Pagi. Pukul tujuh lewat.
Langit mendung lagi. Sudah tiga hari berturut-turut. Tapi hujannya nggak turun-turun. Kayak seseorang yang mau nangis, tapi gengsi.
Di teras rumah Naga, burung dalam sangkar bambu bunyi. Cuit. Cuit. Naga kasih makan. Jari-jarinya masuk, naruh milet. Burung itu bukan beli. Nemu di pasar. Sayapnya patah dulu. Sekarang sudah bisa loncat.
Naga tutup pintu sangkar. Ambil sapu. Nyapu daun mangga. Daunnya jatuh lebih banyak dari biasa. Mungkin karena getaran stum dari lahan proyek sebelah. Tanahnya retak-retak sampai halaman.
Murad datang. Naik motor. Remnya bunyi. Ciiit.
Naga nengok. Senyum. “Pagi, Mur.”
Murad turun. Wajahnya tegang. Matanya merah. Kayak tidak tidur.
“Pak…” Katanya. Suaranya berat.
Naga senderin sapu. “Hm?”
“Hari ini saya pinjam mobil.”
Naga ketawa. Kecil. “Mobil saya?”
Dia nunjuk ke samping rumah. Sepeda tua. Ontel. Catnya sudah ngelotok, jadi warna karat. Di keranjang, ada karung beras yang kosong.
“Silakan.” Katanya. “Bensinnya kuat. Isi angin aja.”
Murad tidak ketawa. Tapi sudut bibirnya naik dikit. Humor kecil tetap muncul. Kayak bunga di tembok retak.
“Serius, Pak.”
Naga lihat muka Murad. Senyumnya hilang. “Ada perlu?”
Murad ngangguk. “Penting.”
Naga nggak nanya apa. Cuma buka gembok rantai sepeda. Kreek. “Hati-hati. Remnya kadang blong.”
Jam sembilan.
Kantor Kirana. Lantai 23.
Murad masuk. Tidak ketuk.
Kirana lagi di depan laptop. Presentasi Adaptive Harmony masih kebuka. Ditolak. Tapi filenya belum ditutup. Kayak nunggu keajaiban.
Dia nengok. “Tumben pagi-pagi.”
Murad tarik kursi. Duduk. “Pak Naga ingin bertemu.”
Kirana kerut. “Sekarang?”
Murad ngangguk. “Ada sesuatu yang harus saya tunjukkan.”
Kirana tutup laptop. “Soal proyek?”
“Sebagian.”
“Sebagian yang lain?”
Murad diam.
Di mobil, AC nyala. Dingin.
Kirana duduk di samping. Tidak ngomong. Lihat ke luar. Pagar seng proyek sudah berdiri. Tinggi. Nutupin langit. Excavator kuning kelihatan di atasnya. Kayak leher jerapah.
Murad setir. Tangan kiri di setir, tangan kanan di gigi. Di pangkuan, ada map. Map arsip. Ditutupin jaket.
Tiga kali dia mau ngomong.
“Kirana…”
“Hm?”
Mulutnya nutup lagi.
Sampai rumah Naga.
Pagar kebuka. Seperti biasa.
Kirana turun.
Dia diam. Di depan pagar.
Angin bawa bau. Bau tanah. Bau daun mangga. Bau kopi tubruk.
Kirana kerut. “Aneh.”
“Apa?” Murad kunci mobil.
“Bau rumah ini…” Kirana jalan masuk. “Kayak…”
Dia tidak lanjut.
Sendalnya lepas. Di anak tangga kedua. Otomatis.
Masuk.
Tidak nengok kanan-kiri.
Langsung ke dapur.
Buka lemari. Ambil gelas. Beling. Dua.
Buka laci. Ambil sendok. Dua.
Taruh di meja.
Buka teko. Tuang air putih.
Murad berdiri di pintu dapur. Lihat.
Tangan Kirana tidak ragu. Kayak sudah seribu kali.
Kirana kasih satu gelas ke Murad. “Minum.”