NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #13

BAB 13 - Pintu yang Tetap Terbuka

Rabu pagi. Jam delapan lewat.

Langit mendung, tapi tidak hujan. Anginnya dingin. Kayak baru pulang dari tempat jauh.

Di depan pagar bambu, motor Murad berhenti. Mesin dimatikan. Tapi dia tidak turun.

Helm masih dipakai. Tangannya masih di setang.

Biasanya dia langsung masuk. Buka pagar. Sandal dilepas di anak tangga kedua. Teriak, “Pak!”

Hari ini tidak.

Dia cuma lihat.

Rumah itu sama. Dua daun pintu terbuka lebar. Lampu teras sudah mati karena pagi. Halaman bersih. Daun mangga semalam sudah disapu. Pohonnya tetap bergoyang. Pelan. Kayak napas orang tidur.

Yang berubah bukan rumahnya.

Murad nutup mata.

Saya kerja di Harmony District.

Rumah ini… termasuk dalam proyek kami.

Suara dia sendiri, tiga hari lalu. Di meja makan.

Dia buka mata lagi.

Tidak kuat.

Naik lagi ke motor. Mau nyalain.

Tiba-tiba, dari dalam.

“Murad…”

Suara Naga. Tidak keras. Tidak manggil. Kayak ngomong ke diri sendiri, tapi tahu kedengaran.

Murad berhenti. Kakinya turun lagi ke tanah.

Naga muncul di pintu. Kaus abu-abu. Sarung. Tangan ada kapur sirih. Habis nulis sesuatu di papan tulis kecil, mungkin.

“Kalau cuma berdiri di luar…” Kata Naga. Matanya ke Murad. “Kopinya keburu dingin.”

Murad gigit bibir.

Air matanya hampir jatuh. Ditahan.

Dia dorong pagar. Kreek.

Masuk.

Sandal dibuka. Di anak tangga kedua.

Di teras, sudah ada dua gelas. Uapnya tipis.

Murad duduk. Di kursi kiri. Kursi yang tiga minggu ini jadi miliknya.

Tapi hari ini rasanya bukan miliknya.

Canggung. Kayak duduk di rumah orang yang baru kenal.

Naga duduk di lantai. Bersila. Punggung ke tiang.

Tidak ngomong.

Murad pegang gelas. Panas. Jari-jarinya butuh panas.

Sunyi.

Lama.

Sampai kuping dengar detak jam dari dalam. Sampai denger daun jatuh. Satu.

Akhirnya Murad buka mulut.

“Pak…” Suaranya kecil. Kayak anak kecil minta jajan. “Bapak marah sama saya?”

Naga angkat gelas. Aduk pakai sendok kecil. Pelan. Muter. Muter.

“Marah itu capek.” Katanya. Tidak lihat Murad. Lihat ke kopi.

Sendok berhenti.

Murad nunduk. Ke lantai kayu. Ada retak kecil. Dulu tidak lihat. Sekarang kelihatan.

Naga seruput. “Saya lebih butuh tenaga buat nyiram pohon.”

Murad ketawa. Kecil. Terus air matanya jatuh juga. Satu. Kena celana.

Dia lap pakai punggung tangan. Cepat. Malu.

Naga pura-pura tidak lihat. Nunjuk ke toples. “Kerupuk. Ambil.”

Jam sembilan lewat.

Dari pagar, ada suara.

Lihat selengkapnya