Nova Nebula: poor child (series 1) novel edison

Pikri YAnor
Chapter #5

Batas Pengorbanan

Setelah gempita ujian yang melelahkan itu mereda, atmosfer di 'Aether Isle' sempat berubah menjadi hangat dan penuh harapan. Aiden, Zara, Kai, dan Ray secara resmi telah mengenakan lencana peserta didik Akademi Pelindung Galaksi. Mereka bukan lagi sekadar remaja yang tersesat di antara bintang-bintang, melainkan tunas-tunas pahlawan yang dipersiapkan untuk menjaga keseimbangan semesta. Kebahagiaan sempat membanjiri lorong-lorong akademi yang megah; tawa para murid baru menggema, saling bertukar cerita tentang asal planet mereka, menciptakan ilusi bahwa perang dan kegelapan adalah hal yang jauh.

Namun, di tempat di mana cahaya paling terang bersinar, bayangan pun akan jatuh paling pekat. Kebahagiaan itu menguap hanya dalam hitungan hari, digantikan oleh ketegangan yang merayap dingin di koridor-koridor kristal. Suasana akademi yang awalnya ramai mendadak sunyi, seolah awan badai yang tak terlihat sedang menggantung tepat di atas kepala mereka, menunggu waktu untuk meluapkan petirnya.

Dokter Likton muncul di hadapan tim Aiden dengan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sepuluh tahun lebih tua. "Ada situasi darurat. Seorang peserta didik tingkat menengah bernama Ethan... kekuatannya telah tercemar sepenuhnya," ucapnya dengan suara yang dipenuhi urgensi yang mencekam.

Likton menghela napas panjang, menatap Aiden dengan tatapan yang dalam. "Seperti yang pernah kuberi tahu di pesawat dulu, kekuatan Nova adalah pedang bermata dua. Ethan mengalami guncangan psikologis yang hebat akibat perundungan sistematis yang ia alami di masa lalu, sebelum ia sampai di akademi ini. Trauma itu tidak pernah sembuh; ia hanya terkubur. Dan sekarang, trauma itu telah bermutasi menjadi polusi energi yang menggerogoti kewarasannya. Kekuatannya kini tidak lagi berada di bawah kendalinya."

Kata-kata Likton menghantam Aiden tepat di ulu hati. Ia merasakan koneksi yang aneh, sebuah resonansi pahit yang muncul dari lubuk jiwanya. Aiden tahu betul rasanya menjadi samsak hidup bagi kebencian orang lain. Ia ingat rasa amis darah di bibirnya saat dihajar OSIS, rasa lapar yang melilit karena kemiskinan, dan bagaimana ejekan bisa membuat seseorang merasa lebih kecil dari debu. Bagi Aiden, Ethan bukan sekadar "kasus medis", melainkan cermin dari dirinya sendiri jika ia kehilangan pegangan.

Tanpa instruksi lebih lanjut, Aiden, Zara, Kai, dan Ray bergerak. Mereka tidak butuh radar untuk menemukan Ethan; jejak kehancuran yang ia tinggalkan sudah cukup menjadi penunjuk jalan. Dinding-dinding lorong akademi yang biasanya berkilau kini retak seribu, pintu-pintu baja bengkok seolah diremas oleh tangan raksasa, dan bau hangus dari sirkuit yang meledak memenuhi udara. Kekacauan ini adalah teriakan minta tolong yang divisualisasikan dalam bentuk kerusakan fisik.

Mereka akhirnya menemukan Ethan di sebuah ruang latihan simulasi yang terisolasi. Ruangan itu kini menyerupai lubang hitam; diselimuti kabut aura gelap yang begitu pekat dan dingin hingga membuat bulu kuduk berdiri. Ethan berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh serpihan kaca yang melayang-layang secara aneh. Wajahnya murung, namun matanya memancarkan amarah yang merah menyala—sebuah tatapan yang sudah kehilangan cahaya kemanusiaan.

"Ethan, hentikan! Kami datang untuk membantumu!" Zara berseru, melangkah maju dengan hati-hati. Suaranya yang lembut mencoba memecah kabut kegelapan itu, penuh dengan empati yang tulus.

"Membantuku?" Ethan tertawa, suara tawa yang kering dan pecah, seolah pita suaranya telah rusak oleh kebencian. "Untuk apa? Kalian pikir kalian siapa? Kalian baru di sini, masih suci, masih penuh harapan kosong. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya setiap hari terbangun hanya untuk dihina, direndahkan, dan dibuang seperti sampah! Kalian tidak akan pernah mengerti!"

Aiden merasakan setiap kata Ethan seperti pisau yang mengiris lukanya sendiri. Ia ingin berteriak bahwa ia mengerti, bahwa ia juga pernah berada di titik terendah itu, namun lidahnya terasa kelu.

Lihat selengkapnya