NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #19

BAB 19 - Hal-Hal yang Tidak Pernah Dicatat

Senin. Pukul delapan pagi.

Langit mendung tipis, kayak kertas kalkir yang kemarin dipakai Kirana. Tidak hujan, tapi AC di ruang desain lantai 23 tetap dingin. Terlalu dingin untuk dua orang yang habis begadang.

Murad duduk di depan laptop. Mata merah. Di layar, file: Adaptive Harmony_V5_Final.pptx.

Kirana berdiri di sampingnya, pegang gelas kopi kertas. Sudah dingin. Belum diminum.

Slide satu: Harmony District yang Tetap Memiliki Jiwa Kampung.

Slide dua: Pohon mangga di tengah. Lingkaran. Jalur pejalan kaki. Bangku. Lampu.

Slide tiga: Potongan Buku Catatan Murad. Foto blur. Tulisan tangan: Teras ini tempat anak pertama belajar jalan.

Slide empat: Denah. Jalan digeser. Unit berkurang 14.

Murad klik slide terakhir. Terima Kasih.

Sunyi.

Kirana taruh gelas. “Sudah semua?”

Murad nyender. “Sudah.”

“Yakin?”

Murad diam. Lama. Terus geleng. “Enggak.”

Kirana nengok. “Kenapa?”

“Masalahnya…” Murad tunjuk layar. “Semua ini masih pendapat kita.”

Kirana lihat slide. Foto Hari Rumah. Foto bangku kayu. Foto lampu teras. Bagus. Hangat. Tapi diam.

“Direksi akan bilang ini subjektif,” kata Murad. “Mereka minta data. Angka. Bukan foto.”

Ruangan kembali sunyi. Cuma suara AC.

Kirana duduk. Buka buku biru Murad. Halaman terakhir. Hari ketika kami menemukan rumah.

Dia tutup lagi. “Terus?”

Murad matiin laptop. “Ngopi.”

Jam sepuluh pagi.

Rumah Naga.

Pintu kebuka. Seperti biasa.

Dari dapur, bau sayur bening. Kunci. Tempe goreng.

Naga di depan kompor. Kaus oblong, sarung, sandal jepit. Di kompor, panci besar. Di samping, tempe satu papan diiris.

Murad sama Kirana masuk. Sendal lepas di anak tangga kedua. Sudah otomatis.

“Pagi, Pak,” kata Murad.

Naga nengok. Senyum. “Pagi. Sudah makan?”

“Belum,” jawab Kirana. Padahal sudah. Tapi di sini, “belum” artinya “boleh gabung”.

Murad lihat panci. “Pak, masaknya banyak sekali.”

Naga cemplungin bayam. “Kalau masak sedikit…” Aduk. “Nanti panci sedih.”

Murad ketawa. Kirana juga. Kecil. Tapi bahu mereka turun satu senti.

Belum selesai ketawa, pagar kebuka.

Anak kecil, umur delapan, bawa rantang kosong. Kosong, tapi bersih. “Pak Naga!”

Naga nengok. “Eh, Udin. Tunggu.”

Naga matiin kompor. Buka rantang. Isi sayur bening, tempe dua potong, nasi. Tutup. Kasih ke Udin.

“Buat Ibu. Katanya masih batuk?”

Udin ngangguk. “Makasih, Pak.” Lari.

Belum duduk lagi, datang lagi. Bapak-bapak, umur empat puluh. Bawa rantang kosong juga. Naruh di meja. Tidak ngomong.

Lihat selengkapnya