Suara debur hujan di luar jendela perpustakaan sekolah seolah menarik paksa kesadaran Aira ke masa sepuluh tahun yang lalu. Ingatan itu selalu punya cara untuk kembali—seperti hantu yang menolak pergi.
"Ini, makanlah. Jangan menangis lagi, Varo."
Aira kecil menyodorkan separuh roti cokelatnya yang sudah agak penyet. Di depannya, seorang bocah laki-laki duduk meringkuk di balik batang pohon mangga besar. Seragamnya dekil, lututnya berdarah, dan bau keringat bercampur tanah menguar dari tubuhnya. Dia adalah 'anak sponsor', sebutan kasar anak-anak lain untuk Varo karena ibunya hanya seorang tukang cuci.
Bocah itu mendongak. Matanya yang sayu menatap Aira dengan ragu. "Kenapa kamu mau berteman sama aku? Mereka bilang aku bau sampah."
Aira tertawa kecil, mengabaikan noda tanah yang menempel di pipinya sendiri. "Aku juga sering dibilang aneh karena lebih suka menggambar baju daripada main boneka. Kita sama-sama aneh, jadi kita harus bersama, kan?"
Varo menerima roti itu. Gigitan pertamanya terlihat begitu lahap. Setelah tenang, ia meraih tangan kecil Aira, lalu mengaitkan jari kelingking mereka. "Nanti, kalau aku sudah besar dan tidak bau sampah lagi, aku akan menjemputmu. Kita akan selalu bersama, Ai."
"Janji?"
"Janji."
*
"Aira! Malah melamun! Cepat bersihkan kaca jendela itu!"
Bentakan salah satu anggota OSIS membuyarkan lamunan Aira. Ia tersentak, hampir menjatuhkan kain pel yang dipegangnya. Hari ini, sebagai hukuman karena nilai ujiannya yang buruk, Aira ditugaskan membersihkan jendela koridor lantai dua yang menghadap langsung ke gerbang utama SMA Garuda.