Bab ini dimulai persis dari akhir Bab 26.
Malam. Pukul sembilan lewat.
Hujan rintik. Bukan yang deras. Cuma cukup bikin tanah di halaman basah, bikin daun mangga bunyi. Tik. Tik.
Di teras, lampu kuning menyala. Seperti biasa. Dua puluh lima tahun.
Murad berdiri. Di depannya, Naga. Duduk di bangku kayu. Sapu lidi disandarkan ke tiang. Tangan Naga di lutut. Diam.
Di tangan Murad, map. Map arsip. Anak Perempuan Tanpa Alamat. Pinggirnya sudah lecek karena digenggam sejak sore.
Naga belum bergerak. Ia hanya memandang Murad. Matanya tidak tanya. Tidak curiga. Cuma nunggu. Kayak sudah tahu malam ini beda.
Murad tarik napas. Panjang. Bau tanah hujan masuk. Bau kopi tubruk dari dapur. Bau yang sama yang Kirana bilang tadi siang: “Aku inget bau kopi.”
“Pak…” Suaranya pecah.
Naga angguk. Kecil. “Hm.”
Murad maju selangkah. Lututnya gemetar.
“Saya sudah menemukan Karina.”
Hening.
Tidak ada musik. Tidak ada jangkrik. Bahkan hujan kayak berhenti sedetik.
Naga berkedip. Sekali. Dua kali.
Alisnya turun.
“…Apa?” Suaranya pelan. Kayak orang baru bangun, belum yakin mimpi atau nyata.
Murad jongkok. Biar sejajar. Biar Naga lihat matanya. Tidak bohong.
“Saya menemukan adik Bapak.” Lebih pelan. Lebih jelas. Tiap kata ditaruh hati-hati. Kayak naruh gelas kaca.
Naga senderan. Ke tiang. Tangannya nyari pegangan. Dapat. Genggam kayu. Kencang.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Tiba-tiba Naga ketawa. Kecil.
“Ha.”
Tawanya aneh. Kayak orang keselek. Kayak badan tidak tahu mau nangis atau ketawa.
“Murad…” Naga geleng. “Jangan bercanda tentang hal seperti ini.”
Murad tidak senyum. Dia buka map. Pelan.
Keluarin isinya. Satu-satu.
Lembar pertama. LAPORAN PENEMUAN ANAK. 17 Agustus 1999.
Ditaruh di meja.
Lembar kedua. PENETAPAN NAMA ADMINISTRASI. Karina → Kirana.
Ditaruh.
Foto. Hitam putih. Dua anak di bawah pohon mangga.
Ditaruh.
Pita merah. Asli. Dari amplop panti.
Ditaruh.
Naga lihat. Satu-satu.
Tangannya di meja. Diam.
Pas mata sampai ke tulisan: Nama saat ditemukan: Karina.
Jempol Naga gemetar.
Dia baca lagi.
Karina.
Air mata jatuh.
Satu tetes. Kena kertas.
Terus satu lagi.
Tidak deras. Tidak sesenggukan. Cuma jatuh. Kayak hujan rintik.
Naga usap pakai punggung tangan. Cepat. Malu.