NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #20

BAB 20 - Lampu yang Tidak Pernah Padam

Selasa. Pukul lima sore.

Langit di atas Kampung Melati mendung tebal, tapi hujan masih ditahan. Gerahnya beda. Lengket. Daun mangga di halaman Naga diam. Tidak goyang. Kayak lagi nahan napas juga.

Di teras, Murad duduk di bangku kayu yang kemarin diperbaiki Naga. Bangku itu sudah tidak goyang. Paku baru, lem baru, amplas halus. Tapi kalau diduduki, masih bunyi. Kriet. Kecil. Kayak ngomong, “Aku masih di sini.”

Kirana di sebelahnya. Tidak duduk di kursi. Di anak tangga kedua. Sendalnya rapi, ditaruh di samping. Tangannya megang gelas kosong. Teko di meja juga kosong. Sore ini belum ada yang sempat bikin teh.

Naga di dalam. Suara sapu. Srek. Srek. Nyapu pelan-pelan, dari ruang tamu ke pintu. Debu hari ini banyak. Mungkin karena angin mati.

Jam enam lewat.

Mendung makin turun.

Ctak.

Gelap.

Listrik mati satu kampung. Rumah-rumah tetangga langsung hilang. TV mati. Kipas mati. Cuma suara jangkrik yang tiba-tiba jadi komandan.

Kirana refleks nyalain senter HP. Murad juga. Dua cahaya putih nabrak meja, nabrak muka Naga yang muncul dari pintu.

Naga tidak kaget. Kayak sudah hafal jadwal PLN.

Dia masuk lagi. Dari dapur, bunyi korek. Ckess. Ckess.

Api nyala.

Lampu minyak keluar. Kaca bening, sudah dilap. Sumbu baru. Minyaknya penuh.

Ditaruh di tengah meja. Cahayanya kuning, goyang, bikin bayangan mereka di tembok jadi besar-kecil, besar-kecil.

“Duduk,” kata Naga.

Mereka duduk.

Terus Naga balik lagi ke dalam.

Keluar bawa satu benda lagi.

Lampu baterai. Kotak. Gagangnya besi, catnya sudah ngelotok jadi putih-tulang. Di bodi ada stiker lama: National.

Naga jongkok di teras. Naruh lampu itu di pojok, dekat tiang. Menghadap jalan. Menghadap pagar.

Klik.

Putih. Terang. Sinarnya lurus, nembus sampai pohon angsana di seberang.

Murad berdiri. Ikut ke pintu.

“Pak…” Katanya. Bingung. “Di luar kan nggak ada siapa-siapa.”

Naga pencet tombol sekali lagi. Lampunya makin fokus. Dia nengok ke Murad. Matanya kena cahaya putih, jadi kelihatan bening.

Senym. Tipis.

“Belum tentu.”

Dua kata.

Dinginnya kayak AC kantor.

Dari gang, suara sandal. Sret. Sret.

Pak Yono. Tetangga paling tua. Umur tujuh puluh dua. Kaos singlet, sarung, kopiah miring. Di tangan, lilin satu, ditutup gelas plastik biar nggak mati.

Lihat lampu di teras Naga, dia ketawa. “Hah. Sudah kuduga.”

Masuk pagar tanpa manggil. Duduk di bangku. Naruh lilin di lantai.

“Dari dulu…” Katanya ke Murad, sambil nunjuk lampu baterai. “Pak Naga memang begitu.”

Murad ikut duduk. “Begitu gimana, Pak?”

Pak Yono nyalain rokok kretek pakai lilin. Sekali isep, ujungnya merah. Asapnya jalan pelan karena nggak ada angin.

“Kalau mati lampu,” Katanya. “Rumah lain gelap. Rumah ini… ada yang nyala di luar.”

Kirana merapat. Duduk di lantai, peluk lutut.

“Kenapa, Pak?” Murad nanya.

Pak Yono ngeluarin asep dari hidung. Lama.

“Katanya…” Dia lihat ke Naga yang lagi isi ulang air ke ceret, buat jaga-jaga. “Kalau adiknya pulang malam-malam…”

Jangkrik bunyi. Kencang.

“…rumah ini jangan sampai gelap.”

Murad beku.

Kata “adiknya” jatuh di meja. Tidak bunyi. Tapi semua denger.

Kirana nahan napas.

Naga keluar, bawa ceret, taruh di atas lampu minyak biar anget. Kayak nggak denger. Kayak denger tapi pura-pura.

Jam tujuh lewat.

Listrik belum nyala.

Di teras, obrolan kecil-kecil.

Lihat selengkapnya