Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti kota Jakarta yang bising dengan jubah kegelapan yang pekat. Di dalam ruang tamu sederhana milik Aiden, suasana terasa sangat kontras dengan kesunyian di luar. Lima sosok duduk melingkar di atas karpet tipis yang sudah mulai pudar warnanya. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit ruangan memantulkan bayangan panjang yang tampak gelisah di dinding.
Aiden, Zara, dan Kai masih duduk mematung, telapak tangan mereka sesekali dibuka dan ditutup, seolah masih mencoba merasakan sisa-sisa energi aneh yang tadi meledak dari tubuh mereka. Di tengah lingkaran itu, Nova, si robot televisi kecil, melayang perlahan dengan suara dengung mesin yang halus. Di sudut ruangan yang remang-remang, Ray duduk diam seribu bahasa, tatapannya kosong menembus lantai kayu.
"Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya," suara Nova memecah keheningan, terdengar dingin dan mekanis, "Kalian sekarang bukan lagi manusia biasa. Kalian memiliki akses ke energi kosmik yang kami sebut kekuatan super. Namun, ada satu hal yang harus kalian pahami baik-baik: kekuatan ini tidak sempurna. Ia memiliki cacat yang mematikan."
Lampu pada layar Nova berkedip merah, memberikan kesan peringatan yang mencekam. Aiden menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia meraba ujung rambut putih-pinknya yang masih menyisakan sedikit getaran statis. "Tidak sempurna? Maksudmu apa, Nova? Bukankah kekuatan ini diberikan untuk menyelamatkan orang?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, mencerminkan ketakutan yang mulai merayap di dadanya.
"Semakin sering kalian bertarung dan memaksakan energi itu keluar," lanjut Nova, layarnya kini menampilkan grafik gelombang yang tidak stabil, "Semakin besar kemungkinan inti kekuatan kalian akan tercemar. Ini adalah hukum pertukaran energi di galaksi kita."
Zara mengerutkan keningnya, jemarinya yang masih terampil secara refleks membenarkan letak kepang dua rambut hitamnya. Ada gurat kecemasan yang tersembunyi di balik wajah tangguhnya. "Tercemar? Bagaimana mungkin energi bisa tercemar seperti limbah?"
Nova berputar di udara, layarnya kini menampilkan visualisasi molekul cahaya yang perlahan-lahan berubah menjadi bercak hitam pekat yang menjalar. "Emosi negatif adalah racunnya. Amarah yang meledak, ketakutan yang melumpuhkan, dan kesedihan yang mendalam dapat merusak resonansi inti kekuatan kalian. Emosi-emosi itu akan menempel pada energi positif seperti parasit, lalu perlahan-lahan menggerogoti esensinya hingga tidak ada yang tersisa selain kegelapan."
Kai, yang sejak tadi hanya menyimak sambil mengepalkan tinjunya, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan penuh pertimbangan. "Jadi, maksudmu... setiap kali kita berusaha menjadi lebih kuat untuk melindungi orang lain, kita sebenarnya sedang membuat diri kita sendiri menjadi lebih rapuh?"
"Persis," jawab Nova singkat. "Jika kekuatan kalian tercemar terlalu parah hingga mencapai titik jenuh, kalian akan kehilangan kewarasan. Kalian bisa menjadi jahat, atau bahkan kehilangan kendali total atas tubuh kalian sendiri, berubah menjadi monster energi yang menghancurkan segala sesuatu di sekitar kalian."
Kalimat itu mendarat seperti pukulan telak di ulu hati mereka. Ruangan itu kembali jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan. Pertarungan yang mereka bayangkan di awal—seperti pahlawan dalam komik yang melawan penjahat—kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan: sebuah peperangan melawan sisi gelap diri mereka sendiri. Aiden, yang memang memiliki kecenderungan pesimis, merasakan ketidakberdayaan yang luar biasa. Baginya, ini terasa seperti kutukan daripada anugerah.
"Tapi pasti ada cara untuk mencegahnya, kan? Kita tidak mungkin dibiarkan hancur begitu saja," tanya Kai dengan nada penuh tekad, mencoba mengusir aura keputusasaan di ruangan itu.
"Benar. Ada sebuah solusi teknis," jawab Nova, layarnya kini menampilkan gambar sebuah komponen kecil berbentuk heksagon yang bersinar biru terang. "Kalian membutuhkan 'Chip Reset'. Chip ini berfungsi sebagai filter atau pemurni energi. Ia mampu menyerap polusi emosi negatif dan memurnikan kembali inti kekuatan kalian setelah setiap pertarungan. Tanpa chip ini, kestabilan mental dan fisik kalian tidak akan bertahan lama."
"Jadi setiap musuh yang kita hadapi nanti," Zara menyimpulkan dengan cerdas, "apakah mereka memiliki chip itu?"
"Tepat sekali," kata Nova. "Para penjahat galaksi atau pahlawan yang telah jatuh biasanya menyimpan chip ini dalam perangkat mereka. Kalian harus mengambilnya dari mereka untuk memastikan kekuatan kalian tetap murni. Ini bukan lagi sekadar misi penyelamatan, tapi misi bertahan hidup."
Keesokan harinya, harapan akan pagi yang damai hancur seketika. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu mencekam oleh asap yang membubung tinggi. Aiden sedang berada di halaman kecilnya, mencoba menenangkan diri dengan menyiram tanaman neneknya, saat sebuah ledakan dahsyat mengguncang tanah yang ia pijak. Bunyi dentumannya begitu keras hingga telinga Aiden berdenging.