Larik-larik rumus logaritma di papan tulis tampak seperti barisan semut hitam yang membosankan bagi Aira. Di pojok belakang kelas, ia menunduk dalam, tangannya bergerak lincah di atas buku catatan yang seharusnya berisi angka. Namun, alih-alih angka, sebuah gaun malam dengan potongan 'A-line' dan detail bordir mawar di bagian dada perlahan terbentuk.
Ini adalah satu-satunya pelariannya. Tempat di mana ia bukan "cacat produksi", melainkan pencipta keindahan.
"Aira Maheswari!"
Suara menggelegar Ibu Ratmi, guru matematika mereka, memecah konsentrasi Aira. Jantungnya mencelos. Sebelum Aira sempat menutup bukunya, tangan kurus Ibu Ratmi sudah menyambar buku itu dengan kasar.
"Pantas saja nilai kamu empat puluh dua! Otakmu cuma diisi sampah kain seperti ini?" Ibu Ratmi mengangkat buku itu tinggi-tinggi, memamerkan sketsa Aira ke seluruh kelas.
Gelak tawa pecah. Aira merasa wajahnya terbakar. Ia melihat Airin di barisan depan hanya tersenyum tipis, sementara Alvaro yang duduk di sebelah Airin menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—dingin dan meremehkan.
"Ikut saya ke kantor! Saya sudah lelah memperingatkanmu. Hari ini, orang tuamu harus tahu apa yang kamu kerjakan di kelas saya!"
*
Ruang tamu kediaman Maheswari terasa mencekam sore itu. Sialnya, Alvaro sedang berkunjung, duduk di sofa mewah bersama Airin sembari menikmati teh. Kehadiran pemuda itu justru membuat penghinaan ini terasa berkali-kali lipat lebih pedas bagi Aira.