Not There Yet, But Still Here

Renny Widia Astuti
Chapter #6

CHAPTER IV - Still Trying, Still Growing

“Some people think adulthood begins when you start making your own money.

But I think adulthood begins the moment you learn how to cry quietly…

and still show up the next morning as if nothing happened.”


Kalau dipikir-pikir sekarang, hidup memang unik.

Dulu aku pikir, kalau nanti sudah kuliah, semuanya akan terasa lebih tenang. Kalau nanti sudah kerja, semuanya akan selesai. Kalau nanti sudah bisa menghasilkan uang sendiri, mungkin akhirnya aku bisa bernapas sedikit lebih lega. Dulu aku membayangkan hidup itu seperti garis lurus; belajar, tumbuh, bekerja, lalu bahagia. Sederhana sekali.

Ternyata tidak.

Hidup hanya berubah bentuk.

Capeknya tetap ada. Takutnya tetap ada. Dan anehnya, setelah berhasil melewati banyak hal yang dulu terasa mustahil untuk dilewati, manusia ternyata tetap bisa merasa lelah lagi.

Sekarang hidupku berjalan cepat sekali. Pagi hari aku bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta di Bandung, mengajar bahasa Inggris dari pagi sampai sore. Setelah itu, hidup belum benar-benar selesai. Aku masih harus berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk mengajar les privat. Kadang kalau kebutuhan sedang banyak, jadwalku benar-benar penuh sampai malam. Berangkat sejak matahari belum terlalu tinggi, lalu pulang ketika jalanan sudah mulai sepi dan lampu-lampu toko satu per satu dimatikan.

Dan ironinya, setelah tubuh selelah itu pun, isi kepalaku masih saja bekerja.

“Besok harus cari tambahan dari mana lagi ya?”

Kadang aku sendiri bingung kenapa aku terus berlari seperti itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, aku sudah bekerja. Sudah menghasilkan uang sendiri. Sudah mampu berdiri di atas kakiku sendiri sedikit demi sedikit. Tapi mungkin memang ada bagian dalam diriku yang masih belum benar-benar sembuh dari masa-masa ketika hidup terasa begitu rapuh. Trauma finansial ternyata tinggal lebih lama daripada yang kita kira. Ia membuat seseorang terus merasa harus berlari, bahkan ketika sebenarnya ia sudah berjalan sangat jauh.

Dan aku sadar, ini bukan soal serakah.

Bukan juga soal terlalu mengejar dunia.

Aku hanya terlalu takut kembali berada di titik ketika aku merasa tidak punya pegangan apa-apa.

Di sela semua itu, aku juga menjalani hidup sebagai pekerja sekaligus mahasiswa. Kadang masih menerima freelance kecil-kecilan. Kadang masih mengambil pekerjaan tambahan apa pun yang sekiranya bisa membantu. Hidupku penuh jadwal, penuh catatan kecil di kepala, penuh daftar hal yang harus diselesaikan satu per satu.

Ajaibnya, tubuh manusia memang bisa beradaptasi dengan banyak hal.

Termasuk kelelahan.

Ada masa ketika aku bahkan lupa rasanya benar-benar istirahat tanpa merasa bersalah. Karena setiap kali berhenti sebentar, selalu ada suara kecil di kepalaku yang bertanya,

“Kalau kamu diam sekarang… nanti gimana, Ren?”

Mungkin itu juga alasan kenapa sampai sekarang aku masih sulit benar-benar tenang.

Menurutku, bagian paling melelahkan dari menjadi orang dewasa sebenarnya bukan soal capek fisik.

Melainkan rasa capek yang tidak terlihat oleh kasat mata.

Capek karena terus dipertemukan dengan realita-realita baru yang dulu tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Tentang tanggung jawab yang datang bersamaan. Tentang ekspektasi yang diam-diam mulai menumpuk. Tentang bagaimana dunia ternyata tidak selalu berjalan berdasarkan usaha semata.

