Di dalam kompartemen kargo pesawat milik Lusilu yang remang-remang, aroma logam dingin dan sisa-sisa ozon dari pertempuran masih terasa menyengat. Aiden, Zara, dan Kai berdiri mengelilingi pria yang baru saja mereka bebaskan. Pria itu, yang kini diketahui bernama Dokter Likton, perlahan-lahan mencoba meluruskan kakinya yang kaku setelah sekian lama terikat di kursi besi yang dingin. Wajahnya tampak pucat pasi, namun matanya memancarkan binar harapan yang belum padam saat menatap para penyelamatnya.
"Terima kasih... demi seluruh galaksi, terima kasih kalian telah membebaskanku dari kegelapan ini," kata pria itu dengan suara serak, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Namaku Dokter Likton. Aku adalah seorang spesialis bio-mekanik dan energi kosmik." Ia tersenyum lemah, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa syukur sekaligus beban rahasia. "Aku tahu siapa kalian... aku sudah memperhatikan kekuatan yang bergejolak di dalam nadi kalian sejak kalian melangkah masuk," sambungnya, matanya tertuju pada kalung dan gelang yang melingkar di leher serta pergelangan tangan mereka.
"Lusilu... dia telah menyekapku di sini selama berbulan-bulan," lanjut Likton sambil mengusap bekas ikatan di pergelangan tangannya. "Dia memaksaku untuk menggunakan ilmuku demi memurnikan kekuatannya yang telah tercemar parah oleh amarah. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa menyelamatkannya lagi. Kekuatannya bukan lagi sekadar energi, tapi sudah menjadi luka yang membusuk."
Dokter Likton bangkit berdiri dengan goyah, tangannya bertumpu pada dinding pesawat yang bergetar pelan. "Kalian harus ikut denganku sekarang juga. Tempat ini tidak lagi aman, dan kalian membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk menghadapi apa yang akan datang. Aku akan membawa kalian ke sebuah tempat di mana kalian bisa mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang menyiksa batin kalian."
Dengan langkah yang masih sedikit menyeret, Dokter Likton membawa mereka menuju kokpit pesawat Lusilu yang luar biasa futuristik. Ruangan itu dipenuhi dengan ribuan panel sentuh transparan yang memancarkan cahaya biru neon. Pesawat itu tiba-tiba menderu pelan, mesin antirasionalnya bekerja dalam keheningan yang anggun. Dalam sekejap, mereka meluncur mulus, menembus lapisan atmosfer Bumi yang biru hingga akhirnya disambut oleh hamparan luas bintang-bintang yang berkilauan di ruang hampa yang abadi.
Di dalam pesawat yang sunyi, hanya diiringi suara dengung sistem navigasi, Dokter Likton mulai menjelaskan kebenaran yang berat. "Setiap kekuatan yang diberikan oleh robot galaksi seperti Nova terikat oleh sebuah kontrak mistis dan teknis," kata Dokter Likton, matanya menatap tajam ke arah Aiden. "Kekuatan ini terhubung langsung dengan—Ji— heh—" Ia tiba-tiba berhenti. Kata-katanya tercekat di tenggorokan, wajahnya mendadak menegang seolah ada sesuatu yang melarangnya bicara lebih jauh.
"Ji apa? Jangan dipotong begitu, Dok!" tanya Kai dengan nada tidak sabar, rasa penasarannya memuncak melihat kegugupan sang dokter.
Dokter Likton menggelengkan kepalanya dengan cepat, mengalihkan pandangannya ke luar jendela pesawat yang menampilkan galaksi yang berputar. "Bukan apa-apa. Lupakan saja," jawabnya singkat, mencoba mengubur kecemasan yang sempat terlihat di matanya.
"Sebagai imbalan atas pengabdian kalian," Dokter Likton kembali pada nada penjelasannya yang lebih formal, "robot tersebut dijanjikan akan mengabulkan satu permintaan apa pun—apa pun itu—jika kalian berhasil memurnikan galaksi dari semua ancaman besar. Sebuah permintaan yang bisa mengubah realitas itu sendiri."
"Permintaan? Maksudnya... kita bisa meminta apa saja? Seperti keajaiban?" tanya Zara dengan mata membelalak, membayangkan kemungkinan untuk memperbaiki segala penderitaan yang pernah ia lihat.