Setahun kemudian.
Harmony District akhirnya berdiri.
Gedung-gedung kaca menjulang. Namanya The Verdant. The Canopy. The Mangga Residence. Iklannya bilang: “Hunian dengan filosofi pulang.”
Jalan sudah rapi. Aspal hitam. Trotoar ada jalur kuning buat tuna netra. Taman sudah jadi. Ada air mancur. Ada bangku besi. Ada lampu taman yang nyala otomatis jam enam sore.
Namun...
Di tengah kawasan itu.
Di kavling C-1 yang di peta lama dicoret, lalu diarsir hijau, lalu diberi tanda bintang.
Masih berdiri satu rumah tua.
Catnya putih pudar. Kayu di kusen ada yang dimakan rayap. Tapi tiap bulan dicat ulang sama Udin dan anak-anak. “Biar nggak kalah sama apartemen, Pak.”
Pohon mangga masih menaungi halaman. Makin tinggi. Daunnya makin rimbun. Di bawahnya, ada dua bangku baru. Dari kayu jati. Sumbangan penghuni Tower A.
Lampu teras masih menggantung. Bulat. Kuning. Tapi bolanya sudah ganti LED. “Biar hemat, Pak. Tapi hangatnya sama.” Kata Karina.
Cat pagar masih sederhana. Hijau. Tapi tiap minggu ada yang nambah gambar. Anak TK gambar bunga. Anak SMP gambar rumah.
Tetapi kini rumah itu tampak jauh lebih hidup.
Hari Minggu.
Jam tujuh pagi.
Halaman sudah ramai.
Bu Ratna datang pertama. Bawa dandang. “Hari ini bikin bubur ayam, Pak Naga!”
Pak RT bawa tikar. Baru. “Yang lama sudah tipis, Pak.”
Udin sama kawan-kawannya angkat meja. Dari garasi. Meja panjang. Bekas pesta warga.
Anak-anak lari. Ada yang baru. Anak penghuni The Canopy. Bule kecil. Rambut pirang. Namanya Emma. Pegang balon. “Om, ini rumah siapa?”
Naga jongkok. Senyum. “Rumah kita semua.”
Penghuni baru Harmony District juga datang.
Mbak Sari dari lantai 12 Tower B. Bawa pisang goreng. “Resep Ibu saya, Pak.”
Mas Doni, pegawai kantor. Bawa kopi sachet. “Buat nambahin, Pak.”
Satpam, Pak Yono. Lepas seragam. Pakai kaos. Bantu motong semangka.
Petugas kebersihan, Bu Ijah. Bawa sapu baru. “Yang lama sudah pendek, Pak Naga.”
Semua datang.
Karena mereka tahu.
Di rumah itu...
Tidak ada tamu.
Semua dianggap keluarga.
Jam sembilan.
Naga ke dapur.
Seperti biasa.
Masak air. Ceret bunyi. Ngiiing.
Ambil gelas.
Dulu dua.
Murad datang dari belakang. Lihat. Senyum.
“Pak…”
Naga nengok. “Hm?”
“Sekarang masih dua gelas juga?”
Naga belum jawab.
Karina keluar dari dapur. Bawa nampan. Di atasnya, pisang goreng. Masih panas. Asepnya naik.
Dia denger. Ketawa kecil.
“Sekarang bukan dua.”
Ia meletakkan beberapa cangkir lagi di atas meja. Cangkir beling. Cangkir seng. Cangkir plastik. Macam-macam. Ada delapan.
“Sekarang kita nggak pernah tahu siapa yang akan datang.”
Naga tertawa.
Suara tawanya lepas. Bukan kayak dulu, ditahan.
Untuk pertama kalinya...
Ia membuat lebih dari dua gelas kopi.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Sampai teko habis.
Simbol lama berkembang menjadi simbol baru.
Rumah tidak lagi menunggu satu orang.
Rumah kini selalu siap menyambut siapa pun yang membutuhkan tempat pulang.
Jam sepuluh.
Dari gerbang, ada yang masuk.
Tidak bawa map.
Tidak memakai helm proyek.
Pak Hendra.
Pakai kemeja batik. Celana bahan. Sendal.
Di tangan, satu bibit pohon mangga. Masih di polybag hitam. Tingginya sepinggang. Daunnya lima.
Dia jalan pelan. Lewat meja. Lewat anak-anak.
Sampai ke Naga yang lagi nuang kopi.
“Pak…” Suaranya canggung.
Naga nengok. Taruh teko. “Eh, Pak Hendra.”