Suasana di seluruh penjuru 'Aether Isle' mendadak berubah menjadi sangat berat, seolah oksigen di tempat itu telah berganti menjadi timah yang menekan paru-paru. Malam telah jatuh sepenuhnya, menyelimuti gedung-gedung kristal dengan kegelapan yang pekat dan dingin. Cahaya bintang-bintang di luar sana yang biasanya tampak indah, kini terasa seperti mata-mata yang menatap dingin ke arah panggung tragedi yang baru saja usai. Meskipun sisa-sisa debu dari ledakan kekuatan Ethan telah mengendap, trauma yang tertinggal masih bergetar hebat di udara, menghancurkan ilusi keamanan yang selama ini dipelihara oleh akademi.
Para instruktur senior telah turun tangan dengan efisiensi yang mengerikan. Pertarungan antara para guru dan Ethan bukanlah sebuah duel, melainkan sebuah eksekusi taktis yang sistematis. Ethan, meski tubuhnya telah menjadi inang bagi emosi negatif yang meluap-luap, tetap menunjukkan perlawanan yang luar biasa. Ia menciptakan lusinan bayangan dirinya sendiri melalui 'Mirror Power Image', menggandakan kekuatan destruktifnya hingga ruangan itu berguncang hebat. Ia menyerang dengan raungan amarah yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia, melainkan suara badai yang merobek langit. Namun, kemarahan yang buta tidak bisa mengalahkan ketenangan yang dingin. Akhirnya, Kepala Sekolah Orion sendiri yang melangkah maju. Dengan satu gerakan yang presisi dan tanpa ragu, ia melumpuhkan Ethan. Remaja malang itu terkapar di lantai, napasnya tersengal, dan matanya mulai kehilangan fokus.
Orion berdiri tegak di samping Ethan yang sudah tak berdaya. Tidak ada kebencian di wajahnya, hanya ekspresi berat yang kaku, seolah ia sedang melakukan tugas administratif yang tidak menyenangkan. Dengan tangan yang stabil, Orion mengambil paksa chip reset dari kalung yang melingkar di leher Ethan. Ia menekan panel aktivasi pada kacamata khusus yang dikenakan Ethan—sebuah alat bantu fokus kekuatan—dan seketika, sebuah cahaya biru redup yang menyedihkan keluar dari sana. Chip itu ditarik keluar, dan dalam sekejap, binar kehidupan di mata Ethan padam sepenuhnya. Tubuhnya menjadi kaku, lalu terkulai layu tanpa nyawa.
"Ini harus dilakukan," kata Orion dengan nada yang nyaris tidak terdengar, seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri sekaligus memberikan justifikasi kepada semesta. "Demi keselamatan semua. Demi keteraturan galaksi."
Aiden dan kawan-kawannya membeku di tempat. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana chip reset milik Ethan—yang kini berisi seluruh esensi kekuatan dan sisa-sisa memorinya—disimpan ke dalam kotak logam sebagai "cadangan" untuk pemurnian di masa mendatang. Tindakan itu terasa sangat pragmatis di mata akademi, namun bagi Aiden, itu adalah tindakan yang paling dingin dan kejam yang pernah ia lihat. Ethan bukan lagi seorang manusia atau pahlawan; ia telah direduksi menjadi sekadar suku cadang.
Beberapa jam kemudian, di dalam penginapan akademi yang sunyi, Aiden, Zara, Kai, dan Ray berkumpul di ruang tamu. Keheningan yang menyelimuti mereka terasa lebih pekat dan menyesakkan daripada suara ledakan terhebat sekalipun. Cahaya lampu ruangan yang temaram memantulkan wajah-wajah yang hancur oleh trauma.
"Kenapa... kenapa harus berakhir seperti ini?" Aiden akhirnya memecah keheningan. Suaranya parau, pecah oleh emosi yang tertahan. Ia menatap kedua telapak tangannya yang masih gemetar hebat. "Kenapa kita harus mengambil nyawa seseorang hanya karena dia sedang menderita? Hanya karena dia punya masalah mental yang tidak bisa dia kendalikan?"
Ada kepahitan yang mendalam dalam setiap kata yang diucapkannya. Ia teringat bagaimana Ethan berteriak tentang rasa sakitnya, dan bagaimana jawaban dari akademi adalah kematian.
"Ini tidak benar. Ini sama sekali tidak benar. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkannya tanpa harus membunuhnya," kata Zara. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi kerah seragamnya. Ia memeluk lututnya erat-arat, tubuhnya gemetar karena shock. Ia tidak bisa menerima bahwa tempat yang ia anggap sebagai rumah baru ternyata memiliki sisi segelap ini.