Not There Yet, But Still Here

Oleh: Renny Widia Astuti

Blurb

Dulu, hidup terlihat sederhana.

Tentang sekolah, mimpi-mimpi kecil, dan keyakinan bahwa semua hal baik akan datang seiring bertambahnya usia.

Sampai perlahan, keadaan mulai mengubah banyak hal tanpa aba-aba.

Rumah yang tadinya terasa hangat mulai dipenuhi kecemasan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan. Mimpi terasa semakin jauh untuk disentuh. Dan tanpa sadar, seseorang belajar hidup sambil memikul ketakutan menjadi beban bagi orang-orang yang paling dicintainya.

Dari lorong asrama yang dingin menjelang subuh, perjalanan panjang demi bertahan hidup, ruang kelas kecil yang dipenuhi suara anak-anak, sampai kamar sunyi yang hanya ditemani cahaya lampu dan isi kepala yang terlalu ramai—hari-hari berjalan seperti seseorang yang terus melangkah meski tidak selalu tahu ke mana hidup akan membawanya.

Namun di tengah hidup yang nyaris membuat semuanya runtuh, selalu ada hal-hal kecil yang diam-diam menahan seseorang untuk tetap tinggal.

Pelukan polos dari murid-murid kecil.

Langit sore setelah hari yang melelahkan.

Percakapan sederhana yang terasa seperti rumah.

Dan keberanian untuk perlahan berhenti memusuhi diri sendiri.

‘Not There Yet, But Still Here‘ adalah novel reflektif tentang bertumbuh, kehilangan arah, keluarga, pendidikan, dan perjalanan panjang seseorang yang belajar bahwa pulang tidak selalu tentang tempat. Kadang, pulang adalah tentang akhirnya bisa menerima diri sendiri.

Lihat selengkapnya