Not There Yet, But Still Here

Renny Widia Astuti
Chapter #2

PROLOG

Have you ever felt a little different… but couldn’t really explain why?

Not in a way that makes you special. Just… slightly out of place, even in your own life.


Aku tidak ingat semua hal tentang masa kecilku. Tapi ada satu perasaan yang masih cukup jelas, aku sering merasa sedikit berbeda.

Bukan sesuatu yang besar. Dan jelas bukan karena aku merasa paling berbeda. Tapi memang dari dulu, aku lebih sering diam, memperhatikan, dan kadang terlalu lama memikirkan hal-hal kecil yang mungkin tidak semua orang anggap penting.

Waktu itu aku masih sangat kecil. Sekitar empat, atau mungkin lima tahun. Usia di mana anak-anak lain masih sibuk bermain, berlari tanpa arah, atau banyak menangis. Aku justru lebih banyak diam dan memperhatikan. Bukan karena tidak punya dunia sendiri, tapi karena aku merasa dunia orang lain lebih menarik untuk dilihat.

Mama sering membawaku ke sekolah tempat ia mengajar, sebuah sekolah dasar negeri di sudut kota Bandung yang tidak terlalu ramai. Bangunannya biasa saja, tidak benar-benar rapi, dan tidak ada yang membuatnya terlihat istimewa. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa betah berdiam diri di sana. Aku tidak duduk di bangku seperti murid yang lain. Aku hanya duduk di belakang kelas, tanpa memakai seragam, tanpa meja sendiri, tanpa benar-benar dianggap sebagai bagian dari mereka. Aku hanya ikut. “Ceritanya, kamu jadi anak bawang aja, ya.” ucap Mama.

Aku tidak selalu mengerti apa yang ditulis di papan tulis. Tulisan kapur itu sering terasa terlalu cepat untuk aku pahami. Tapi aku tidak benar-benar fokus pada hal itu. Aku justru lebih tertarik pada orang-orang di dalamnya. Cara mereka memegang pensil, cara mereka menulis pelan-pelan, cara mereka mengangkat tangan dengan ragu atau yakin. Ada yang langsung menjawab, ada yang menunduk, ada yang mencoba meskipun salah. Aku memperhatikan semuanya, seolah itu juga bagian dari proses belajar.

Lihat selengkapnya