NOT FOR SALE

GAZALI
Chapter #29

BAB 29 - Hari Pulang

Detik yang sama.

Kirana masih berdiri di depan pintu.

Kayu. Cat hijau pudar. Ada retak di tengah.

Tangannya gemetar. Jari telunjuk, tengah, manis.

Ketuk.

Satu kali.

Pelan. Kayak takut bangunin rumah.

Ketuk.

Dua kali.

Ketuk.

Tiga kali.

Dari dalam.

Srek. Srek.

Suara sapu.

Naga.

Tanpa berhenti nyapu, dia ngomong. Seperti biasa. Dua puluh lima tahun.

“Masuk aja... pintunya nggak dikunci.”

Kalimat sederhana.

Yang selama dua puluh lima tahun selalu ia ucapkan kepada siapa pun. Kurir. Tetangga. Murad. Kucing.

Tapi hari ini beda.

Pintu perlahan kebuka. Engsel bunyi. Kriiing. Pelan.

Naga masih membelakangi pintu.

Sapu di tangan. Lantai disapu ke pojok.

Dia kira Murad.

Sambil tetap nyapu, dia bilang,

“Murad, kopinya tinggal satu gelas lagi.”

Tidak ada jawaban.

Cuma angin. Bawa bau tanah habis hujan. Bawa bau keringat. Bawa bau orang yang sudah jalan jauh.

Lalu…

Terdengar suara.

Sangat pelan.

Hampir seperti bisikan. Kayak daun jatuh.

“...Kak.”

Sapu berhenti bergerak.

Di tengah lantai.

Sunyi.

Naga tidak berani menoleh.

Takut.

Takut kalau suara itu hanya ada di kepalanya. Kayak dua puluh lima tahun ini. Kadang malam-malam, dia denger. “Kak.” Bangun. Buka pintu. Kosong.

Suara itu terdengar lagi.

Sedikit lebih jelas.

Lebih basah. Karena nangis.

“...Kak.”

Tangan Naga mulai gemetar.

Sapu jatuh. Brak.

Kayu ketemu lantai.

Perlahan…

Ia membalikkan badan.

Satu derajat.

Dua derajat.

Di depan pintu…

Cahaya dari luar masuk. Siluet.

Rambut panjang. Baju putih. Celana kain.

Seorang perempuan berdiri sambil menangis.

Mukanya basah. Matanya bengkak. Bibirnya getar.

Tidak ada dialog panjang.

Tidak ada musik.

Dunia kayak dimatiin suaranya.

Mereka hanya saling memandang.

Naga lihat mata.

Mata itu.

Mata yang dulu dia lap kalau kelilipan.

Mata yang dulu dia tutupin pakai tangan waktu petasan meletus.

Mata yang dulu dia ajarin bedain kiri kanan.

Dua puluh lima tahun.

Seolah menghilang dalam beberapa detik.

Naga melangkah satu langkah.

Lantainya kayu. Bunyi. Krek.

Suaranya nyaris tidak keluar. Serak. Karatan.

“...Nana?”

Nama itu.

Nama yang dua puluh lima tahun cuma diucapin ke lampu teras. Ke gelas kosong. Ke pohon mangga.

Perempuan itu menangis semakin keras. Bahunya naik. Turun.

Ia mengangguk.

Kencang. Kayak takut Naga nggak percaya.

“...Kak.”

Tidak ada lagi kata-kata.

Naga buka tangan.

Dua tangan. Kasar. Kapalan. Bekas paku. Bekas semen.

Karina lari. Dua langkah.

Nabrak dada kakaknya.

Naga memeluk adiknya.

Pelukan pertama.

Setelah dua puluh lima tahun.

Kencang. Kayak takut lepas lagi.

Kepala Karina di dada Naga. Denger jantung. Dug. Dug. Cepat. Sama kayak dulu waktu gendong dia demam.

Naga taruh dagu di kepala adiknya. Bau rambut. Bau shampo. Bukan bau tanah. Tapi nggak apa.

Lihat selengkapnya