Not You Anymore

Widia ayu amelia
Chapter #7

7

"Pakai ini sekarang, atau Papa akan membakar semua kain rongsokanmu di gudang malam ini juga!"

Bentakan Prasetya menggema di ruang ganti sempit di belakang dapur. Di depan Aira, sebuah seragam pelayan berwarna hitam kusam dengan celemek putih yang sudah menguning di bagian pinggir dilemparkan ke lantai.


Aira menatap kain itu dengan mata pedih. "Tapi Pa... malam ini kan perjamuan untuk menyambut Alvaro. Kenapa aku harus—"


"Karena kamu memalukan!" potong Ratna, ibunya, yang muncul dari balik pintu dengan gaun sutra ungu yang berkilau. "Kamu mau duduk di sana dengan wajah kusam dan kacamata tebalmu itu? Kamu mau membuat Alvaro berpikir keluarga Maheswari punya 'produk gagal' sepertimu? Tidak. Malam ini, anak kami hanya Airin. Kamu? Kamu hanyalah bantuan tambahan dari agensi pelayan. Tutup mulutmu, atau kamu benar-benar akan kehilangan tempat tinggal."


*


Lampu kristal di ruang makan utama berpendar begitu mewah, memantulkan cahaya pada deretan alat makan perak yang tertata sempurna di atas taplak meja linen putih. Wangi truffle dan anggur merah mahal memenuhi udara, menciptakan atmosfer kelas atas yang menyesakkan bagi siapa pun yang tidak merasa pantas di sana.


Aira berdiri mematung di sudut gelap dekat pintu dapur. Seragam pelayan yang ia kenakan terasa kasar dan gatal di kulitnya. Ia menunduk, membiarkan kacamata tebalnya merosot ke ujung hidung, berusaha menyembunyikan wajahnya sedalam mungkin.


"Silakan dinikmati, Alvaro. Ini adalah wine terbaik dari koleksi pribadi saya," Prasetya berujar dengan nada yang sangat ramah, nyaris menjilat.


Alvaro duduk tegak, terlihat begitu berwibawa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Di sampingnya, Airin tampak seperti dewi. Gaun merah marunnya mengekspos bahu indahnya, dan jemarinya dengan manja bergelayut di lengan Alvaro.


"Varo, cobalah daging ini. Aku yang meminta koki memasaknya khusus untukmu," ucap Airin manis, menyuapkan sepotong kecil daging ke mulut Alvaro.


Alvaro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat hati Aira berdenyut nyeri. Senyuman yang dulu hanya diberikan kepadanya saat mereka berbagi sepotong roti di bawah pohon mangga.


"Pelayan! Tuangkan minumnya!" perintah Airin tiba-tiba, suaranya berubah tajam saat menoleh ke arah Aira yang berdiri di sudut.


Lihat selengkapnya