Waktu kecil, kita sering diajarkan bahwa kalau kita rajin dan baik, semuanya akan baik-baik saja.

Ternyata dunia tidak sesederhana itu.

Dan mungkin itu kenapa banyak orang dewasa terlihat biasa saja di luar, padahal diam-diam sedang berusaha keras agar tidak runtuh di tempat umum.

Ada satu masa ketika kamar tidurku mulai terlihat seperti isi kepalaku sendiri.

Berantakan.

Baju menumpuk di kursi.

Tas kerja tergeletak begitu saja dekat pintu.

Botol minum kosong di meja.

Laptop masih menyala dengan tugas yang belum selesai.

Dan aku cuma duduk di lantai sambil menatap semuanya tanpa tenaga untuk membereskan apa pun.

Lucunya, yang lelah sebenarnya bukan tubuhku.

Tapi sesuatu di dalam diriku yang bahkan sulit dijelaskan bentuknya.

Ada malam-malam ketika aku pulang mengajar lalu tiba-tiba menangis di motor sendirian di tengah jalan.

Bukan tangisan besar yang dramatis.

Cuma air mata yang keluar begitu saja tanpa aba-aba.

Kadang sambil berhenti sebentar di lampu merah.

Kadang sambil pura-pura membetulkan helm supaya orang lain tidak sadar.

Dan anehnya, setelah menangis pun hidup tetap berjalan seperti biasa.

Besok paginya aku tetap bangun.

Tetap pakai baju kerja.

Tetap mengajar.

Tetap tersenyum.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Mungkin itu juga yang jarang dibicarakan tentang menjadi dewasa.

Bahwa banyak orang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap datang bekerja tepat waktu.

Tetap membalas chat dengan “hehe siap.”

Tetap terlihat normal di depan orang lain.

Karena dunia tidak pernah benar-benar berhenti hanya karena hati seseorang sedang lelah.

Di tengah fase hidup yang rasanya terus berjalan tanpa sempat memberi jeda itu, aku dipertemukan dengan banyak orang yang diam-diam sedang bertarung dengan hidupnya masing-masing. Dan anehnya, semakin dewasa aku sadar… orang-orang yang paling kuat justru sering kali bukan mereka yang hidupnya paling mudah, melainkan mereka yang tetap bisa tertawa meski pundaknya sedang penuh.

Salah satunya Lutfi.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin salah satu alasan kenapa aku bisa bertahan sampai sejauh ini adalah karena aku dipertemukan dengan orang-orang yang membuatku merasa, “oh… ternyata aku nggak sendirian ya.”

Lutfi adalah teman perempuan-ku.

Aku mengenal Lutfi sebagai seseorang yang kurang lebih punya cerita hidup yang mirip denganku. Sama-sama merintis hidup dari bawah. Sama-sama menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk mengubah keadaan. Sama-sama pernah merasakan bagaimana rasanya dipandang berbeda ketika kondisi keluarga sedang tidak baik-baik saja.

Dan mungkin karena itu, obrolan kami selalu terasa lebih jujur.

Tidak perlu banyak pencitraan.

Tidak perlu pura-pura hidup baik-baik saja.

Karena kami sama-sama tahu rasanya bertahan.

Lucunya lagi, kalau dilihat sekilas, mungkin orang tidak akan mengira kalau kami menyimpan begitu banyak kekhawatiran di kepala.

Karena aku dan Lutfi sama-sama bukan tipe orang yang selalu terlihat murung.

Kami justru cukup berisik.

Cukup banyak tingkah.

Sering bercanda bahkan di tengah capek-capeknya hidup.

Ada energi yang mirip di antara kami berdua. Sama-sama ekstrovert dalam versi yang mungkin sedikit absurd. Kami bisa tiba-tiba tertawa keras di tengah obrolan serius. Bisa tetap melucu meski dompet sedang tipis dan hidup sedang bikin pusing.

