Di rumah kami hanya ada dua orang. Itu fakta yang kuterima sejak kecil seperti kita menerima warna dinding: tidak dipertanyakan, tidak dirayakan, hanya ada. Ibu berangkat pukul tujuh pagi dan pulang pukul lima sore, dan di antara dua waktu itu rumah kami menjadi tempat yang sangat tenang, seperti kapal yang berlabuh sebentar sebelum berlayar lagi. Aku sudah hafal bunyi ibuku pulang: sepatu hak tinggi, kunci yang berputar dua kali karena gemboknya seret, napas panjang yang keluar dari hidung ketika Dia melepas sepatu. Napas itu bukan keluhan. Itu cara ibuku menurunkan hari dari pundaknya. Saat aku masuk SMP, ibu mulai khawatir dengan sore-soreku. Aku tidak bisa lagi ikut ke kantornya setiap hari karena terlalu jauh dari sekolah baruku, dan rumah kosong dari pukul dua sampai pukul lima tidak lagi terasa seperti kebebasan, melainkan seperti lubang. Ibu tidak pernah mengatakannya begitu. Dia hanya suatu malam meletakkan selebaran fotokopian di meja makan, dan di sana tertulis dengan huruf tebal yang bergelombang: "Perguruan Silat Tapak Pelita. Latihan Selasa, Kamis, Sabtu pukul 16:00. Aula Kelurahan."
"Ibu daftarkan kamu," katanya. "Tiga kali seminggu. Biayanya murah."
"Silat?"
"Biar sorenya ada kerjaan."
Aku tidak membantah. Aku jarang membantah ibuku, bukan karena takut, tetapi karena aku sadar sejak dini bahwa ibuku tidak pernah meminta sesuatu tanpa sudah memikirkannya dua kali lebih lama daripada aku. Aula kelurahan itu lantainya berupa tikar plastik yang disambung-sambung, dengan kipas angin di sudut yang bunyinya seperti pesawat ingin lepas landas, dan dinding yang dipenuhi foto-foto pejabat yang sudah tidak menjabat. Bau minyak kayu putih. Di tengahnya berdiri seorang laki-laki yang pada pandangan pertama tampak tidak mungkin menjadi pelatih siapapun.
Namanya Pak Sugeng. Umurnya mungkin enam puluh lima, tubuhnya kurus dan bungkuk di bagian bahu, kulitnya gelap dan mengilap seperti kayu yang sering diusap tangan. Dia memakai baju hitam yang sudah memudar menjadi abu-abu dan celana komprang yang diikat tali. Suaranya pelan sampai kami semua harus diam supaya bisa mendengar, dan itu rupanya bagian dari ajarannya.
Hari pertama, Dia tidak mengajari kami memukul. Dia mengajari kami berdiri.
"Berdiri," katanya, "itu setengah dari silat. Orang yang tidak bisa berdiri dengan benar, mau memukul sekeras apa pun, jatuh sendiri."
Selama dua minggu pertama, kami hanya belajar kuda-kuda. Kakiku gemetar, pahaku terbakar, dan aku sempat berpikir untuk berhenti. Tapi aku tidak berhenti, karena sesuatu dalam diriku, entah sifat keras kepala yang diwarisi dari ibu, entah rasa penasaran, menolak untuk menyerah pada sebuah posisi.
Selama tiga tahun berikutnya, aku belajar banyak hal. Aku belajar menangkis, menghindar, jatuh dengan aman, membaca bahu orang untuk tahu ke mana pukulan akan datang. Aku belajar bahwa tubuh punya ingatan sendiri, dan bahwa ingatan itu bekerja lebih cepat daripada pikiran. Pak Sugeng pernah berkata, sambil menepuk bahuku dengan tangan yang kapalan, "Pikiran itu lambat, Nak. Tubuh yang belajar, tubuh yang selamat."
Aku percaya padanya, dan itu keputusan yang akan kusesali dan kusyukuri dalam jumlah yang sama.
Tapi hal yang paling kuingat dari tiga tahun itu bukan jurus. Itu sebuah kalimat.
Suatu sore menjelang akhir tahun pertamaku, seorang anak laki-laki di kelas yang lebih besar mengajak berkelahi di luar aula. Namanya Aldo, badannya dua kali lipat dariku, dan ia menjadi murid silat hanya agar bisa berkelahi dengan alasan yang sah. Ia memandangku, memandang rambutku yang diikat sederhana, memandang tubuhku yang belum tumbuh, dan tersenyum seperti orang yang menemukan mainan baru.