Not There Yet, But Still Here

Renny Widia Astuti
Chapter #4

CHAPTER II - When Life Didn"t Ask for Permission

“Some changes don’t arrive loudly.

They happen slowly, quietly… until one day, you wake up and realize,

you no longer feel like the person you used to be.”


Ada masa di hidup-ku ketika semuanya terasa begitu flat.

Aku belajar dengan baik. Nilai-nilaiku cukup bagus. Orang-orang di sekitarku juga terlihat baik-baik saja. Dan mungkin karena itu, aku tumbuh dengan keyakinan sederhana kalau hidup akan berjalan sebagaimana mestinya.

Aku pikir, selama aku berusaha, semuanya akan tetap berada di jalurnya.

Ternyata hidup tidak selalu bekerja seadil itu.

Sewaktu SD, aku pernah mengalami satu hal kecil yang diam-diam tinggal lama di kepalaku.

Saat itu, wali kelasku adalah Mama-ku sendiri.

Aku masih terlalu kecil untuk memahami bagaimana dunia orang dewasa bekerja. Yang aku tahu waktu itu cuma satu, aku belajar sungguh-sungguh, dan aku ingin mendapatkan apa yang memang seharusnya aku dapatkan.

Suatu hari, Mama berkata pelan sebelum pembagian ranking.

“Kamu nggak usah dimasukin ranking dulu ya… nanti Mama takut dikira nggak adil.”

Aku diam.

Mama mengatakannya dengan tenang, seperti seseorang yang sedang mencoba menjaga banyak hal sekaligus. Dan mungkin memang begitu.

Tapi waktu itu, ada sesuatu dalam diriku yang tidak benar-benar mengerti.

Kepalaku penuh pertanyaan yang bahkan belum bisa aku susun dengan benar.

Kalau Mama takut orang lain merasa itu tidak adil…

lalu bagaimana dengan perasaanku waktu itu?

Apakah perasaan seorang anak yang sudah berusaha sungguh-sungguh, tapi harus belajar mengalah bahkan sebelum sempat merayakan hasilnya, masih bisa disebut adil juga?

Aku tidak kehilangan angka di atas kertas.

Tapi mungkin, hari itu aku kehilangan sesuatu yang lebih kecil dan lebih sulit dijelaskan—perasaan bahwa usahaku pantas untuk diakui.

Aku tidak marah.

Aku hanya merasa bingung. Seperti ada bagian kecil dalam diriku yang mulai belajar kalau kadang, usaha saja belum tentu cukup untuk membuat kita ‘dipilih’.

Dan mungkin tanpa sadar, sejak saat itu aku mulai terbiasa membuktikan sesuatu.

Membuktikan bahwa aku memang mampu.

Membuktikan bahwa aku pantas.

Membuktikan bahwa keberadaanku layak dianggap.

Dan lagi-lagi, bahkan di usia sekecil itu, aku mencoba memahami keputusan Mama. Mungkin beliau hanya sedang berusaha menjaga banyak hal sekaligus. Mungkin beliau juga ada di posisi yang tidak mudah.

Jadi aku memilih diam.

Bukan karena benar-benar mengerti, tapi karena perlahan aku mulai terbiasa menaruh perasaanku sendiri di urutan belakang.

“At what age do we start convincing ourselves that being understanding matters more than being hurt?”

***

Waktu terus berjalan.

Dan seperti kebanyakan anak lainnya, aku tumbuh sembari percaya kalau hidup akan terus bergerak ke arah yang baik.

Setelah lulus SD, aku berhasil masuk ke salah satu SMP favorit di daerahku.

Aku masih ingat jelas pertama kali melihat bangunannya.

Besar. Megah. Ramai.

Ada perasaan bangga yang sulit dijelaskan waktu itu.

Rasanya seperti sedang membuka pintu menuju dunia yang lebih besar.

Aku senang bersekolah di sana.

Di SMP, hidup terasa ringan dengan cara yang sederhana.

Aku punya teman-teman yang baik. Amelia, Lina, Resta, Yuna, Ochi, Silmi, Tara. Nama-nama yang dulu hampir setiap hari memenuhi isi kepalaku. Kami duduk bergerombol saat istirahat, berbagi makanan, saling mengejek untuk hal-hal receh, lalu tertawa sampai perut sakit karena sesuatu yang kalau diingat sekarang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.

Tapi memang begitulah indahnya masa itu.

Kita belum butuh alasan besar untuk bahagia.

Kadang cukup dengan duduk bersama orang-orang yang tepat, dunia sudah terasa baik-baik saja.