Kadang kalau habis ngajar, kami masih sempat saling ledek soal muka kami yang suka tiba-tiba kusut sendiri.

“Etah raray meni ciga nu tos dicentang ku maman racing”

(muka kamu kayak abis dihantam sama orang)

Lutfi langsung ketawa ngakak.

“Lah, kamu juga nggak kalah.”

Lalu kami ketawa cukup lama sampai orang warung ikut senyum melihat tingkah kami.

Dan mungkin itu juga salah satu cara kami bertahan.

Karena kalau semuanya dihadapi dengan terlalu serius, mungkin kami sudah lelah duluan.

Aku dan Lutfi juga punya satu kesamaan yang sampai sekarang kalau diingat rasanya lucu sekaligus haru.

Kami sama-sama tipe orang yang akan melakukan pekerjaan apa pun selama itu halal dan bisa membantu mimpi kami tetap hidup.

Ngajar sana-sini.

Ambil freelance.

Jadi Master of Ceremony.

Bantu ini itu.

Kadang bahkan hidup rasanya seperti tidak memberi jeda.

Tapi anehnya, kami tetap menjalaninya sambil tertawa.

Seolah ada keyakinan kecil dalam diri kami bahwa capek hari ini bukan sesuatu yang sia-sia.

Bahwa ada kehidupan yang sedang kami bangun pelan-pelan lewat semua perjuangan itu.

Aku masih ingat satu malam setelah kami selesai mengajar. Bandung waktu itu dingin sekali habis hujan. Jalanan masih basah dan lampu-lampu kendaraan memantul samar di aspal. Kami duduk di kursi plastik kecil dekat warung sederhana sambil memegang minuman hangat yang asapnya perlahan menghilang tertiup angin malam.

Malam itu tidak ramai.

Hanya ada suara sendok beradu pelan dengan gelas, suara motor lewat sesekali, dan aroma mie rebus dari warung sebelah.

Awalnya kami cuma ngobrol biasa.

Tentang murid.

Tentang tugas kuliah.

Tentang dosen.

Tentang hidup yang rasanya nggak selesai-selesai.

Sampai tiba-tiba Lutfi berkata pelan sambil menatap jalan depan,

“Kadang aku masih nggak nyangka ya… kita bisa sampai di titik ini.”

Aku menoleh.

“Maksudnya?”

Dia diam sebentar sebelum tertawa kecil.

“Dulu aku sempat mikir hidupku berhenti di situ aja.”

Aku langsung paham.

Karena aku juga pernah ada di titik itu.

Titik ketika masa depan terasa terlalu jauh untuk dibayangkan.

Lutfi menunduk sambil mengaduk minumannya yang sebenarnya sudah dingin dari tadi.

“Aku masih inget banget dulu pas keadaan rumah lagi turun…” katanya pelan. “Orang-orang berubah cara ngomongnya.”

Aku diam.

“Kayak tiba-tiba kita jadi kecil ya kalau lagi nggak punya apa-apa.”

Kalimat itu langsung membuat dadaku sesak.

Karena aku tahu persis rasanya.

Rasanya ketika keadaan membuat orang lain merasa berhak memperlakukan kita berbeda.

Dan anehnya, luka seperti itu biasanya menetap lama sekali.

“Aku tuh dulu sakit hati banget,” lanjutnya sambil ketawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Sampai pernah mikir… apa orang miskin emang nggak boleh punya mimpi ya?”

Aku langsung menunduk.

Karena pertanyaan itu terlalu dekat dengan isi kepalaku sendiri.

Beberapa detik setelahnya kami sama-sama diam.

Hanya suara hujan sisa yang jatuh dari ujung tenda warung.

Lalu aku berkata pelan,

“Makanya aku pengen sekolah setinggi mungkin.”

Lutfi menoleh.

Lihat selengkapnya