Setelah debu pertempuran di planet Lukas mengendap dan chip reset Bimikus telah diamankan dalam wadah sterilisasi energi, Aiden dan teman-temannya kembali ke pelukan cakrawala 'Aether Isle'. Pesawat mereka mendarat dengan halus di hanggar akademi, disambut oleh semilir angin buatan yang sejuk dan aroma bunga-bunga kosmik yang menenangkan. Suasana di akademi terasa jauh lebih tenang dan damai dibandingkan terakhir kali mereka berangkat, menciptakan kontras yang nyaris menyakitkan dengan pemandangan planet Lukas yang gersang, penuh polusi, dan air mata.
Guru Lumari sudah menunggu di dek kedatangan dengan jubah peraknya yang berkilau tertimpa cahaya bintang. Senyum tipis yang sarat akan wibawa tersungging di wajahnya yang halus. "Kalian telah melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa di planet Lukas. Menghadapi pahlawan yang jatuh seperti Bimikus bukanlah perkara mudah bagi murid tingkat dasar," katanya dengan nada bangga yang tulus. "Kalian tidak hanya membawa pulang chip, tapi kalian telah memberikan harapan pada orang-orang yang sudah lama melupakannya."
Aiden, Zara, dan Kai merasa dada mereka membusung karena lega. Keberhasilan misi pertama ini seolah menjadi perekat yang membuat tim mereka terasa semakin solid, sebuah ikatan yang ditempa dalam panasnya konflik nyata. Namun, di tengah euforia dan pujian itu, Aiden menyadari ada satu titik gelap yang tidak selaras. Ray.
Remaja alien itu tampak jauh lebih pendiam dan murung dari biasanya. Jika sebelumnya Ray memang dikenal sebagai sosok yang tertutup, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ia sering menyendiri di sudut-sudut perpustakaan yang gelap atau berdiri berjam-jam di balkon penginapan, menatap kosong ke arah nebula yang berputar di kejauhan. Senyumnya—jika ia terpaksa melakukannya—tidak pernah lagi mencapai matanya yang tajam. Ia seperti raga yang berjalan tanpa jiwa yang utuh di dalamnya.
Saat waktu libur akademi tiba, Aiden, Zara, dan Kai berusaha keras untuk mencairkan suasana. Mereka tahu bahwa trauma misi pertama bisa berakibat fatal jika dipendam sendiri. Di ruang rekreasi yang luas, mereka mengajak Ray bermain 'game' simulasi taktis, melempar lelucon-lelucon konyol tentang tingkah laku robot-robot di planet Lukas, dan melakukan aktivitas ringan lainnya. Aiden, Zara, dan Kai tertawa terbahak-bahak saat Kai kalah dalam permainan, namun Ray hanya memberikan respons minimal. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah gestur formalitas yang hampa, dan terlihat sama sekali tidak bersemangat.
"Ray, ada apa?" tanya Aiden tiba-tiba, menghentikan tawanya dan menaruh kontroler permainannya. Ruangan itu mendadak sunyi. "Kau terlihat... berbeda belakangan ini. Kau murung, Ray. Apa ada hubungannya dengan Bimikus?"
Ray terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung lengan seragamnya. "Tidak apa-apa, Aiden," jawab Ray, suaranya sangat pelan, nyaris seperti bisikan yang tertelan udara. "Aku hanya sedikit lelah. Mungkin efek dari radiasi badai asam di Lukas kemarin."
Namun, insting Aiden berteriak sebaliknya. Ia merasa ada sesuatu yang besar dan gelap yang sedang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Ia merasakan keberadaan bayangan keruh yang menyelimuti aura Ray, sebuah rahasia yang ia kunci rapat-rapat dari semua orang, bahkan dari Nova sekalipun.
Malam itu, kegelisahan Aiden bermanifestasi menjadi mimpi yang sangat personal dan menyakitkan. Ia tidak lagi melihat bintang yang meledak, melainkan kembali ke rumah masa kecilnya yang sederhana. Di depannya, sang ayah berdiri dengan tegap. Ayahnya tersenyum padanya, sebuah senyum penuh cinta dan kehangatan yang selama ini Aiden rindukan di tengah dinginnya ruang angkasa. Namun, tanpa sepatah kata pun, ayahnya berbalik dan berjalan menuju sebuah portal piksel yang bercahaya biru elektrik di sudut ruangan.