NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #21

BAB 21 - Berapa Harga Sebuah Rumah?

Rabu. Pukul sembilan pagi.

Langit di luar gedung Harmony Tower biru, bersih, tanpa awan. Tapi di lantai 25, AC tetap bunyi. Dingin. Steril.

Ruang rapat utama penuh. Direktur Utama, Pak Gunawan. Direktur Operasional, Pak Hendra. Direktur Keuangan, Bu Lestari. Manajer proyek, Dito. Legal. Humas. Investasi. Dua belas orang. Semua pakai batik. Semua bawa laptop.

Di depan, Murad sama Kirana datang jam tujuh. Lebih awal dua jam.

Murad colok HDMI. Cek laser pointer. Baterainya baru. Kirana susun print-out. Tangannya dingin.

Di layar proyektor, masih hitam. Belum nyala.

Murad duduk. Minum air. Tiga teguk. Habis.

Kirana narik napas panjang. Pelan. Kayak nyimpen udara buat seharian.

“Kalau nanti ditolak…” Katanya.

Murad nengok. Alisnya naik.

Kirana senyum. Tipis. Tapi matanya nggak ikut senyum. “...setidaknya kita sudah mencoba membangun sesuatu yang kita percaya.”

Murad diem. Dua detik. Terus ngangguk.

“Kita coba,” katanya.

Jam sembilan lewat lima belas.

Pak Gunawan masuk terakhir. Duduk di ujung. “Mulai.”

Murad klik.

Slide pertama nyala.

Ruangan kaget.

Bukan denah. Bukan kotak-kotak. Bukan angka.

Foto.

Rumah Naga. Hari Rumah. Lampion kertas warna-warni. Anak-anak lari. Udin bawa kerupuk. Mbah Karto gendong cucu. Di teras, Naga nuang teh ke gelas-gelas. Lampu teras nyala, padahal siang.

Tidak ada logo Harmony. Tidak ada judul.

Murad berdiri. Tangannya tidak gemetar. Aneh.

“Selama ini kita menghitung luas tanah, jumlah unit, dan potensi keuntungan.” Suaranya jelas. Dia tidak baca catatan.

Klik.

Slide ganti.

Foto album Polaroid. “Hari pertama setelah ayah meninggal.” Foto buku harapan. “Semoga tahun depan masih bisa makan di sini.” Foto pohon mangga. Di bawahnya bangku kayu. Dua.

“Hari ini kami ingin mengajak Bapak dan Ibu menghitung sesuatu yang belum pernah masuk dalam laporan proyek.”

Ruangan sunyi. Pak Hendra lepas kacamata. Dilap.

Kirana maju satu langkah. Ambil alih.

“Kepercayaan antar tetangga.” Klik. Foto dua bapak salaman di teras Naga. “Ruang berkumpul.” Klik. Foto anak-anak ngerjain PR bareng di lantai. “Kenangan.” Klik. Foto pita merah di kotak kayu. “Tradisi.” Klik. Foto buku dapur Naga, nama-nama, centang.

Ruangan sangat sunyi. Cuma suara AC.

Bu Lestari dari Keuangan nulis sesuatu. Tidak lihat laptop. Nulis di kertas.

Pak Dito dari Proyek nunduk. Garuk leher.

Dua puluh menit.

Tidak ada yang batuk.

Slide terakhir. Dua denah. Kiri: Masterplan Lama. Kanan: Adaptive Harmony.

Yang lama: simetris. Efisien. Unit maksimal. Jalan lurus. Taman di pinggir.

Yang baru: jalan melingkar. Pohon mangga di tengah. Ruang komunal 20x20. Bangku. Lampu. Jalur pejalan kaki nyambung ke rumah-rumah lama. Blok D-14, rumah Naga, digeser tiga meter, tapi tetap ada. Jadi bagian balai warga.

Murad tutup. “Terima kasih.”

Satu detik.

Dua detik.

Pak Hendra buka suara. Tidak marah. Nada dosen. Tenang.

“Konsep ini indah.” Dia tulus. Matanya ke layar. “Saya lihat. Kalian kerja keras.”

Kirana genggam pulpen. Kencang.

Lihat selengkapnya