Not There Yet, But Still Here

Renny Widia Astuti
Chapter #5

CHAPTER III - Surviving Mode

“There was a phase in my life when I stopped asking myself what I wanted.

I was too busy figuring out how to survive.”


Waktu terus berjalan tanpa benar-benar menunggu siapa pun siap.

Dan anehnya, di tengah semua kekacauan yang waktu itu terasa begitu besar, aku dan Ayfa tetap berhasil lulus tepat waktu.

Kalau diingat sekarang, rasanya hampir lucu.

Dua anak perempuan yang sempat kebingungan mencari cara bertahan hidup di tengah panasnya Pasar Singaparna, ternyata berhasil melewati semuanya pelan-pelan. Jam-jam yang kami jual dari pintu ke pintu itu sedikit demi sedikit membantu kami membayar beberapa kebutuhan sekolah tanpa harus terlalu banyak bercerita ke rumah.

Diam-diam, kami mencoba menyelesaikan semuanya sendiri.

Bukan karena kami tidak percaya pada orang tua kami.

Kami hanya terlalu takut menjadi tambahan beban dalam hidup mereka.

Hari kelulusan itu seharusnya membahagiakan.

Orang-orang tertawa. Sibuk berfoto. Saling menulis pesan perpisahan di seragam atau buku kecil. Beberapa terlihat begitu lega karena akhirnya selesai juga melewati masa SMA.

Aku ikut tersenyum.

Tapi di dalam hati, ada rasa kosong yang sulit dijelaskan.

Karena setelah semua ini selesai… aku harus ke mana?

Aku berdiri cukup lama di sudut sekolah hari itu sambil melihat teman-temanku sibuk membicarakan masa depan.

“Aku mau daftar sini.”

“Kayaknya aku kuliah di Bandung.”

“Kalau nggak keterima, aku coba tahun depan.”

Obrolan-obrolan sederhana yang seharusnya normal bagi anak seusia kami.


Tapi anehnya, waktu itu aku merasa seperti sedang mendengarkan dunia yang berbeda.

Karena sementara mereka sibuk menentukan akan melangkah ke mana, aku bahkan belum tahu apakah aku masih punya ruang untuk bermimpi.

Setelah mendengar banyak hal yang terjadi di rumah selama beberapa tahun terakhir, perlahan aku mulai merasa bahwa mimpiku terlalu mahal untuk dimiliki.

Aku jadi takut berharap terlalu tinggi.

Takut kalau ternyata keinginanku hanya akan menambah berat hidup orang lain.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai merasa seperti seseorang yang tidak pantas bermimpi terlalu jauh.

Aku tidak benar-benar menangis waktu itu.

Aku hanya lebih banyak diam.

Diam yang panjang.

Diam yang lama-lama berubah menjadi suatu kebiasaan.

Masa itu, jam tidurku mulai berantakan.

Kadang aku baru bisa memejamkan mata ketika hari sudah hampir pagi. Setelah subuh. Saat suasana rumah justru sedang paling tenang-tenangnya.

Aneh, ya.

Harusnya keheningan membantu seseorang beristirahat.

Tapi buatku, semakin sunyi keadaan sekitar, semakin berisik isi kepala sendiri.

Aku mulai terbiasa tidur sambil memutar sesuatu. Podcast. Lagu. Murrotal. Apa saja.

Setidaknya kalau ada suara lain, pikiranku punya sesuatu untuk diikuti selain ketakutannya sendiri.

Aku juga jadi lebih sering mengurung diri di kamar.

Bukan karena tidak ingin bicara dengan siapa-siapa.

Aku hanya terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepalaku.

Tapi anehnya, di depan rumah aku tetap bercanda seperti biasa. Tetap menyelipkan guyonan kecil supaya Mama tidak terlalu khawatir melihatku murung terus.

Pagi hari kami, masih berbagi tugas membereskan rumah seperti biasa.

Hidup tetap berjalan normal di luar.

