Not There Yet, But Still Here

Renny Widia Astuti
Chapter #3

CHAPTER I - The Earth and The Illusion of "Everything Will Be Fine"

The third planet from the Sun. Our beloved home.

BUMI. Planet ini jelas bukan lagi hal yang asing bagi kita, kan? Dua puluh empat tahun yang lalu, kala pertama kali aku membuka mata, bumi menjadi tempat pertama yang aku lihat. Sebuah rumah bagi segala bentuk kontradiksi yang jelas sudah aku ketahui.

Sejak pertama kali bumi terbentuk ribuan tahun lalu, bumi jelas sudah mengalami perubahan yang tak terhitung. Our restless Earth is always changing. Tectonic plates drift, the crust quakes, and volcanoes erupt. Don't forget about air pressure falls, storms form, and precipitation results. Dari buku sejarah kita dulu, pasti sudah kita pahami kalau untuk sampai ke hari ini, Bumi telah melalui banyak masa. Arkeozoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, pun Neozoikum pada akhirnya.

Bumi ini selalu dan akan terus berubah. Termasuk manusia dan segala hal yang ada di dalamnya.

Change is a natural thing that happens. Yang patah, nanti akan tumbuh. Yang hilang, nanti akan berganti. Yang pergi, nanti akan kembali. Entah dalam bentuk yang serupa atau dalam bentuk lain yang lebih baik.

It is right that maybe we cannot change the beginning, but we always can change the ending. Eventhough change can be beautiful and scary at the same time. We can be hurt and wonder what tomorrow will bring. But we can also be healed and happy again in the other day.

But just like how the Earth changed before, and also how the Earth changes today, we will always be fine in the end. I promise you.

Hari-Hari yang Terlihat Baik-Baik Saja

Kalau dipikir sekarang, mungkin memang wajar kalau dulu aku percaya hidup akan berjalan baik-baik saja.

Bukan karena aku sudah tahu bagaimana menghadapi dunia, tapi karena saat itu… belum ada alasan untuk merasa sebaliknya.

Aku tumbuh di tengah hal-hal yang terasa cukup. Tidak berlebihan, tapi juga tidak pernah benar-benar kekurangan. Rumah kami tidak besar, tapi selalu terasa hidup. Ada suara orang berbicara, ada langkah kaki, ada kehadiran yang membuat semuanya terasa penuh, bahkan tanpa perlu banyak hal.

Aku merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Di rumah, mereka memanggilku Neneng.

Sampai sekarang pun, setiap kali aku mengingat panggilan itu, rasanya tetap sama, hangat. Seperti diingatkan bahwa aku pernah berada di tempat yang terasa aman, tanpa perlu mempertanyakan apa pun.

Aku paling dekat dengan kakak perempuanku, sebut saja Teteh.

Dia bawel, dengan cara yang kadang membuatku diam lebih lama dari yang seharusnya. Pusing mendengar omelan, lebih tepatnya.

Neneng, cicing atuh.” (Neng, diem dong!)

Aku biasanya hanya menggeser posisi dudukku, tanpa menjawab sepatah kata pun. Malah, acap kali aku ejek omelan-nya. Aku tahu, di balik nada yang terdengar seperti omelan itu, selalu ada perhatian yang tidak pernah benar-benar terucap. Mungkin, selain karena tingkahku yang memusingkan, ia tak mau adik kesayangannya ini terjungkal atau terjatuh? Pede saja dulu.

Tapi dari semua momen, yang aku ingat justru bukan kata-katanya, tapi kebiasaan-nya.

Kadang, di tengah hari yang biasa saja, dia tiba-tiba berdiri dan mengajak-ku pergi.

“Ikut, yuk!”

Aku tidak pernah benar-benar tahu mau ke mana, tapi aku selalu ikut.

Kami berjalan tanpa tujuan. Waktu itu aku sedang suka sekali minuman yang lagi ramai, namanya Bintang Sobo. Minuman teh eceran didalam kemasan berbentuk gelas, yang kalau saja mama tahu, mungkin aku akan habis dimarahi. Gak sehat, ujarnya.

“Mau jajan apa?” tanyanya, seolah sudah hafal.

Bintang sobo.”

Dia menghela napas kecil. “Nggak bosen?”

Aku cuma tersenyum cengengesan.

