Kamis. Pukul delapan pagi.
Matahari belum tinggi, tapi aspal sudah panas. Di warung Madura pojok Jalan Melati, Murad berhenti. Motor dimatikan. Standar samping turun.
Di dalam, kipas angin muter. Pelan. Ngekkk... ngekkk...
“Bang, buku tulis.” Murad nunjuk ke rak. “Yang paling murah.”
Penjualnya, umur lima puluh, kumis tebal, lagi bungkus rokok. Nengok. “Anaknya sekolah, Bang?”
Murad ambil buku. Tipis. Sampul biru. Rp4.000.
Dia senyum. “Saya yang mau belajar.”
Bayar. Kembaliannya permen dua.
Di luar, Murad buka halaman pertama. Pulpen dari saku kemeja. Nulis. Pelan.
Hal-hal yang tidak bisa diganti dengan uang.
Tinta sedikit bleber. Dia tutup. Masuk saku belakang.
Jam sembilan.
Perumahan Griya Asri Blok C-12.
Rumah baru. Cat krem. Pagar hitam. Carport dua mobil. Lebih luas dari rumah Naga. Lebih bersih. Lebih wangi. Pewangi ruangan rasa kopi.
Murad duduk di ruang tamu. Sofanya empuk. Dengan AC 1 PK.
Di depannya, Pak Slamet. Umur enam puluh. Mantan tetangga Naga. Pindah tiga bulan lalu.
“Gimana, Pak?” Murad buka buku. Tapi belum nulis. “Tinggal di sini?”
Pak Slamet ketawa. “Nyaman.” Tangannya nunjuk ke atas. “Nggak bocor. Nggak ada rayap. Deket Indomaret.”
Murad sedikit ngangguk. Nulis: Nyaman. Tidak bocor. Dekat Indomaret.
Sunyi.
Kipas angin muter.
Pak Slamet lihat ke luar. Ke halaman. Rumput sintetis.
“Lalu diam.” Katanya. Pelan.
Murad angkat muka. “Kenapa, Pak?”
Pak Slamet garuk-garuk kepala. “Cucu-cucu saya sekarang jarang datang.”
Murad seketika berhenti nulis.
“Capek, katanya.” Pak Slamet senyum. Kecut. “Dulu, rumah lama, sempit. Tapi tiap Minggu, rame. Rebutan kamar. Tidur di ruang tamu. Sekarang… kamar banyak. Kosong.”
Murad nulis.
Cucu-cucu jarang datang.
Kamar banyak. Kosong.
Pak Slamet tawarin teh. Murad hanya geleng. “Terima kasih, Pak.”
Pamit.
Di motor, Murad buka buku lagi. Baca ulang.
Tinta belum kering.
Tepat Jam sebelas.
Kantor Harmony District. Lantai 12.
Kirana di mejanya. Layar isinya AutoCAD. Denah. Garis. Angka.
Murad masuk. Bawa buku biru. Ditaruh di meja Kirana.
“Laporan apa?” Kirana ambil.
“Bukan laporan.”
Kirana lalu buka.