Setelah rentetan penjelasan panjang dan mengejutkan dari Dokter Likton di dalam pesawat antariksa tempo hari, Aiden, Zara, Kai, dan Ray kini berdiri di ambang kenyataan yang baru. Dinginnya lantai kristal 'Aether Isle' menembus sol sepatu mereka, mengingatkan bahwa mereka tidak lagi berada di jalanan Jakarta yang berdebu. Di pundak remaja-remaja ini, kini tersampir beban yang mampu meretakkan tulang: tanggung jawab atas nasib galaksi. Kecemasan yang menyesakkan dada bercampur dengan tekad yang mulai membeku, menciptakan badai emosi di dalam benak mereka masing-masing.
Dokter Likton berdiri tegak di depan mereka, jubah laboratoriumnya yang putih tampak kontras dengan latar belakang nebula ungu di luar jendela akademi. "Kalian telah mengetahui dasar-dasarnya. Kalian sudah tahu bahwa kekuatan ini adalah kutukan sekaligus anugerah," katanya, suaranya bergema di aula luas itu. "Sekarang, saatnya membuktikan apakah kalian hanya sekadar wadah, atau benar-benar pahlawan. Saatnya ujian masuk."
Ia tidak menunggu jawaban. Dalam dunia para pelindung, keraguan adalah celah bagi kematian. "Ujian ini tidak hanya mengukur seberapa besar ledakan yang bisa kalian ciptakan secara fisik. Kami akan menguliti mental kalian, menguji strategi kalian, dan yang paling krusial: melihat apakah ego kalian bisa melebur dalam kerja sama tim," sambungnya.
Sebelum Aiden sempat membuka mulut untuk bertanya, Dokter Likton mengangkat telapak tangannya. Sebuah cahaya keperakan yang menyilaukan meledak dari ujung jarinya, menyelimuti mereka berempat. Kai merasakan pening yang hebat, seolah otaknya sedang ditarik keluar melalui pori-pori kulitnya. Dalam satu kedipan mata yang menyakitkan, pemandangan aula kristal itu lenyap, digantikan oleh cakrawala yang tak terbatas.
Mereka kini berada di dalam 'Simulation Chamber' tingkat tinggi—sebuah arena latihan yang luasnya seolah tanpa batas. Teknologi di tempat ini mampu mengubah atom di sekitar mereka menjadi apa pun yang diinginkan sang penguji. Pemandangan di sekeliling mereka terus berganti dengan kecepatan yang mengerikan; dari padang pasir yang membara, hutan lebat yang lembap, hingga medan perang futuristik yang penuh dengan rongsokan robot. Suara tenang Dokter Likton kembali terdengar melalui sistem audio internal arena. "Ujian ini terdiri dari tiga tahap yang akan menentukan kelayakan kalian: 'Ujian Fisik', 'Ujian Mental', dan 'Ujian Tim'. Semoga beruntung."
'Tahap Pertama: Ujian Fisik'
Suara dingin dari sistem komputer utama bergema, "Ujian Fisik dimulai. Parameter: Ketahanan dan Adaptasi. Persiapkan diri Anda."
Seketika, medan latihan mengeras menjadi padang pasir yang sangat luas. Pasir kuning keemasan sejauh mata memandang, tanpa ada satu pun pohon untuk berteduh. Udara panas yang kering langsung menampar wajah mereka, membuat tenggorokan Aiden terasa seperti terbakar dalam hitungan detik.
"Kalian harus menempuh jarak 500 kilometer melintasi neraka ini. Waktu kalian terbatas. Jika matahari terbenam sebelum kalian sampai, kalian gagal," suara Likton memberi instruksi.