Itu refleks, sesuatu yang sudah di tanam selama tiga tahun berlatih di aula kelurahan, di alam bawah sadar. Gilang mencoba menenangkanku untuk kedua kalinya. Aku menangkap pergelangan tangannya sebelum jarinya sempat menyentuhku, lalu meninju wajahnya. Kepalanya terhempas menabrak kepala Tito.
Tito yang duduk di samping Gilang, kaget. Gelas di tangannya jatuh ke lantai, pecah berhambur. Agung langsung berdiri di belakangku. Satu pertanyaan terlintas di kepalaku: pergi kemana? Aku bisa saja berbalik dan lari melewati tirai, lorong, Bu Marni dan pintu besi. Tapi Dimas mabuk, boro-boro lari.
Gilang memegang hidungnya, menatap darah di telapak tangannya, lalu melayangkan tinju lurus tanpa ragu. Pada saat yang sama Agung mengunci lenganku dari belakang, dan tinju Gilang mendarat telak di mukaku. Ini akibat bertahun-tahun tidak berlatih.
Musik keras itu tiba-tiba terdengar seperti dari dasar kolam. Dari samping, Tito melempar sebuah botol ke arah mukaku. Aku melihatnya dan menunduk. Botol itu menghantam muka Agung di belakangku.
"ARGH SI GOBLOK!" teriak Agung.
Aku terkena pecahan botolnya, suaranya seperti es pecah, tapi tanpa sensasi dingin. Kuncian di lenganku mengendur dan kepalaku mendadak jernih. Gilang berdiri di depanku dengan napas memburu. Tinjunya melesat lagi, kali ini tidak mengenai mukaku, dan aku menendang perutnya. Gilang jatuh menghantam meja kaca. Suaranya bak ledakan petir. Botol-botol bergulir dan ikut pecah di lantai, ember es tumpah, percikannya terasa dingin di kakiku, dan orang-orang disekitar mulai menjerit. Gilang murka dan berteriak sambil memegangi lengannya yang berdarah.
"Udah. Udah, Mas," kata salah satu dari satpam yang berjaga malam itu.
Dua tangan besar mencengkram bahuku dan menarik mundur. Bau parfum mahal dan rokok. Aku tidak melawan. Tito dan Agung sudah menarik Gilang berdiri. Mereka kabur meski sudah diteriaki, menghilang lewat pintu darurat dan dikejar beberapa satpam.
Dimas bangun dan muntah.
Mereka menyeretku keluar tanpa kekerasan yang berlebihan, hanya dengan keyakinan orang yang melakukannya setiap akhir pekan. Satpam kedua mengangkat Dimas ke bahunya seperti karung beras. Kami menuruni tangga rendah dan menembus lantai dansa, dan kerumunan terbelah untuk kami seperti air terbelah untuk perahu. Ponsel-ponsel terangkat, kotak-kotak cahaya kecil di tengah kegelapan. Musik tidak berhenti. Itu hal yang paling kuingat: tidak ada yang menghentikan musik. DJ berkacamata hitam tetap mengangguk-angguk pada tempo yang hanya dia dengar.