Pesawat patroli kecil milik akademi itu membelah kesunyian ruang angkasa, meluncur melewati gumpalan nebula yang berwarna-warni. Di dalam kokpit yang biasanya tenang, suasana mendadak berubah ketika layar hologram utama berkedip-kedip, memancarkan sinyal frekuensi internal akademi. Perlahan, sesosok remaja laki-laki muncul dalam proyeksi cahaya biru transparan. Ia adalah Zin, salah satu siswa tingkat menengah di Akademi Pelindung Galaksi yang dikenal berasal dari sistem tata surya pinggiran.
Wajah Zin di hologram itu tampak sangat letih; kantung mata yang menghitam dan garis-garis kecemasan di dahinya menceritakan beban yang sedang ia pikul. "Aiden, Zara, Kai, Ray... syukurlah sinyal ini tersambung," kata Zin dengan suara yang sedikit parau. "Kudengar kalian sedang melakukan patroli perdana di sektor galaksi sekitar. Jika kalian benar-benar ingin belajar bagaimana menyelesaikan masalah yang nyata—masalah yang tidak diajarkan di simulasi ruang kelas—kalian harus mengubah koordinat kalian. Pergilah ke planet Lukas. Di sanalah rumahku, tempat aku dibesarkan."
Aiden mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan dari arsip data yang pernah ia baca di perpustakaan digital akademi. "Planet Lukas? Namanya terdengar familiar, tapi data di arsip sangat terbatas," sahut Aiden. "Ada apa di sana, Zin? Kenapa suaramu terdengar seolah duniamu sedang runtuh?"
Zin menghela napas berat, matanya menatap kosong ke arah kamera transmisi. "Dulunya, Lukas adalah perhiasan di sektor ini. Sebuah surga hijau dengan lautan yang jernih dan hutan yang menyentuh awan. Tapi sekarang... Lukas hanyalah bayangan dari dirinya yang dulu. Sumber dayanya diperas habis-habisan oleh segelintir orang, pencemaran udara sudah mencapai tingkat yang mematikan, dan korupsi telah mendarah daging hingga ke sistem saraf pemerintahan kami. Diskriminasi ras juga menjadi luka yang menganga; mereka yang tidak memiliki kekuatan atau berasal dari kasta rendah diperlakukan lebih buruk daripada mesin."
Zin berhenti sejenak, wajahnya mengeras karena amarah yang tertahan. "Sebagian besar pemimpin korup memang sudah ditangkap oleh intervensi galaksi sebelumnya, tapi ular itu belum benar-benar mati. Masih ada beberapa pemimpin bayangan yang memegang kendali di balik layar, menghisap sisa-sisa kehidupan dari planet kami."
Informasi dari Zin seperti petir yang menyambar benak Aiden. Ia teringat kembali pada mimpi buruknya tentang planet yang gersang dan penuh tangisan. Getaran ketakutan itu muncul lagi, namun kali ini bercampur dengan rasa keadilan yang membara. Ia menoleh ke arah teman-temannya. Zara tampak menggigit bibirnya, Kai mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih, dan Ray menatap layar dengan tajam seolah sedang memindai kebenaran di balik kata-kata Zin.
"Aku rasa kita tidak punya pilihan. Kita harus pergi ke sana," kata Aiden dengan nada tegas yang jarang ia gunakan. "Zin benar, ini adalah masalah nyata. Dan jika kita diam saja, kita tidak lebih baik dari para penindas itu."
Tanpa membuang waktu, Aiden menghubungi jalur komunikasi khusus Guru Lumari. Setelah menjelaskan situasi dan permintaan Zin, Guru Lumari terdiam cukup lama di seberang transmisi. "Aku sudah memantau krisis di planet Lukas dari jauh," suara Lumari terdengar berat. "Situasi di sana sangat tidak stabil. Itu bukan lagi sekadar patroli, itu adalah zona konflik aktif. Kalian diizinkan pergi untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan penegakan hukum, tapi ingat pesanku: berhati-hatilah. Kegelapan di planet Lukas bisa menelan siapa saja yang lengah."