Meski diam-diam, ada banyak hal dalam diriku yang sedang kurang baik.

Dan berbeda dengan orang-orang yang biasanya sibuk melihat kehidupan orang lain di media sosial, aku justru semakin jarang hadir di sana.

Jarang membuka grup.

Sering telat membalas pesan.

Jarang melihat story teman-teman.

Bahkan sedihnya, aku kadang lupa dengan momen penting orang lain.

Bukan karena tidak peduli.

Aku hanya merasa kepalaku terlalu penuh untuk mengikuti semuanya sekaligus.

Dan setiap sadar aku lupa sesuatu, aku selalu menyalahkan diriku sendiri diam-diam.

Sampai akhirnya, aku menghubungi salah satu temanku.

Namanya Aliah.

Kami sebenarnya sudah saling kenal sejak SMP, lalu kembali berada di sekolah yang sama saat SMA, meskipun berbeda kelas. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk saling memahami tanpa perlu banyak penjelasan.

Dan mungkin, waktu itu kami sama-sama sedang kebingungan menghadapi hidup.

Aku masih ingat obrolan kami sore itu.

“Jadi… kamu lanjut ke mana?” tanya Aliah.

Aku tertawa kecil, hambar.

“Nggak tahu.”

“Serius?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

Aku diam sebentar sebelum menjawab pelan.

“Aku takut membebani rumah.”

Di seberang telepon, Aliah ikut diam.

Lalu beberapa detik kemudian dia berkata,

“ Aku juga.”

Kalimat itu pendek.

Tapi entah kenapa, rasanya seperti menemukan seseorang yang mengerti isi kepalaku tanpa perlu banyak penjelasan.

Kami mulai membicarakan banyak kemungkinan.

Tentang kerja. Tentang merantau. Tentang bagaimana caranya tetap hidup setelah SMA selesai.

“Katanya kerja di Jakarta gajinya lumayan ya.”

“Kerja apa?”

“Nggak tahu… pabrik mungkin?”

Aliah tertawa kecil.

“Bayangin kita kerja pabrik.”

“Kenapa? Emang kenapa?”

“Bukan apa-apa, cuman ga kepikiran aja, orang-orang gajelas dan suka ceroboh kayak kita gini mesti kerja yang dimana meng-haruskan kita untuk fokus setiap saat.”

“Ya daripada bingung terus.”

Aliah terdiam.

Dan jujur saja, waktu itu kami benar-benar mempertimbangkannya.

Ada fase ketika hidup membuat kita berhenti bertanya, “apa yang aku mau?”

Karena kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya tetap berjalan.

Aku dan Aliah jadi semakin sering berbicara setelah itu.

Kadang tentang pekerjaan. Kadang tentang ketakutan-ketakutan kecil yang tidak pernah benar-benar kami ucapkan ke orang lain.

“Kalau jadi waitress gimana ya?” tanyaku suatu malam.

“Capek nggak ya?”

“Kayaknya capek.”

“Tapi seru juga mungkin.”

Aku tertawa kecil sebelum akhirnya berkata pelan,

“Padahal aku pengen jadi guru.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Sunyi beberapa detik setelahnya.

“Aku juga sebenernya pengen kuliah,” lanjutku pelan. “Cuma… aku nggak yakin.”

Dan mungkin, itu pertama kalinya aku mengakui ketakutanku dengan jujur.

Setelah SMA selesai, aku mulai sadar satu hal.

Aku tidak bisa terus bergantung pada siapa pun.

Mama punya pikirannya sendiri. Papa juga. Kakak-kakakku pun, sebaik apa pun mereka, tetap sedang menjalani hidup dan kesulitannya masing-masing.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar sendirian menghadapi masa depan.

Aku mulai mencoba melamar pekerjaan diam-diam.

Kadang ke swalayan. Kadang ke tempat makanan cepat saji. Kadang ke mana saja yang sekiranya menerima anak seusiaku.

Lihat selengkapnya