Dentang sendok perak yang beradu dengan piring porselen krisan terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aira. Ruang makan kediaman Maheswari malam itu terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan sudah disetel di suhu normal. Wangi steak wagyu yang mahal justru membuat perut Aira mual.
Di kepala meja, Prasetya Maheswari duduk dengan punggung tegak, menatap selembar kertas hasil ujian dengan binar bangga yang jarang terlihat.
"Sempurna. Nilai rata-rata sembilan puluh delapan. Kamu benar-benar permata keluarga ini, Airin," suara Prasetya berat namun lembut saat berbicara pada gadis di sisi kanannya.
Airin, yang mengenakan gaun sutra berwarna peach yang sangat kontras dengan kulit porselennya, tersenyum manis. Rambutnya yang legam tergerai indah, berkilau di bawah lampu gantung kristal. "Ini semua berkat dukungan Papa dan Mama. Airin hanya tidak ingin mempermalukan nama Maheswari."
"Tentu saja, Sayang. Gelar dan prestasi adalah napas keluarga kita," sahut Ratna, sang ibu, sembari mengusap lembut tangan Airin. Matanya kemudian beralih ke sisi kiri meja. Seketika, kelembutan itu menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es.
"Dan kamu, Aira? Mana kertasmu?"
Aira tersentak. Tangannya yang berada di bawah meja saling meremas. Ia bisa merasakan tekstur kasar di ujung jarinya—bekas tusukan jarum yang mengering dan kapalan kecil akibat terlalu sering memegang gunting kain yang berat. Ia perlahan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lecek dari saku seragamnya yang kusam.
Kertas itu diletakkan di atas meja dengan tangan gemetar.
Prasetya meraihnya. Hanya dalam tiga detik, pria itu melempar kertas tersebut ke tengah piring Aira yang masih penuh makanan. Angka '42' di kolom matematika tampak seperti ejekan berwarna merah menyala.
"Empat puluh dua?" Prasetya tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan. "Aira, katakan pada Papa, apa yang ada di dalam otakmu? Kamu dan Airin lahir dari rahim yang sama, di hari yang sama. Tapi kenapa kamu tumbuh seperti... cacat produksi?"