Pukul 06.30.
Embun masih nempel di daun mangga. Tebal. Kalau jatuh, bunyinya pluk. Satu-satu. Kayak jam.
Seperti setiap pagi selama dua puluh lima tahun.
Naga bangun.
Melipat tikar. Rapi. Sudut ketemu sudut.
Menyapu teras. Srek. Srek. Pelan. Tidak ada daun banyak. Tapi tetap disapu.
Mengambil daun mangga yang gugur semalam. Tiga lembar. Ditaruh di tempat sampah.
Mengelus pagar kayu yang mulai lapuk. Catnya sudah ngelotok. Kayunya basah. Dia elus, kayak ngelus kepala anak.
Kemudian masuk. Menyalakan air. Ceret bunyi. Ngiiing.
Menyeduh kopi. Dua gelas.
Gelas beling. Satu retak rambut. Satu masih utuh.
Murad datang. Pukul 06.45. Motor dimatikan jauh. Tidak mau berisik.
Dia naik teras. Lihat dua gelas itu.
Yang retak, uapnya naik. Yang utuh, uapnya naik juga.
Dia tahu.
Satu gelas itu tidak pernah diminum siapa pun.
Tapi Naga tetap membuatnya.
Tidak pernah absen. Dua puluh lima tahun.
Murad berdiri di pintu. Tidak masuk.
Dadanya sesak. Kayak ditindih karung beras yang kemarin. Kosong, tapi berat.
Naga nengok. “Pagi, Mur.”
“Pagi, Pak.” Suara Murad kecil.
“Duduk. Kopi dulu.”
Murad duduk. Ambil gelas yang utuh.
Yang retak, tetap di situ.
Pukul 07.10.
Dari kejauhan.
Suara dulu.
Trailer. Ngung. Panjang. Kayak nafas raksasa.
Lalu rantai besi. Kretek. Kretek. Turun dari trailer.
Lalu mesin diesel. Brummm. Berat. Tanah getar.
Satu demi satu kendaraan proyek masuk kawasan.
Excavator. Kuning. CAT. Lengan panjang. Bucketnya bisa muat dua orang.
Bulldozer. Rantai tanahnya ninggalin jejak. Kayak luka.
Dump truck. Tiga. Baknya kosong. Nanti isi puing.
Mobil pengawas. Putih. Logo Harmony Properti.
Anak-anak berhenti main bola. Bola dipegang. Tidak ditendang.
Warung Bi Ijah, yang biasanya rame, sepi. Kompor dimatikan.
Semua orang lihat ke satu arah.
Rumah Naga.
Hari itu akhirnya datang.
Pukul 07.30.
Pak Hendra turun dari mobil pengawas.
Pakai helm putih. Rompi orange. Sepatu boot.
Dia jalan ke teras. Pelan. Kayak jalan ke pemakaman.
Melepas helm. Rambutnya basah.
“Selamat pagi, Pak.” Nada suaranya pelan. Tidak kayak bos. Kayak anak yang mau minta maaf.
Naga lagi siram bunga. Bunga apa adanya. Di kaleng bekas biskuit.
Naga nengok. Senyum. “Pagi.”
Pak Hendra ngeluarin map. Plastik. Baru.
“Ini pemberitahuan terakhir.” Dia kasih. “Pukul delapan kami mulai pekerjaan.”
Naga terima. Dua tangan.
Buka. Baca.
Dengan hormat,
Berdasarkan surat sebelumnya…
…akan dilakukan pembongkaran…
…diharapkan mengosongkan…
Naga baca sampai habis.
Terus dilipat. Rapi. Sudut ketemu sudut.
Dimasukin saku baju.
Lalu bilang, “Terima kasih.”
Pak Hendra kaget. Dia sudah siap dimaki. Diusir. Dilempar gelas.
Tapi tidak.
“Terima kasih.” Ulang Naga. Senyum.
Justru itu yang bikin Pak Hendra semakin tidak nyaman. Tenggorokannya kering.