Dan, seperti biasa, dia tetap membelikan minuman favorit-ku itu.

Kami pulang tanpa banyak bicara. Tapi entah kenapa, justru di situ aku merasa nyaman. Tidak perlu obrolan panjang, tidak perlu penjelasan apa-apa. Cukup berjalan berdampingan, dan itu sudah terasa cukup.

Waktu itu aku belum tahu, bahwa rasa “cukup” tidak selalu bertahan selamanya. Jadi, selagi belum mengerti, ya sudah, jalani saja.

Aku juga punya dua kakak laki-laki.

Yang kedua, Mas Obby, mungkin yang paling lembut di antara semuanya. Dia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya selalu terasa. Waktu kecil, walau sering di-jahili, aku sering diusap kepalanya, di peluk, dan di sayang-sayang.

Sedihnya, jarak kami sering berjauhan. Terpisah jarak antar kota, bahkan antar pulau. Tapi setiap kali bertemu, rasanya seperti tidak pernah benar-benar jauh, hanya jarang berkomunikasi via online, rasa-rasanya kurang afdol kalua hanya berdialog lewat gadget, haha entahlah.

Kakak laki-lakiku yang pertama berbeda. Lebih tegas, lebih diam, dan terlihat paling siap menghadapi dunia. Dia yang mengatur usaha keluarga. Cara bicaranya singkat, jarang bertele-tele, dan tidak banyak menunjukkan perasaan.

Kami tidak dekat dalam arti yang hangat. Tapi dari jauh, aku tahu, dia menjaga-ku. Hanya saja, dengan cara yang tidak selalu bisa aku pahami waktu itu.

Dan di antara semua itu, ada satu orang yang menjadi pusat diantara kami semua.

Mama.

Kalau harus memilih satu kata, mungkin… dia adalah nahkoda.

Semua hal, pada akhirnya, kembali ke Mama.

Mama adalah seorang guru di sekolah negeri. Dari kecil, aku sering melihat orang tua murid datang ke rumah.

Makasih ya, Bu… sudah bantu anak saya.”

Kalimat itu sering terdengar. Pelan, tapi rasanya penuh.

Aku tidak selalu tahu apa yang Mama lakukan. Tapi aku tahu, itu bukan hal kecil.

Dan dari situ, aku mulai mengerti sesuatu, bahwa hidup bisa berarti bagi orang lain, bahkan lewat hal-hal yang terlihat sederhana.

Mungkin dari situlah keinginanku tumbuh.

Aku ingin seperti Mama.

Aku ingin belajar sungguh-sungguh.

Aku ingin jadi guru.

Aku ingin hidup di-kelilingi banyak do’a dari orang sekitar.

Tapi di sisi lain, aku tidak benar-benar tumbuh dengan Mama di setiap waktu.

Sejak kecil, aku lebih banyak bersama pengasuhku, sebut saja Bibi.

Mama terbilang sibuk. Pagi berangkat, siang mengajar, sore masih ada urusan lain. Waktu kami tidak banyak, dan jarang sekali bisa mengobrol dengan tenang.

Tidak ada banyak cerita sebelum tidur.

Tidak ada banyak momen duduk berdua tanpa distraksi pekerjaan.

Tapi anehnya, aku tidak pernah benar-benar merasa kehilangan.

Mungkin karena aku tetap melihat Mama, bukan sekedar dari jarak, tetapi dari cara ia menjalani hidupnya, kala itu.

Dan tanpa aku sadari, aku mulai belajar memahami sesuatu:

bahwa sayang tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan. Terkadang, sayang justru bisa saja bersembunyi di balik kesibukan, dalam diam yang panjang, atau dalam jarak yang tak pernah benar-benar dijelaskan.

Oh ya, ada satu bagian lain dari hidupku yang tidak pernah benar-benar hangat, tapi tetap ada.

Papa.

Aku tidak punya banyak cerita tentang kami berdua.

Papa bukan tipe yang bisa mengekspresikan rasa sayangnya dengan jelas. Tidak banyak percakapan, tidak banyak momen yang bisa diingat secara detail.

Tapi aku ingat satu hal tentang Papa.

Dia tidak pernah benar-benar diam dalam satu hal, entah itu hobi, atau kesenangan lainnya.

Lihat selengkapnya