Aku juga bukan anak yang pendiam. Di masa itu, aku suka suasana ramai. Aku suka membuat teman-temanku tertawa lewat tingkah-tingkah kecil yang spontan dan kadang agak memalukan. Entah kenapa, aku memang lebih nyaman mengekspresikan diri lewat candaan dibanding harus duduk serius membicarakan perasaan.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin sejak dulu aku memang tidak terlalu pandai menjelaskan isi hati sendiri. Jadi aku memilih bercanda saja. Rasanya lebih mudah. Lebih ringan. Aku tidak perlu bingung mencari kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang sebenarnya kurasakan.

Dan waktu itu, hidup masih terasa cukup sederhana untuk tidak mempertanyakan semua hal itu.

Aku masih bisa menjadi diriku sendiri tanpa terlalu takut dinilai aneh.

Aku masih bisa tertawa lepas tanpa sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihatku.

Aku masih percaya kalau hidup akan terus berjalan seperti itu.

Naik kelas.

Punya teman baru.

Belajar lebih giat.

Lalu tumbuh sedikit demi sedikit seperti orang-orang dewasa di sekitarku.

Dan mungkin karena sejak kecil aku cukup mudah memahami pelajaran, aku pikir semuanya akan tetap baik-baik saja selama aku terus berusaha. Aku tidak pernah benar-benar takut pada masa depan waktu itu. Masa depan terasa seperti sesuatu yang pasti akan datang dengan hasil yang baik.

Aku hanya perlu menjalaninya.

Kadang kalau mengingat masa SMP sekarang, aku sadar satu hal—ternyata manusia sering kali baru memahami betapa berharganya sebuah fase setelah fase itu sirna, selesai.

Dulu aku tidak pernah sadar kalau masa-masa sederhana itu suatu hari akan sangat kurindukan.

Aku tidak tahu kalau duduk di kantin bersama teman-teman, bercanda tentang hal random sepulang sekolah, atau sekadar berjalan pulang sambil mengeluh soal tugas… ternyata akan menjadi kenangan yang terasa sangat hangat bertahun-tahun kemudian.

Karena setelah itu, hidup mulai berubah dengan pelan.

Sangat pelan sampai awalnya aku tidak sadar.

Sampai akhirnya masa SMA datang seperti pintu yang terbuka terlalu cepat, dan tanpa benar-benar siap, aku melangkah masuk ke dalamnya.

Ada keputusan yang sedikit lebih berani, kala itu.

Aku memutuskan merantau ke luar kota dan tinggal di salah satu boarding school yang cukup ternama. Sebetulnya aku tidak benar-benar pergi sendirian. Ada dua teman dekatku dari Bandung yang juga memilih sekolah di tempat yang sama, sebut saja mereka Aliah dan Winda, kami sama-sama memutuskan untuk melanjutkan di Tasik, kota yang sering di-juluki sebagai kota santri. Dan jujur saja, mungkin dengan hadirnya kedua teman-ku itu menjadi salah satu alasan, kenapa aku akhirnya cukup berani pergi sejauh itu untuk pertama kalinya.

Setidaknya, aku pikir aku tidak akan benar-benar sendirian.

Di awal keberangkatan, semuanya terasa seperti petualangan kecil. Kami tertawa sepanjang perjalanan sambil membicarakan hal-hal random tentang kehidupan asrama nanti.

“Aneh nggak ya kalau tidur rame-rame? Pasti bakalan kayak pindang berjejer”

“Kalau ada yang ngorok gimana?”

“Atau kalau makanannya nggak enak?”

Guyonan-guyonan kecil yang terdengar lucu, tapi waktu itu cukup untuk membuat kami sedikit lebih tenang.

Aku pikir kami akan terus bersama seperti itu.

Ternyata tidak.

Sesampainya di sana, ternyata kamar kami dipisah dan berada di kelas yang berbeda. Hal sesederhana itu ternyata cukup membuat semuanya terasa jauh lebih asing, sedikit.

Aku masih bisa bertemu mereka sesekali, masih bisa mengobrol di waktu-waktu tertentu, tapi rasanya tetap berbeda. Karena pada akhirnya, ada fase dalam hidup ketika kita tetap harus belajar menjalani sesuatu sendirian… meskipun datang bersama orang-orang yang kita kenal.

Dan mungkin, di situlah semuanya mulai berubah pelan-pelan.

Di sekolah, aku mulai merasa seperti orang luar.

Kalo pakai bahasa kekinian, sering merasa jadi ‘outsider’ lebih tepatnya.

Padahal tidak ada yang benar-benar jahat padaku. Teman-temanku kelas ku cukup baik. Guru-guruku juga tidak pernah memperlakukanku buruk. Tapi entah kenapa, aku selalu merasa seperti seseorang yang datang terlambat ke sebuah percakapan panjang yang sudah dimulai sejak lama.

