NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #24

BAB 24 - Tujuh Hari Terakhir

Pagi. Pukul delapan.

Kantor Harmony District lantai 23 dingin seperti biasa. Tapi Murad masuk pakai jaket. Bukan karena AC. Karena tangannya dingin sejak semalam.

Di tas, ada map. Map arsip dari panti. Isinya fotokopi: Anak Perempuan Tanpa Alamat, Karina (?), Nama Baru: Kirana. Ditambah foto. Foto Kirana kecil. Kuncir dua. Pita merah.

Di meja, ada map lain. Dari Pak Hendra kemarin sore. Surat Pemberitahuan Terakhir Pengosongan Lahan. Tujuh hari.

Dua map. Satu nyelamatin masa lalu. Satu ngancurin masa depan.

Murad taruh dua-duanya. Sebelahan. Kayak timbangan.

HP bunyi. Kirana. Lu di kantor?

Murad balas. Iya. Mau bahas revisi.

Bohong.

Setengah jam kemudian, Kirana datang. Bawa kopi dua. Kertas. Dikasih satu ke Murad.

“Revisi apaan?” Kirana duduk. Buka laptop.

Murad minum kopi. Pahit. “Soal… lanskap.”

“Yang pohon mangga?”

“Iya.” Murad diem. Lama. Terus nanya. Pelan. “Ren…”

Kirana nengok. “Hm?”

“Kamu pernah ingat masa kecilmu sebelum diadopsi?”

Kirana berhenti ketik. Senyum. Tipis. “Kenapa nanya gitu?”

“Penasaran.” Murad garuk leher. “Buat… human interest. Proposal.”

Kirana senderan. Lihat ke jendela. Ke langit.

“Tidak banyak,” katanya. “Cuma potongan-potongan.”

“Kayak apa?”

Kirana ketawa kecil. “Kayak mimpi. Kadang jelas, kadang kabur.”

Murad tidak desak. Cuma angguk. “Cerita aja. Yang inget.”

Kirana putar pulpen.

“Aku inget bau.” Katanya. “Bau kopi. Tapi bukan kopi kafe. Kopi tubruk. Kasar. Sama bau tanah habis hujan.”

Murad nulis di kertas. Coret-coret. Biar kelihatan kerja.

“Terus?”

“Suara.” Kirana tutup mata. “Sapu lidi. Srek… srek… Pagi-pagi. Sama suara jangkrik. Tapi bukan di hutan. Di… teras?”

Murad pulpennya berhenti.

“Lampu.” Kirana buka mata. “Lampu kuning. Bulat. Di luar. Tiap malam nyala. Kalau mati, aku takut.”

Dia ketawa. “Aneh ya. Masa kecil orang lain inget mainan. Aku inget lampu.”

Murad nelen ludah.

“Ada lagi?” Suaranya serak.

Kirana mikir. Lama.

“Ada.” Katanya. Pelan. “Ada seseorang. Suaranya besar. Tapi kalau ngomong ke aku, pelan.”

Dia berhenti. Keningnya berkerut.

“Dia selalu bilang… jangan lari jauh.”

Murad berhenti napas.

Tangan Kirana gemetar dikit. Dia sadar. Terus ketawa. “Ya ampun. Jadi curhat.”

Murad tutup buku. “Nggak apa. Bagus. Buat storytelling.”

Kirana berdiri. “Gue ke toilet dulu.”

Pas pintu ketutup, Murad buka laci. Ambil foto. Foto print dari HP. Foto pohon mangga di rumah Naga. Dia crop. Rumahnya nggak kelihatan. Cuma pohon. Sama tanah.

Pas Kirana balik, Murad sodorin HP. “Ini. Kira-kira mirip nggak?”

Kirana ambil. Lihat.

Diam.

Lama.

Lihat selengkapnya