Malam di 'Aether Isle' seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Aiden, kegelapan adalah pintu menuju neraka pribadinya. Begitu ia memejamkan mata, kesadarannya tersedot ke dalam pusaran visi yang mengerikan. Ia tidak lagi berada di kamarnya yang nyaman; ia berdiri di pusat kehancuran kosmik. Di langit yang pecah, bintang-bintang tidak lagi bersinar terang, melainkan meledak satu per satu dalam kilatan supernova yang memekakkan telinga sebelum akhirnya padam menjadi abu dingin. Planet-planet retak terbelah menjadi jutaan serpihan batu yang melayang tanpa arah.
Pemandangan yang paling mengerikan adalah makhluk-makhluk yang ia lihat. Manusia, alien dari berbagai ras, hingga entitas bercahaya, semuanya telah kehilangan akal sehat mereka. Kulit mereka membusuk oleh aura gelap, mata mereka meluap dengan kebencian dan trauma—sebuah manifestasi fisik dari emosi negatif kekacauan yang disebutkan Nova. Mereka saling mencakar, menjerit dalam penderitaan yang tak berujung, sebelum akhirnya mati satu per satu menjadi tumpukan debu hitam yang tertiup angin hampa.
Di tengah padang puing-puing peradaban itu, Aiden melihat dirinya sendiri. Ia berlutut di atas tanah yang hangus, mendekap tubuh Zara yang bersimbah cahaya pucat. Zara terbaring sekarat, napasnya tersengal-sengal, namun di tangannya yang gemetar, ia memegang sebuah Chip Reset yang bersinar redup—satu-satunya benda yang masih memiliki warna di dunia yang sekarat itu.
"Aiden... ambil ini. Ini satu-satunya cara... untuk mengembalikan semuanya... untuk memperbaiki apa yang telah rusak..." kata Zara dengan suara yang nyaris hilang tertelan badai.
Air mata Aiden jatuh, membasahi wajah Zara yang pucat. "Tidak, Zara! Aku tidak mau! Aku tidak bisa kehilangan kamu! Jika dunia ini harus selamat dengan mengorbankanmu, lebih baik dunia ini hancur saja!" teriaknya penuh keputusasaan.
"Lakukanlah, Aiden... penuhi kontrakmu... ini satu-satunya harapan yang tersisa bagi alam semesta..." kata Zara, matanya memancarkan tekad yang begitu suci hingga menusuk jiwa Aiden. Perlahan, genggaman tangan Zara mengendur, dan sebuah cahaya kecil memancar dari chip tersebut, menelan seluruh pandangan Aiden.
Aiden tersentak bangun dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang, dan keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya hingga seprai tempat tidurnya terasa lembap. Ia mencengkeram dadanya, berusaha memastikan bahwa ia masih bernapas. Mimpi itu... itu bukan sekadar bunga tidur. Detailnya terlalu tajam, rasa sakitnya terlalu nyata. Ada firasat buruk yang mencengkeram ulu hatinya, sebuah peringatan gaib bahwa masa depan yang ia lihat adalah kemungkinan yang sedang mengintai di balik bayang-bayang.
Pagi harinya, suasana akademi tampak normal, sebuah kontras yang menyakitkan bagi Aiden. Kai mengetuk pintu kamarnya dengan semangat yang biasanya. "Aiden! Ayo bangun, sobat! Kita sudah hampir terlambat untuk kelas pertama Guru Lumari," kata Kai dari balik pintu. Aiden berusaha keras menyembunyikan getaran di tangannya. Ia menarik napas panjang, membasuh wajahnya, dan melangkah keluar mengikuti Kai dengan langkah yang terasa berat.
Di ruang kelas yang luas dan berteknologi tinggi, seorang alien dengan penampilan yang sangat unik sudah menunggu. Ia memiliki fitur wajah yang halus dan feminin, rambut panjang berwarna perak yang berkilau, namun mengenakan jubah instruktur dengan wibawa yang luar biasa. "Selamat pagi, para tunas pahlawan. Saya Guru Lumari. Saya yang akan menempa kekuatan kasar kalian menjadi senjata yang presisi," katanya dengan suara yang lembut namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan.