Kalau kamu ingin tahu jalan menuju pintu belakang sebuah klub malam, aku bisa menggambarkannya dengan mata tertutup. Belok kiri sebelum gerbang, masuk gang yang berbau got dan sisa lemon, lewati tiga tong sampah, berhenti di pintu besi yang catnya mengelupas. Tidak ada bel. Kamu mengetuk tiga kali, pelan, jeda, lalu sekali lagi.
Malam itu aku mengetuk dengan pola yang sama, dan itulah yang membuatku tidak enak hati. Polanya sudah kuhafal. Padahal ini kali kedua ke klub yang sama.
Pintu terbuka sedikit. Yang menengok adalah Bu Marni, perempuan enam puluhan dengan badan besar dan rambut sependek lelaki. Celemek plastiknya basah di bagian perut, tangannya merah dan keriput karena terlalu sering bertemu air sabun.
"Adeknya Dimas, ya", katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya, Bu."
Dia menggeser badan memberiku jalan. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada curiga. Aku sudah 22 tahun hidup untuk tahu bahwa itu keramahan paling jujur di tempat ini.
Dapurnya sempit dan terang, satu-satunya tempat di gedung itu yang memakai lampu putih biasa. Gelas-gelas berjajar terbalik di bak cuci seperti prajurit menunggu inspeksi, sebagian masih bercincin lipstik. Di lorong sesudahnya, di bawah lampu merah redup, jenis merah yang membuat wajah semua orang tampak sama sakitnya, ada cermin retak yang membelah dua wajah siapa pun yang berdiri di depannya, dan tumpukan krat botol kosong.
Aku masih memakai kemeja flanel dan celana jeans dari kampus. Di tas punggungku ada laporan praktikum yang harus dikumpul jam delapan pagi. Di lorong itu hanya ada satu jenis orang yang bukan pegawai dan bukan pelanggan: orang yang datang menjemput.
Ujung lorong ditutup tirai beludru tebal. Bass dari baliknya sudah terasa menembus tulang dadaku, bukan terdengar tapi dirasakan, seperti jantung raksasa yang berdetak terlalu cepat di dalam tubuhku. Aku berhenti sejenak sebelum menyibaknya, kebiasaan baru yang tak suka kuakui. Satu, dua, tiga.
Cahaya menghantamku lebih dulu. Lampu ungu biru berputar memotong asap tipis dari mesin kabut. Lantai dansa penuh tubuh yang begerak seirama. Di atas panggung kecil, seorang DJ berkacamata hitam menunduk di atas mixer yang menyala seperti panel pesawat, mengangguk pada tempo yang hanya dia dengar. Di pinggir lantai dansa, seorang laki-laki muda berseragam dengan bordir miring sedang mengepel. Namanya Jaka, aku tahu dari dapur tadi. Setiap kali ember pelnya melewati panggung, kepalanya menoleh setengah detik. Hanya setengah detik, seperti kelelawar yang tak sengaja melihat cahaya. Lalu dia menunduk lagi.
Aku tidak memikirkannya waktu itu, hanya ingat. Aku naik tangga rendah menuju area sofa. Di sofa paling ujung, dengan meja kaca di tengahnnya, tiga orang tertawa terlalu keras dan satu orang tidak tertawa sama sekali. Yang tidak tertawa itu abangku. Dimas dua tahun lebih tua dariku, dan sebagian besar hidup kami berjalan dengan cara yang sama: aku menunggu, dia datang terlambat. Dia tergeletak miring dengan kepala di lengan sofa, satu kaki menjuntai, kemeja terbuka tiga kancing, mulut sedikit menganga. Di meja kaca berjajar botol, sebagian terbalik tanpa tutup, dan ember es sudah menjadi kolam kecil. Ada gelas pecah di pojok meja, pecahannya ditutupi serbet seperti wajah orang mati.
Aku berjongkok dan menepuk pipinya dua kali. "Bang". Tidak ada reaksi. Aku merogoh kantongnya satu per satu. Kiri kosong, kanan kosong, belakang kosong. Tidak ada dompet, tidak ada ponsel. Aku bahkan tidak perlu mencari lama, karena ini bukan pertama kalinya, dan yang pertama itu akan kuceritakan nanti, ketika kamu sudah cukup mengenalku untuk percaya bahwa aku tidak mengada-ada.
Aku berdiri. Salah satu dari tiga yang tertawa itu menoleh dan tersenyum lebar, senyum orang yang sudah mengenalmu padahal belum.
"Eh, adeknya Dimas!"
Namanya Gilang. Kemeja satin warna anggur, jam tangan yang kebesaran di pergelangannya, rambut berkilat oleh gel. Di sebelahnya duduk Tito, bulat, wajahnya selalu tampak minta maaf padahal tidak, dan Agung, kurus, rahangnya mengunyah sesuatu yang bukan permen karet.
"Duduk dulu yok. Mau minum apa?"