di kotak Approval.
Tapi tidak turun.
Di kepala Kirana, kilat.
Kopi buatan Naga. Panas. Pahit. Disodorin diam-diam.
Hari Rumah. Lampion kertas. Anak-anak lari. “Kalau Hari Rumah Pak Naga dilewatkan… rasanya setahun belum lengkap.”
Buku harapan. Tulisannya: Semoga aku menemukan tempat yang terasa seperti rumah.
Semut merah. Baris di lantai. Bawa remah. “Mereka bayar sewa dengan caranya masing-masing.”
Lampu teras. Nyala siang-siang. “Rumah juga butuh diyakinkan… bahwa masih ada orang yang ingin pulang.”
Pulpen diangkat.
Kirana tutup map. Pelan.
Di luar, Murad nunggu. Bersandar di dinding kaca.
Kirana keluar. Map di pelukan.
Murad lirik. “Sudah?”
Kirana geleng. “Belum.”
Murad kerut jidat. “Kurang apa lagi? Gambar sudah revisi. Ganti rugi sudah dinaikin. Pak Hanif tinggal nunggu.”
Kirana lihat ke bawah. Ke sepatunya. Hitam. Mengkilap.
Terus ke atas. Ke langit-langit kantor. Putih. Dingin.
“Mungkin bukan gambarnya yang kurang.” Katanya. Pelan. “...mungkin kita yang belum melihat semuanya.”