NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #17

BAB 17 - Harga yang Tidak Tercantum

Senin. Pukul delapan pagi.

Langit Jakarta mendung, tapi tidak janji hujan. Di lantai 23 Harmony Tower, ruang rapat utama sudah dingin sejak subuh. AC-nya tidak pernah libur.

Murad berdiri di depan layar. Kemeja rapi, tapi kerahnya basah. Entah keringat, entah habis cuci muka kelamaan.

Di sebelahnya, Kirana. Rambut diikat. Map di tangan. Tidak gemetar. Tapi kuku jempolnya habis digigitin.

Di layar, slide pertama. Putih. Tulisan hitam. Rapi.

Harmony District yang Tetap Memiliki Jiwa Kampung

Di bawahnya: gambar. Tidak banyak kotak. Ada lingkaran. Di tengah lingkaran, titik hijau. Pohon mangga. Garis-garis tipis nyambung ke kotak-kotak kecil. Rumah. Di antara rumah, ruang kosong. Bangku. Lampu. Tulisan: Ruang Berkumpul Warga.

Ruangan sunyi.

Direktur Utama, Pak Gunawan, duduk di ujung. Tidak senyum. Tidak cemberut. Datar. Di sebelahnya, Direktur Operasional, Pak Hendra. Di depannya, kalkulator. Casio. Tua. Tapi dipencet terus dari tadi.

Dito, manajer proyek, duduk paling ujung. Matanya ke Murad, terus ke layar, terus ke Pak Hendra.

“Silakan,” kata Pak Gunawan.

Murad tarik napas. Klik.

Slide kedua. Filosofi Desain: Adaptive Harmony.

“Bukan mempertahankan semua,” kata Murad. Suaranya jelas. Latihan semalaman. “Bukan mengganti semua. Memilih dengan bijak apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus diperbarui.”

Klik.

Foto. Pohon mangga. Dari drone. Di bawahnya, anak-anak. Di teras, bangku kayu. Lampu teras nyala, siang hari.

“Ini bukan penghambat proyek, Pak.” Murad nunjuk foto. “Ini alasannya proyek harus ada.”

Sebagian peserta angguk. Mbak Rina dari CSR. Pak Agus dari Legal.

Sebagian lain diam. Saling lihat. Pak Hendra ngetik kalkulator. Tik. Tik. Tik.

Klik.

Denah. Yang baru. Jalan utama geser dua meter ke utara. Ruang komunal di tengah. Pohon mangga dipertahankan. Blok D-14, rumah Naga, jadi bagian dari ruang komunal. Bukan digusur. Diintegrasikan.

Pak Hendra angkat tangan. Tidak marah. Nadanya tenang. Kayak dosen jelasin rumus.

“Kalau ruang komunal diperbesar…” Laser pointer ke area hijau. “Jumlah unit berkurang. 14 unit. Tipe 45. Harga jual 900 juta per unit.”

Klik kalkulator. Tik. Tik. Tik.

“12,6 miliar potensi revenue hilang.”

Ruangan hening.

Pak Hendra geser pointer. Ke pohon mangga. “Kalau pohon dipertahankan…” Garis jalan di layar. “Jalan harus digeser. Biaya cut & fill nambah. Utilitas geser. Estimasi 1,8 miliar.”

Dia berhenti. Taruh pointer. Lihat Murad. Lihat Kirana.

“Siapa yang membayar selisihnya?”

AC bunyi.

Detik jam dinding.

Murad buka mulut. Kering.

Tidak ada jawaban.

Di otaknya, angka 12,6 miliar + 1,8 miliar. Di otaknya, buku biru. Pohon jambu ditanam almarhum ayah. Tidak ada harga.

Kirana maju setengah langkah. “Pak, kami hitung social ROI—”

Lihat selengkapnya