“Sometimes I wonder…
if the little girl I used to be would be proud of the person I am today.
And maybe… she would.
Not because I became extraordinary,
but because I survived all the things that almost broke me.”
Beberapa waktu lalu, aku pulang ke rumah dan tanpa sengaja menemukan sebuah kotak lama yang tersimpan di sudut lemari.
Kotak itu sudah sedikit berdebu.
Warnanya mulai pudar dimakan waktu.
Aku bahkan hampir lupa kalau benda itu masih ada.
Malam itu rumah cukup hening. Hanya ada suara televisi kecil dari ruang tengah yang volumenya sengaja dikecilkan, suara sendok beradu pelan dari dapur, dan angin malam yang masuk samar dari jendela rumah.
Aku duduk di lantai sambil menarik kotak itu perlahan.
Debunya beterbangan tipis ketika kubuka.
Dan entah kenapa, dadaku langsung terasa sesak oleh sesuatu yang bahkan belum sempat kupahami bentuknya.
⸻
Dengan hati-hati aku membuka tutupnya.
Suara gesekan kardus tua itu terdengar pelan sekali di tengah rumah yang sunyi.
Di dalamnya ada banyak hal dari masa lalu yang bahkan hampir kulupakan keberadaannya.
Foto sekolah.
Kertas-kertas kecil penuh tulisan tangan.
Beberapa catatan yang tintanya mulai memudar.
Dan di sana…
aku menemukan binder itu lagi.
⸻
Tanganku langsung diam beberapa detik.
Aku mengusap pelan sampul bindernya yang sudah sedikit kusam. Plastik luarnya mengeluarkan bunyi tipis ketika kusentuh perlahan. Ada aroma khas kertas lama yang langsung menyeret pikiranku jauh ke belakang.
Ke masa ketika hidup masih terasa sederhana.
Ke masa ketika aku belum terlalu mengenal takut.
Aku membuka lembar demi lembar halamannya perlahan.
Tulisan tanganku masih berantakan.
Ada quotes bahasa Inggris yang dulu terasa keren sekali.
Ada stiker kecil yang warnanya mulai pudar.
Ada coretan random yang sekarang terlihat lucu.
Dan anehnya, aku malah tertawa kecil sendiri saat melihat semuanya.
Bukan karena malu.
Tapi karena ternyata… anak kecil itu pernah begitu penuh harapan.
⸻
Napasaku sempat tertahan ketika menemukan salah satu halaman yang penuh tulisan tentang mimpi-mimpi kecil.
Aku diam cukup lama.
Mataku terasa panas.
Bukan sedih.
Lebih seperti… haru.
Karena tiba-tiba aku sadar, anak kecil itu ternyata sudah berjalan sangat jauh.
⸻
Aku membayangkan dirinya lagi.
Anak kecil yang dulu duduk diam sambil sibuk menyalin kata-kata asing yang bahkan belum sepenuhnya ia mengerti.
Anak kecil yang penasaran dengan dunia.
Yang berpikir hidup akan berjalan lurus dan sederhana.
Yang belum tahu kalau di depannya nanti akan ada begitu banyak hal yang membuatnya hampir menyerah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Aku tidak lagi merasa kasihan pada diriku yang dulu.
Aku justru merasa bangga.
⸻
Karena sekarang aku sadar…
Anak kecil itu ternyata sudah berjuang sangat keras.
Dia bertahan di banyak keadaan yang bahkan terlalu berat untuk usianya.
Dia mencoba tetap bermimpi meski keadaan berkali-kali menyuruhnya berhenti.