NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #16

BAB 16 - Denah yang Belajar dari Sebuah Rumah

Sabtu. Pukul delapan pagi. Langit Jakarta bersih, tapi AC di lantai 23 Gedung Harmony Tower tidak pernah peduli musim. Dingin. Terlalu dingin untuk ukuran hari libur.

Kirana sendirian di ruang desain. Meja panjang 4x2 meter penuh kertas. Di dinding, masterplan Harmony District tahap II dicetak sebesar tripleks. Garis-garisnya rapi. Kotak-kotak. Blok A sampai G. Jalan enam meter. Taman 20x20. Semua lolos standar. Semua sudah di-approve tahun lalu.

Kirana menarik kursi, duduk. Tapi tidak menyalakan komputer. Ia ambil satu roll kertas kalkir dari laci. Tipis. Bening. Diletakkannya di atas masterplan. Menimpa blok D. Menimpa rumah-rumah yang sekarang tinggal puing di foto drone.

Ia diam. Lama.

Ruangan ini biasa ramai. Hari ini cuma suara AC dan detik jam dinding.

Kirana ambil pensil 2B. Ujungnya runcing. Tapi tidak diturunkan ke kertas.

"Apa yang kurang dari gambar ini?" bisiknya.

Komputer di depannya mati. Software AutoCAD tidak menjawab. Jawabannya datang dari tempat lain. Bau ikan asin. Suara sendok ketemu piring. “Masak itu soal ada yang didoakan.” Bangku kayu di teras. Dua pasang sandal. Lampu teras yang tidak pernah mati.

Kirana menutup mata sedetik. Waktu buka, tangannya mulai bergerak. Bukan garis lurus. Lengkung.

Pukul sepuluh, pintu ketuk. Dua kali. Pelan.

“Masuk,” kata Kirana tanpa nengok.

Murad. Kemeja kotak-kotak, lengan digulung. Tidak bawa laptop. Di tangannya buku catatan. Sampulnya hitam, sudah lecek. Ujungnya melengkung karena sering dibuka.

“Kupikir kamu libur,” kata Murad.

“Kamu juga.” Kirana akhirnya nengok. Matanya merah sedikit. Kurang tidur.

Murad jalan ke meja, naruh buku itu di atas kalkir. Tidak bilang apa-apa.

Kirana menatap buku, lalu menatap Murad. “Apa ini?”

“Bacaan.”

Kirana buka halaman pertama. Tulisan tangan Murad. Rapat. Tanggalnya tiga bulan lalu.

8 Juni. Hari Rumah. Naga nyapu jam 05.12. Dua daun pintu dibuka. Ngomong ‘Pagi’ ke kusen.

Kirana balik halaman.

12 Juni. Lampu teras. Masih nyala jam 10 siang. Ditanya kenapa, jawab: ‘Kalau mati, gelap.’

Halaman berikutnya.

19 Juni. Bangku depan. Kursi kiri kosong terus. Hari ini saya disuruh duduk sana. Rasanya kayak pinjam.

Kirana terus baca. Jalur semut. Pohon mangga. Buku harapan di bawah meja, tempat tetangga nulis kalau butuh bantuan. Anak kecil ambil mangga nggak minta izin. “Kalau lapar… masuk aja.”

Kirana berhenti di satu halaman. Tulisannya Murad beda. Lebih nekan.

1 Juli. Rumah yang takut didatangi orang… lama-lama jadi gudang.

Kirana tutup buku pelan. Diletakkan lagi di atas kalkir. Jarinya mengelus sampul.

“Ini bukan survei lapangan,” katanya.

Murad senderan di meja, tangan masuk kantong. “Memang.”

Kirana nengok. “Terus?”

“Ini survei tentang alasan orang ingin pulang.”

Ruangan tambah dingin. Atau Kirana yang tiba-tiba merinding. Ia menatap Murad. Tiga bulan lalu orang ini datang ke mejanya, bawa data NJOP, ngomong “timeline ketat”. Sekarang bawa buku catatan tentang semut.

Kamu juga berubah, mau Kirana bilang. Tapi tidak jadi. Ia ambil pensil lagi.

Lihat selengkapnya