Pagi. Pukul tujuh lewat.
Langit mendung lagi. Dari kemarin. Tapi hujannya nggak turun-turun. Kayak nangis yang ditahan.
Rumah Naga lebih sunyi dari biasa.
Biasanya jam segini radio tua sudah nyala. Suara Pak Raden. Atau suara sapu. Srek. Srek.
Hari ini tidak.
Murad buka pagar. Kreek. Tidak ada yang manggil “Pagi, Mur”.
Di teras, Naga duduk. Sendiri. Di bangku kayu yang sudah diperbaiki. Di sampingnya, ada karung. Karung beras. Goni. Coklat. Tambalannya banyak. Jahitan tangan. Benangnya beda-beda warna.
Murad naik. Sendal lepas di anak tangga kedua. Sudah kebiasaan.
“Pagi, Pak.”
Naga nengok. Senyum. Tapi matanya tidak ikut senyum.
Murad nunduk, lihat karung. “Mau dipindahin, Pak?”
Naga ngangguk.
Murad jongkok. Angkat.
Ringan.
Kosong.
Murad ketawa kecil. “Enteng, Pak.”
Dia berdiri, mau bawa ke dalam.
“Pak…” Katanya sambil angkat karung ke bahu. “Karung begini kenapa masih disimpan?”
Biasanya Naga jawab, “Buat jaga-jaga.” Atau “Nanti bisa buat nanem cabe.”
Hari ini tidak.
Naga masih duduk. Tangannya ngusap karung yang tinggal ujungnya di bangku. Pelan. Kayak ngusap kepala anak.
“Karena saya belum pernah selesai dengan hari ketika saya membawanya pulang.”
Murad berhenti. Karung di bahu, tapi langkahnya mati.
Kalimat itu jatuh di lantai teras. Tidak bunyi. Tapi berat.
Murad taruh karung pelan-pelan. Duduk. Di lantai. Tidak di bangku.
Naga menatap halaman. Tidak lihat Murad. Matanya ke pohon mangga. Tapi kayak tembus. Ke tahun lain.
“Saya pernah punya adik,” katanya. Pelan. Kayak ngomong ke angin.
Murad diam.
“Namanya Karina.”
Nama itu.
Baru kali ini keluar.
Murad nelen ludah. Tidak nanya. Tidak nyambungin ke siapa-siapa. Cuma denger.
Rumah tua. Dindingnya papan. Catnya sudah ngelotok. Di halaman, pohon mangga masih kecil. Setinggi Naga.
Naga umur tiga belas. Kurus. Celana pendek, tambalan di lutut. Di tangan, sapu lidi.
Di belakang, anak kecil. Umur lima. Kuncir dua. Pita merah. Baju bunga-bunga. Ikut nyapu, tapi sapunya kebesaran. Yang kesapu cuma kakinya sendiri.
“Kak,” katanya. “Aku bantu.”
Naga nengok. Ketawa. “Ya sudah. Tapi jangan nyapu kaki Kakak.”
Karina ketawa. Gigi ompong satu.
Sore. Naga masak nasi. Kompor minyak. Api kecil. Asapnya bikin mata pedas.
Karina di bangku kayu. Bukan bangku yang sekarang. Bangku lama, lebih pendek. Di pangkuan, buku gambar. Bekas. Dikasih tetangga.
Dia gambar rumah. Kotak. Atap segitiga. Di samping, pohon. Di teras, dua orang. Satu besar, satu kecil.
“Kak…” Dia nunjuk gambar. “Kalau nanti aku sudah besar…”
Naga ngaduk nasi. “He-em?”
“Rumah ini masih ada?”
Naga tutup dandang. Asap ngepul. Dia samperin Karina. Ngacak rambutnya.
“Selama Kakak masih hidup…” Senyumnya lebar. “...rumah ini tetap nungguin kita.”
Karina senyum. Narik tangan Naga. “Janji?”
“Janji.”
Jari kelingking ketemu jari kelingking.
Hujan. Rintik dulu.
Di dapur, toples seng. Naga buka.
Kosong.