Not You Anymore

Widia ayu amelia
Chapter #4

4


Aira berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor kelas sepuluh. Pandangannya buram karena sisa air mata yang belum sempat ia usap. Di tangannya, ia masih mendekap ember kecil dan kain pel kotor—sisa-sisa hukuman yang belum usai. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai ke gudang belakang, bersembunyi di sana, dan menangis sampai sesak di dadanya berkurang.


Namun, nasib seolah belum puas mempermainkannya.


Di persimpangan koridor yang ramai, sekumpulan siswa berjalan berlawanan arah. Di tengah mereka, Alvaro berjalan dengan gaya angkuh, dikelilingi oleh para pengikut setianya. Aira yang tertunduk tidak menyadari jarak mereka sudah terlalu dekat.


Brak!


Aira menabrak sesuatu yang keras—dada bidang yang terbalut kain berkualitas tinggi. Ember di tangannya terlepas, air kotor di dalamnya tumpah menyiprat ke lantai, dan yang paling parah, kain pel yang lembap dan berdebu itu mendarat tepat di lengan jas mahal Alvaro.


Hening seketika. Seluruh koridor seolah menahan napas.


Aira membeku. Aroma maskulin yang mewah—campuran antara kayu cendana dan jeruk—merasuk ke indra penciumannya. Aroma yang sangat asing, namun entah kenapa terasa sangat akrab di ingatannya.


"Sial," sebuah suara rendah dan dingin memecah keheningan.


Alvaro mundur satu langkah, menatap lengannya yang kini dihiasi noda abu-abu kecokelatan. Matanya berkilat marah. Ia menatap Aira dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada tamparan—sebuah tatapan jijik yang biasa digunakan orang saat melihat sampah di pinggir jalan.

Lihat selengkapnya