“Maybe healing is not about becoming a completely new person.
Maybe it is simply about finally allowing yourself to live…
without constantly feeling guilty for it.”
Ada satu fase dalam hidup yang baru benar-benar kupahami belakangan ini.
Bahwa setelah terlalu lama bertahan hidup, seseorang bisa lupa bagaimana caranya menikmati hidup itu sendiri.
Dulu aku selalu berpikir hidup adalah tentang berlari.
Tentang membuktikan sesuatu.
Tentang menjadi cukup supaya tidak diremehkan.
Tentang terus kuat supaya tidak merepotkan siapa-siapa.
Sampai tanpa sadar, aku menjalani hari-hari seperti mesin yang tidak pernah benar-benar dimatikan.
Bangun.
Bekerja.
Belajar.
Mengajar.
Pulang.
Lalu mengulang semuanya lagi keesokan harinya.
Dan anehnya, aku mengira itu normal.
Padahal ternyata… hidup bukan cuma soal bertahan.
Ada bagian kecil dari kehidupan yang juga perlu dirayakan.
Dan mungkin, itu yang baru mulai kupelajari sekarang.
Pelan-pelan.
Sekarang aku mulai berani pergi ke banyak tempat sendirian.
Hal sederhana yang dulu terasa menakutkan, sekarang justru terasa menenangkan. Aku mulai menikmati berjalan tanpa tujuan yang terlalu pasti. Menyusuri jalan kota sambil mendengarkan lagu di headset, membeli minuman favorit dengan uang hasil kerjaku sendiri, atau sekadar duduk diam memperhatikan langit sore dari teras kosan.
Dan anehnya, di momen-momen kecil seperti itu aku justru merasa hidup kembali.
Aku masih ingat satu sore ketika aku memberanikan diri membeli segelas kopi yang harganya dulu mungkin akan terlalu lama kupikirkan.
Di atas lima puluh ribu.
Sepele, ya.
Mungkin buat sebagian orang itu biasa saja.
Tapi buat seseorang yang pernah hidup terlalu lama dengan rasa takut kekurangan, membeli sesuatu untuk diri sendiri tanpa rasa bersalah terasa seperti bentuk kemenangan kecil.
Aku duduk sendirian di sudut coffee shop dekat jendela. Hujan rintik turun pelan di luar sana. Orang-orang sibuk dengan laptop dan obrolannya masing-masing. Sementara aku hanya memegang gelas hangat itu cukup lama sambil menatap pantulan lampu jalan di kaca.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menikmati sesuatu tanpa terus dihantui rasa bersalah.
Tanpa berpikir,
“Uang ini lebih baik dipakai buat apa ya?”
Tanpa merasa aku harus selalu menahan diri.
Hari itu aku sadar…
ternyata aku juga boleh menikmati hasil dari kerja kerasku sendiri.
Aku mulai belajar menenangkan hidupku dengan cara-cara sederhana.
Kadang membeli makanan favorit sepulang ngajar.
Kadang pulang malam sambil memutar lagu kesukaan di motor.
Kadang duduk sendirian di minimarket dua puluh empat jam hanya untuk mengistirahatkan kepala sebelum kembali ke kamar kos.
Dan anehnya, hal-hal kecil seperti itu justru terasa sangat berarti sekarang.
Aku masih ingat satu sore ketika langit Bandung terlihat sangat tenang setelah hujan. Aku duduk sendirian di teras kos sambil memegang minuman hangat yang asapnya perlahan hilang tertiup angin. Langit waktu itu berwarna jingga pucat dengan sisa awan abu-abu yang bergerak pelan.
Hari itu sebenarnya melelahkan.
Tugas kuliah menumpuk.
Jadwal mengajar padat.
Tubuh rasanya ingin tidur berhari-hari.
Tapi entah kenapa, saat melihat langit sore itu, pikiranku tiba-tiba menjadi jauh lebih tenang.
Aku sadar sesuatu.
Bahwa selama ini aku terlalu sibuk membesarkan masalah di kepalaku sendiri.
Padahal dunia ciptaan Tuhan begitu luas.
Begitu indah.
Dan mungkin… hidupku tidak seburuk itu.