Aku ada di sana, tapi rasanya tidak benar-benar masuk.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku coba waktu itu. Aku ingin ikut organisasi. Aku ingin aktif seperti dulu. Aku ingin punya keberanian untuk lebih terlihat.

Tapi setiap kali mencoba mendekat, tubuhku seperti menolak.

Aneh sekali rasanya.

Kepalaku ingin maju, tapi hatiku memilih mundur.

Pelan-pelan aku jadi lebih diam. Lebih sering memperhatikan daripada ikut berbicara. Lebih sering tertawa kecil seperlunya dibanding benar-benar masuk ke dalam obrolan.

Dan yang paling melelahkan adalah, aku tahu itu bukan diriku yang sebenarnya.

Kadang aku melihat teman-temanku berbicara begitu mudah antar satu sama lain, sementara aku sibuk memikirkan banyak hal kecil di kepala sendiri.

Kalau aku ngomong begini aneh nggak ya?

Kalau aku ikut nimbrung nanti mereka nyaman nggak ya?

Kalau aku terlalu banyak bicara nanti aku mengganggu nggak ya?

Capek sekali ternyata hidup di dalam kepala sendiri.

Di tengah semua kecanggungan yang kurasakan di sekolah, asrama justru menjadi satu-satunya tempat yang masih terasa sedikit lebih hangat.

Aku bisa mengikuti pelajaran asrama dengan cukup baik. Aku menyukai ritmenya. Bangun sebelum subuh, suara langkah kaki santri yang saling bergegas menuju kamar mandi, lantunan murajaah kitab yang terdengar samar dari lorong-lorong, sampai suasana lelah setelah seharian penuh belajar. Semua itu justru membuatku merasa hidup.

Di sana, aku tidak terlalu dituntut untuk menjadi siapa-siapa.

Aku hanya perlu menjalani hari seperti biasa.

Dan mungkin karena itu, perlahan aku mulai merasa sedikit lebih tenang.

Namun ketenangan itu ternyata tidak benar-benar bertahan lama.

Karena setiap kali pulang ke rumah, aku mulai menyadari ada sesuatu yang perlahan berubah.

Bukan berubah karena tidak ada cinta.

Justru karena semua orang di rumah sedang sama-sama berusaha kuat dengan caranya masing-masing.

Awalnya perubahan itu terasa kecil.

Sangat kecil sampai hampir tidak terlihat.

Mama mulai lebih sering diam.

Papa lebih banyak melamun di ruang tengah.

Suara tawa di meja makan mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Dan entah sejak kapan, obrolan-obrolan ringan perlahan berganti menjadi percakapan yang selalu membuat dada terasa sempit.

Tentang kebutuhan.

Tentang keadaan.

Tentang hal-hal yang waktu kecil tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku masih ingat bagaimana dulu rumah terasa begitu hidup.

Mama tipe orang yang mudah membantu orang lain. Mudah percaya. Mudah memberi. Dan mungkin karena aku tumbuh di tengah itu, aku sempat berpikir bahwa hidup akan selalu berjalan baik-baik saja.

Sampai akhirnya aku sadar…

ternyata dunia orang dewasa jauh lebih rumit daripada yang kulihat saat kecil.

Perubahan itu datang tanpa aba-aba.

Tidak ada satu hari khusus yang benar-benar menandai semuanya runtuh. Hanya saja, perlahan aku mulai melihat banyak hal menghilang satu per satu. Hal-hal yang dulu terasa pasti, tiba-tiba tidak lagi bisa digenggam.

Rumah yang selama ini kupikir akan selalu menjadi tempat pulang, ternyata diam-diam sudah bukan benar-benar milik kami lagi.

Dan anehnya, waktu itu aku tidak menangis.

Aku tidak marah.

Aku hanya diam.

Karena di kepalaku saat itu cuma ada satu pikiran sederhana:

Selama mama dan papa masih ada di rumah… mungkin semuanya masih bisa baik-baik saja.”

Namun ternyata, kehilangan rasa aman tidak selalu langsung terasa ketika kejadian itu datang. Kadang dampaknya baru benar-benar terasa ketika seseorang mulai tumbuh dewasa.

Ketika aku mulai memikirkan pendidikan.

Mulai memikirkan biaya untuk melanjutkan hidup.

Mulai memikirkan masa depan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku sadar bahwa mimpi ternyata bisa terasa sangat mahal.

Aku mulai mendengar angka-angka yang dulu tidak pernah kupahami.

Mulai melihat mama menghitung sesuatu berkali-kali dengan wajah lelah.

Mulai sadar bahwa ada banyak hal yang sedang ditahan sendirian olehnya.

Sampai di satu titik, aku merasa takut untuk meminta apa pun.

Takut menambah beban.

Takut menjadi alasan rumah itu semakin berat dipertahankan.

Lihat selengkapnya