"Sedang apa pelayan sepertimu berkeliaran di sini jam segini? Ingin mencuri sesuatu?"
Suara berat itu memotong sunyi malam, dingin dan setajam silet. Aira berjengit, nyaris menjatuhkan botol air mineral di tangannya. Di bawah temaram lampu taman dan rintik hujan yang mulai membasahi bumi, ia melihat siluet tegap itu. Alvaro bersandar pada pilar marmer, kepalanya mendongak menatap langit kelam. Ujung rokok di sela jarinya menyala kemerahan, mengirimkan asap tipis yang segera hilang disapu angin malam.
Aira merapatkan jaket tipisnya yang sudah mulai lembap. Telapak tangannya yang dibalut perban seadanya terasa berdenyut nyeri—sisa "hadiah" dari pecahan gelas di ruang makan tadi.
"Aku... aku cuma butuh udara segar," cicit Aira, matanya tertuju pada sepatu kulit Alvaro yang mengkilap, menghindari tatapan elang pria itu.
Alvaro mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya. Ia mematikan rokoknya di asbak kristal yang tersedia di meja taman, lalu melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya terasa seperti detak jam menuju eksekusi bagi Aira.
"Udara segar? Atau sedang mencari perhatian?" Alvaro berhenti tepat di depan Aira. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Aira. "Setelah drama jatuh di depan meja makan tadi, sekarang kamu muncul di sini. Kamu pikir cara-cara murahan ini akan berhasil?"
Aira mendongak, matanya yang sembab karena tangis kini berkilat oleh emosi yang tertahan. "Kamu pikir aku sengaja menjatuhkan diri di atas pecahan kaca demi menarik perhatianmu? Kamu pikir lukaku ini palsu?"
Alvaro terdiam sejenak, matanya turun menatap perban di telapak tangan Aira yang mulai merembes darah. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin rasa bersalah, atau mungkin gangguan ingatan yang kembali menyerang. Namun, ia segera mengeraskan rahangnya.