Nova Nebula: poor child (series 1) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #1

Cahaya Nova

Aroma roti bakar yang gurih bercampur dengan tajamnya wangi kopi hitam adalah melodi pagi yang selalu sama di toko kecil milik Mama Zara. Bagi Aiden, wangi ini adalah jam weker alaminya. Ia berdiri di tengah ruangan yang masih sepi, jemarinya yang kurus menggenggam pinggiran kursi kayu. Dengan telaten, ia memakai celemek cokelat kusam yang sudah menjadi kulit keduanya, lalu mulai menyusun kursi-kursi itu di atas lantai ubin yang dingin.

Sinar matahari pagi yang menembus jendela kaca besar di depan toko memantulkan butiran debu yang menari-nari. Aiden terdiam sejenak, memperhatikan tarian partikel kecil itu yang melayang dalam keheningan, seolah-olah mereka adalah galaksi kecil yang terjebak dalam ruang tamu manusia. Rambutnya yang unik—'berwarna putih kekuningan dengan uraian halus semburat pink di ujung tengah kepala rambutnya'—berkilau terkena cahaya, memberikan kesan seolah ia bukan berasal dari hiruk-pikuk kota ini.

Mama Zara muncul dari balik konter, mengelap tangannya yang sedikit bertepung pada kain lap. Ia terkekeh kecil melihat keseriusan Aiden.

"Aiden, kalau lagi menyusun kursinya tolong pelan-pelan, Sayang. Jangan dijatuhkan begitu. Nanti kaki kursinya retak, pelanggan kita bisa jatuh," tegur Mama Zara lembut, namun matanya memancarkan kasih sayang seorang ibu.

Aiden tersentak dari lamunannya, lalu mengangguk pelan. Di dalam benaknya, Aiden sering kali merasa asing. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari kue. Ia merasa seperti bara api yang hampir mati—redup dan rapuh. Sangat berbeda dengan Zara. Bagi Aiden, Zara adalah kobaran api yang tak pernah padam, sosok yang selalu punya energi untuk membakar kegelapan.

Aiden melirik ke arah dapur, tempat bunyi denting loyang terdengar. "Iya, Mama. Santai saja. Aku hanya sedang melamun," jawab Aiden pendek. "Ingat waktu kita masih kecil? Zara juga selalu bersemangat seperti ini, bahkan sebelum matahari benar-benar bangun."

Sesaat kemudian, sosok yang mereka bicarakan muncul dari balik tirai dapur. Zara keluar dengan langkah tegap, membawa nampan besar berisi deretan kue cokelat yang baru saja matang. Uap panas masih mengepul dari permukaan kue, membawa aroma manis yang memenuhi ruangan. 'Rambut hitamnya yang legam diikat kepang dua', berayun mengikuti gerakannya yang lincah.

"Bagaimana aku bisa lupa?" Zara terkekeh, menaruh nampan itu ke dalam lemari transparan dengan gerakan yang mantap. "Dulu kita sering main petak umpet di taman belakang toko ini sampai baju kita penuh tanah." Matanya yang hitam pekat berbinar-binar, dan sebuah senyum hangat merekah di wajahnya yang cerah. "Walaupun yah, harus diakui, aku yang selalu menjadi pemenangnya karena kamu terlalu mudah ditemukan."

Mama Zara tertawa renyah, menyandarkan sikunya di atas konter. "Kalian berdua ini sudah seperti anak kembar bagi Mama. Selalu bersama, berbagi susah dan senang sejak masih balita."

Aiden menunduk, bibirnya membentuk senyum kecil yang tipis, hampir tak terlihat. Kenangan masa kecil adalah satu-satunya harta karun yang ia miliki. "Zara dulu sering melindungiku dari anak-anak nakal di sekolah. Dia selalu berdiri di depanku seperti benteng," katanya, sebuah pengakuan jujur yang membuat dadanya terasa sedikit sesak.

"Itu karena kamu memang agak lemah, Aiden! Kalau aku tidak ada, mungkin kamu sudah jadi langganan dokter sekolah," sahut Zara tanpa berpikir panjang sambil menepuk bahu Aiden dengan keras.

Ekspresi Aiden langsung berubah sedikit muram. Ia menatap tangannya yang kurus. "Yah... itu memang benar sih," gumamnya pelan. Walau ia tahu Zara tidak bermaksud jahat, kata 'lemah' itu selalu terasa seperti duri yang menusuk identitasnya.

Suasana kembali mencair saat Zara melontarkan lelucon tentang pelanggan yang pernah salah mengira ragi sebagai gula. Aiden merasa ini adalah satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu bersembunyi. Namun, waktu tidak bisa dihentikan. Setelah membersihkan meja terakhir, ia meletakkan celemeknya.

Lihat selengkapnya