NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #23

BAB 23- Jejak yang Tertinggal

Malam. Pukul sebelas lewat.

Kos Murad. Lampu kuning. Kipas angin bunyi. Ngekkk... ngekkk...

Di meja, laptop nyala. Layarnya putih. Kolom pencarian Google kosong. Kursor kedip. Kedip.

Murad duduk. Diam. Di tangan, pulpen. Diputar. Jatuh. Dipungut. Diputar lagi.

Di kepalanya, satu nama.

Karina.

Bukan Kirana. Karina.

Nama yang keluar dari mulut Naga tadi pagi. “Saya pernah punya adik. Namanya Karina.”

Nama yang tertulis di belakang foto. Untuk Kak Naga. Dari Karina kecil.

Murad buka tab baru. Ketik: anak hilang tahun 1999 kampung melati panti sosial.

Enter.

Hasilnya: berita banjir. Berita pilkada. Blog curhat. Tidak ada yang nyambung.

Dia hapus. Ketik lagi: panti asuhan jakarta 1999 anak perempuan pita merah.

Sama.

Murad senderan. Lihat plafon. Ada cicak. Diam.

Dia teringat ucapan Pak Yono.

“Dulu sebenarnya pernah ada petugas panti sosial yang datang ke kampung ini... Sayangnya alamat yang mereka bawa keliru.”

Murad duduk tegak.

Panti sosial.

Dia ambil HP. Buka kontak. Cari. Tidak ada.

Buka laptop lagi. Ketik: daftar panti asuhan jakarta pusat lama.

Jam satu pagi.

Baru dapat.

Panti Sosial Asih Sejati. Jl. Kali Pasir No. 12. Berdiri 1987.

Murad screenshot alamat.

Besok.

Pukul sembilan pagi.

Murad sudah di depan gerbang.

Bangunannya tua. Cat biru pudar. Pagar besinya karatan. Di tembok, tulisan: Dikelola Dinsos DKI Jakarta.

Di pos, satpam tua. Umur enam puluh. Kopiah.

“Mau ketemu siapa, Mas?”

“Bagian arsip, Pak. Saya perlu data. Lama. Tahun 1999.”

Satpam kerut. “Waduh. Arsip lama di gudang belakang. Masih manual, Mas. Map-map.”

“ Bisa saya lihat, Pak?”

Satpam telepon ke dalam. Ngomong sebentar. Tutup.

“Bisa. Tapi cari sendiri. Bu Sari lagi cuti.”

Gudang di belakang. Panas. Pengap. Rak besi, tinggi sampai plafon. Map-map coklat. Debunya setebal jari.

Petugas jaga, Mas Anto, umur empat puluh. Kaus oblong. “Kalau data dua puluh lima tahun lalu…” Dia nunjuk rak paling ujung. “Kami harus cari manual. Nggak ada komputer.”

Murad ngangguk. “Saya bantu, Mas.”

Jam sepuluh.

Jam sebelas.

Jam satu siang.

Tangan Murad hitam. Baju basah.

Map satu-satu dibuka. 1997. 1998. 2000.

1999.

Ada. Dua dus.

Dus pertama: Januari–Juni 1999.

Dus kedua: Juli–Desember 1999.

Murad ambil dus kedua. Berat.

Buka.

Map-map diikat karet. Anak Terlantar Pasar Senen. Anak Terlantar Stasiun Kota. Anak Terlantar Tanpa Identitas.

Murad buka yang terakhir.

Halaman pertama. Kertas buram. Ketikan mesin tik.

LAPORAN PENEMUAN ANAK

Tanggal: 17 Agustus 1999

Lokasi: Pasar Senen, dekat rel.

Identitas: Anak Perempuan Tanpa Alamat

Lihat selengkapnya