Notes from the Back Door

Nona April
Chapter #3

Bab #3

Sebelum aku menjadi seseorang yang mengenal jalan menuju klub, aku adalah anak kecil yang mengenal jalan menuju kampus lewat pintu belakang. Perbedaannya lebih tipis daripada yang kaukira. Ibuku bekerja di bagian administrasi sebuah universitas swasta, di sebuah gedung tua berlantai dua dengan koridor panjang dan jendela krepyak yang tidak pernah benar-benar menutup. Setiap sore sepulang sekolah, aku naik angkot dua kali dan turun di gerbang belakang kampus, di sana ada pos satpam yang catnya hijau lumut dan seorang bapak bernama Pak Darto yang selalu menyapaku dengan kalimat yang sama:"Anaknya Bu Yanti sudah pulang sekolah." Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Aku menyukai kampus itu karena kampus itu tidak pernah memintaku menjadi apa-apa. Aku duduk di pojok ruang ibuku, di kursi nya sudah tidak bisa ditinggikan, membuka internet dengan komputer yang ada, masih dengan seragam sekolah, dan bunyi orang-orang dewasa yang mengurus kuliahnya, banyak sekali istilah yang tidak ku pahami, lalu nilainya bukan angka melainkan huruf. Setelah nya aku berkeliaran di sekitar gedung, perpustakan salah satunya. Kadang aku di kantin kampus yang panjang dan selalu rame. Mahasiswa berkumpul, berkeluh-kesah dan kadang aku menguping pembicaraan lucu mereka. Wi-fi kampus yang bagus dan kencang bisa dipakai untuk buka website komik gratis yang populer pada masa itu.

Itu kali pertama yang menyenangkan, tapi juga banyak yang aku pelajari selama memperhatikan sekitar. Aku menyadari di sana bahwa semua orang menggenggam pulpennya erat-erat seperti sedang memegang nyawa, karena seorang mahasiswi kehilangan benda itu, mengobrak-abrik tasnya sambil menenteng banyak kertas. Aku pulang sore itu dengan ide, dan satu ide pada usia sepuluh tahun bisa terasa seperti genius. Keesokan harinya aku membawa lima belas ribu rupiah dari uang jajanku ke toko alat tulis di dekat pasar. Di sana ada satu kemasan isi dua belas pulpen hitam seharga delapan ribu, dan satu kemasan isi dua belas pensil kayu seharga lima ribu. Aku membeli keduanya. Kembaliannya dua ribu, dan aku menyimpannya di saku seragam seperti simpanan negara.

Hari berikutnya, di minggu ujian, aku duduk di ujung bangku kantin dengan sebuah kotak sepatu kecil di pangkuanku dan tulisan di atas kertas yang kutempel dengan selotip: "Pulpen Rp1.500. Pensil Rp1.000."

Pulpen itu seharga lebih dari satu setengah kali modalku. Aku tahu itu waktu itu. Aku tidak tahu istilahnya, tapi aku tahu rasanya: seperti menemukan lubang di pagar dan melewatinya.

Dua belas pulpen itu habis sebelum azan zuhur.

Yang menarik bukan jumlahnya, melainkan caranya. Aku memperhatikan bahwa jika aku duduk dengan wajah ceria dan menawarkan "pulpen, Kak?" orang-orang menolak setengah hati, seperti menolak sales kartu kredit. Tetapi jika aku duduk dengan wajah sedikit lelah, sedikit menunduk, dan hanya berkata "ada pulpen, Kak, kalau butuh", mereka menoleh. Mereka melihat anak kecil yang kelelahan menunggui dagangan, dan itu membuat mereka bersedia mengeluarkan uang tanpa merasa dipaksa. Aku belum paham kenapa. Aku hanya tahu bahwa wajah lelah laku lebih mahal daripada wajah senang.

Hari ini aku bisa menamainya. Waktu itu aku menamainya "trik".

Selama seminggu itu, aku membawa pulang tiga puluh delapan ribu rupiah, lebih banyak dari uang jajan satu bulan. Aku menyimpannya di celengan ayam.

Aku tidak menyadari satu hal. Baru bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah lebih tua dan lebih pahit, aku sadar bahwa Pak Darto selalu "kebetulan" menoleh ke arah lain tiap kali aku membuka kotak sepatuku. Bahwa ibu-ibu kantin yang biasanya galak pada pedagang asongan tidak pernah mengusirku. Bahwa mahasiswa yang membeli pulpenku sering kali tersenyum lebih lama dari yang diperlukan, dan bukan karena aku lucu. Mereka tahu aku anaknya Bu Yanti dari bagian administrasi, orang yang mengurus nilai mereka, jadwal mereka, dan seribu hal kecil yang bisa membuat hidup mereka lebih mudah atau lebih sulit. Dulu aku mengira itu bakat. Itu bukan bakat. Itu pagar yang sudah dilubangi seseorang sebelum aku datang. Tapi waktu itu aku tidak tahu, hanya tahu bahwa aku bisa membaca orang, dan bahwa pembacaan itu bisa ditukar dengan uang.

Lihat selengkapnya